Ketekunan Santoso membudidaya ikan cupang membuahkan hasil. Dari tangan dinginnya, ikan cupang yang dibiakkan berhasil menembus pasar Eropa dan Amerika. Omzet penjualannya tembus sampai Rp 1,5 miliar.
REKIAN, Kota, JP Radar Kediri
Santoso tinggal di Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren. Pria 50 tahun itu sudah menggeluti usaha ikan hias, khususnya cupang sejak 15 tahun silam. Dari yang awalnya iseng, lulusan Pendidikan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang (UM) ini ikut memberi pengaruh lingkungan di tempat tinggalnya. “Awal-awal tidak pernah membayangkan bisa seperti ini,” kata Santoso saat ditemui di kolam pembibitanya, Selasa lalu (7/12).
Siang itu, sekitar pukul 13.00, pria yang mengenakan topi dan berkaus putih bergambar ikan cupang itu tampak santai memeriksa kodisi bibit ikannya yang ada di dalam kolam berukuran 3,5 x 2,5 meter.
Pertama kali buka usaha ikan cupang, Santoso hanya punya tiga kolam. Kini sudah berkembang menjadi 19 kolam dengan ukuran berbeda. Paling kecil hanya 1 x 1 meter. Kolam-kolam itu difungsikan untuk tempat pembibitan. “Pertama budidaya ikan, pakai tiga kolam,” ucapnya.
Dimulai sejak 2006, usahanya tidak semulus seperti sekarang. Santoso juga kerap kena tipu. Ikan yang dia beli sering tidak bisa bertahan lama. Bahkan, dia pernah kehabisan modal hanya untuk tambal sulam ikan cupangnya. Pertama kali, dia membutuhkan modal Rp 5 juta. Selain beli indukan ikan juga perlu fasilitas berupa kolam. “Saya belajar otodidak,” akunya.
Tidak hanya bekal pengalaman. Dia juga belajar dari internet tentang ikan cupang tersebut. Untuk menambah wawasannya tentang ikan cupang, dia bergabung dengan komunitas ikan hias cupang. Dampaknya, pengalamannya terus berkembang dengan ikut berbagai komunitas.
Misalnya ketika ikut event dan kontes cupang se-Indonesia. Santoso tidak pernah absen. Baginya, kontes ikan cupang akan menambah kekayaan pengetahuannya tentang kualitas ikan yang dibutuhkan di pasaran. Karena rajin ikut kontes, ikan Santoso pernah menang di Jerman pada 2017.
Dari sana, ikan cupang miliknya mulai merambah pasar luar negeri. Di Eropa, negara yang dituju sudah sampai Italia, Spanyol dan Prancis. Bahkan, sekarang sudah pula sudah menjamah ke Amerika Serikat. “Saya menjual secara online, dibantu komunitas yang berpusat di Jakarta,” ungkap Santoso sambil menunjukkan percakapannya di media sosial dengan calon pembeli.
Meski tidak menguasai bahasa asing, dia mengaku cukup terbantu dengan adanya google translate. Satu ikan, ketika dijual ke luar negeri harganya bisa lima dolar Amerika Serikat. Sedangkan untuk Asia seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura harga ketika dirupiahkan hanya Rp 50 ribu. Karena pasarnya sudah besar, tempatnya kini kerap dijadikan sebagai rujukan anak sekolah kejuruan untuk praktik.
Meski tidak bisa mengajar di sekolah, Santoso merasa lega bisa memberi ruang belajar bagi siswa sekolah kejuruan. Situasi itu mengobati kecintaannya pada dunia pendidikan. Bukan saja memberi ruang belajar bagi siswa kejuruan konsentrasi perikanan tetapi menyediakan jasa konsultasi gratis bagi pembeli yang ingin mengembangkan ikan cupang. “Sudah banyak pembeli yang datang dan konsultasi. Semoga saja mereka berhasil,” ungkapnya.
Dari kerja kerasnya itu, dalam setahun omzetnya bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Usahanya kini sudah bisa menghasilkan rumah dan mobil. “Itu tahun tahun lalu. Sekarang fluktuatif. Apalagi ada pembatasan penjualan ini memengaruhi pendapatan,” ungkapnya.
Meski sudah berpenghasilan miliaran rupiah dalam setahun, Santoso tidak pernah meninggalkan pekerjaan rutinnya. Yakni setiap hari membersihkan kolam pembibitan. Sedangkan ikan yang ada di dalam toples dan bekas botol air mineral dibersihkan setiap tiga hari. Karena tidak bisa meninggalkan ikan cupangnya, Santoso kini berhenti bekerja di Pabrik Gula (PG) Pesantren berstatus karyawan dengan perjanjian kerja swaktu tertentu (PKWT). (baz)
Editor : adi nugroho