Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dahanapura, si Kota Api, Ibu Kota Kerajaan Kediri

adi nugroho • Jumat, 31 Desember 2021 | 17:02 WIB
dahanapura-si-kota-api-ibu-kota-kerajaan-kediri
dahanapura-si-kota-api-ibu-kota-kerajaan-kediri


Jalan Dhoho identik dengan keramaian dan perekonomian. Jalan ini juga punya nilai historis yang tinggi. Bahkan, merupakan pusat peradaban sejak zaman kerajaan.


 


Jalan Dhoho-demikian Pemerintah Kota Kediri menuliskan nama jalan paling terkenal di Kediri ini-bisa bercerita tentang banyak hal. Jalan ini menjadi sentra perekonomian di kota seluas 63,4 kilometer persegi ini. Jalan sepanjang ‘hanya’ 750  meter ini dipenuhi oleh deretan pertokoan. Kemudian, bila hari berganti malam, deretan toko-toko itu akan digantikan oleh untaian para pedagang kaki lima. Mereka menjajakan makanan khas Kediri, pecel plus sambel tumpangnya, serta nasi goreng Kedirian. Nasi goreng yang dimasak di atas anglo dengan bahan bakar arang.


Namun, di luar semua itu, Jalan Dhoho juga bisa bercerita banyak. Terutama bagaimana peradaban Kediri terbentuk. Karena di jalan ini sebenarnya terletak sentra peradaban di kota yang dibelah Sungai Brantas ini.


“Jalan Dhoho banyak meninggalkan fakta sejarah,” cetus Imam Mubarok, wakil ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur, saat mengikuti diskusi yang digelar Jawa Pos Radar Kediri di Pendapa Hotel Bukit Daun (28/12).


Fakta sejarah itu bukan hanya berasal dari zaman Kerajaan Kediri saja. Namun merangkai hingga era kolonial. Bahkan, di masa pra dan pasca-kemerdekaan, jalan yang bermula dari pertemuan Jalan Basuki Rahmad-Hayam Wuruk-Brawijaya dan berakhir di perempatan Sumurbor ini juga punya sumbangan sejarah yang tak kalah penting.


Nama Jalan Dhoho tak lepas dari kata Dahanapura. Secara harfiah kata ini bermakna Kota Api. Dahanapura inilah yang berperan sebagai ibu kota negara pada masa kerajaan.


“Nama itu (Dahanapura, Red) jadi milik Kota Kediri,” ucapnya.


Untuk mempercantik kawasan tersebut, dia mengusulkan ada bangunan gerbang besar yang menunjukkan ikon Jalan Dhoho. Bangunannya bisa bertuliskan Dahanapura. Karena sudah lekat dengan Kota Kediri maka nama itu selayaknya terus dipopulerkan.


Abu Muslich, ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Kediri punya pemikiran seragam. Dia mengingatkan pentingnya merawat peninggalan sejarah dan budaya. Terutama yang kini menjadi nama-nama tempat di wilayah Kota Kediri seperti halnya Jalan Dhoho.


Baginya, merekonstruksi bentuk Kota Kediri bukan sesuatu yang sulit. “Pelacakannya bisa dilakukan dengan metode toponimi yang ada sampai saat ini,” katanya.


Selain Jalan Dhoho,  nama-nama tempat di Kota Kediri seperti Bangsal dan Balowerti, juga bisa ditemui di daerah lain seperti Jogjakarta dan Surakarta (Solo). Ini menguatkan tentang muatan sejarah yang menumpanginya.


Bahkan ketika pelacakan ke Kelurahan Bangsal, Abu Muslich mengatakan warga di sana mengaku sempat menemukan bekas bangunan yang disusun dari bata merah berukuran besar. Tetapi, sekarang, sudah tidak bisa ditemukan lagi. Pengakuan warga, bata-bata itu kini sudah terpendam. Hilangnya peninggalan itu disayangkan Abu karena menghilangkan jejak sejarah.


Sesuai namanya, Abu menjelaskan, Bangsal merupakan tempat raja melakukan kegiatan kerajaan. Termasuk tempat untuk kegiatan upacara kerajaan. Selain Bangsal juga ada Balowerti yang menunjukkan makna sebagai tembok kerajaan. (rq/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #budaya #jalan dhoho #kediri #info kediri #kebudayaan #info terkini #berita kediri