Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kepang Lebih Besar, Rampokan Paling Ditunggu

adi nugroho • Selasa, 28 Desember 2021 | 16:57 WIB
kepang-lebih-besar-rampokan-paling-ditunggu
kepang-lebih-besar-rampokan-paling-ditunggu

Jaranan di Kelurahan Kemasan, Kota Kediri punya ciri khas tersendiri. Terutama dari sisi cerita yang berdasar pada legenda Dyah Ayu Putri Songgolangit dari Kerajaan Kediri. Cerita ini yang menjadi pakem pertunjukkan Jaranan Kediren.


Ada empat adegan mewakili kisah tersebut selama pertunjukan. Dimulai dari prajurit penunggang kuda, topeng ganongan, celengan, dan terakhir rampokan.


Di adegan pertama, prajurit penunggang kuda, mereka akan memainkan beragam tarian. Mulai dari loncat gagak hingga sirig. Satu hal yang membuat jaranan Kediren berbeda dari jaranan lain adalah bentuk kuda yang ditunggangi penari.


“Yang membedakan jaranan Kediri itu bentuk kepangnya,” aku Mohammad Hanib.


Ketua Paguyuban Jaranan Kota Kediri pada 2006 silam ini mengatakan, ukuran kepala kudanya lebih besar. Lebar kepalanya bisa 120 sentimeter. Sama dengan ukuran badan kepang. Sedangkan jaranan lain kepangnya bisa lebih kecil.


Setelah adegan para prajurit berkuda, penampilan berikutnya adalah topeng ganongan. Dalam cerita Putri Songgolangit, ganongan adalah adiknya yang bernama Raden Tubagus Putut. Saat menyaru menjadi masyarakat biasa, Tubagus Putut ini melamar menjadi prajurit di Kerajaan Bantar Angin.


Kemampuannya di atas rata-rata prajurit lain membuatnya diangkat sebagai Patih Pujangga Anom oleh Prabu Kelono Swandono. Ketika mengetahui kakaknya, Songgolangit, hendak menikah, Raden Putut berinisiatif menjodohkannya dengan Prabu Kelana dari Kerajaan Bantar Angin.


“Pujangga Anom ini diutus Prabu Kelana untuk menghadap ke Kerajaan Ngurawan yang dipimpin ayahnya Prabu Amiseno,” lanjut Hanib.


Celakanya, penyamaran Tubagus Putut memakai topeng ketahuan oleh ayahnya. Karena dikira akan melamar kakak kandungnya, Raja Ngurawan itu murka. Prabu Amiseno lalu mengutuk putranya. Topeng ganongan yang dipakai tidak bisa lepas dari wajahnya. Setelah dikutuk, Pujangga Anom lalu menemui kakaknya. Menjelaskan kedatangannya hanya sebagai utusan rajanya, Prabu Kelana Sewandono untuk melamar Sanggalangit.


Dari situlah, Putri Sanggalangit mengeluarkan sayembara. Yang berhak mempersuntingnya sebagai permaisuri adalah mereka yang bisa membuat titian yang tidak berpijak pada tanah. Lalu, yang bisa membuat tontonan yang belum ada di jagat. Bila digelar bisa meramaikan jagat, serta pengarak pengantin menuju Kediri harus lewat bawah tanah yang diiringi dengan tetabuhan.


“Semua cerita itu dirangkum pada adegan topeng ganongan,” ujar bapak satu anak itu.


Setelah sayembara diluncurkan, mulailah adegan ketiga, yakni celengan. Pada sesi ini, munculah perselisihan antara satu raja dengan dengan raja lainnya.


Adegan terakhir biasanya paling ditunggu penonton. Namanya rampokan. Ceritanya, Pujangga Anom dicegat di perjalanan oleh Prabu Singa Barong dari Lodoyo. Terjadilah peperangan yang membuat Singa Barong kalah. Kisah ini diwujudkan dalam tarian rampokan. Semua pemain, biasanya di akhir tarian itu, banyak yang trans alias tidak sadar. Mereka kemudian disadarkan melalui ritual khusus.(rq/fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #berita terkini #budaya #kediri #info kediri #info terkini #jaranan #seni #kesenian #berita kediri