Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sering Rugi, Bejo Sulap Sawah Jadi Kolam

adi nugroho • Senin, 29 November 2021 | 19:06 WIB
sering-rugi-bejo-sulap-sawah-jadi-kolam
sering-rugi-bejo-sulap-sawah-jadi-kolam


Di antara ribuan peternak ikan di Kabupaten Kediri, bisa dibilang Bejo Suryadi adalah dedengkotnya. Pria asal Desa Punjul, Plosoklaten ini menjadi peternak ikan sejak 1998 silam. Adalah ‘kegagalannya’ dalam bertani yang membuatnya nekat beralih menjadi peternak ikan.


          “Tahun 19997 lalu saya mengubah sawah menjadi kolam ikan,” kenang Bejo ditemui di kolamnya Sabtu (27/11) lalu. Sebelumnya Bejo memang bertani di sawahnya seluas sekitar 100 ru. Menanam padi menjadi pilihannya. Tetapi, lambat laun dia menyerah menghadapi hama tikus yang merajalela.


          Gagal panen yang sering dialami membuatnya nekat mengubah sawahnya menjadi kolam ikan. Tak hanya dirinya, sekitar 70 persen warga Desa Punjul juga menekuni pekerjaan sebagai peternak ikan.   


          Seperti peternak baru lainnya, pria berusia 51 tahun itu tidak bisa langsung sukses. Pertama kali menjadi peternak, dia memutuskan memelihara ikan nila hitam. Tetapi, karena hambatan cuaca, ikan nila peliharaannya banyak yang mati. “Kondisi di Punjul memang tidak cocok kalau untuk nila hitam. Dan mungkin juga kurang tepat dalam pemeliharaan,” lanjutnya.


          Setelah berdiskusi dengan sesama peternak, dia memutuskan ganti memelihara ikan komet dan koi. Setelah sempat merugi dengan jumlah yang tak sedikit, Bejo menemukan hoki beternak di dua jenis ikan itu. Hingga sekarang pun dia masih konsisten memelihara ikan hias tersebut.


          Selebihnya, Bejo juga sedikit memelihara ikan nila merah yang tergolong ikan hias. “Sejauh ini berkembang. Tidak ada masalah yang berarti,” tuturnya tersenyum senang.


          Diakui Bejo, dalam beternak ikan dirinya juga beberapa kali menghadapi masalah. Misalnya, ikan peliharaannya pernah hilang dicuri orang. Pria berkaus hitam itu kesulitan menjaga secara penuh kolam yang lokasinya jauh dari permukiman warga itu. Akibatnya, dia merugi hingga jutaan rupiah.


          Belajar dari pengalamannya, kini para peternak ikan di Desa Punjul memiliki cara tersendiri dalam mengamankan ikan peliharaannya. Bejo yang juga ketua kelompok budi daya ikan di Desa Punjul ini mengoordinasikan anggotanya untuk melakukan penjagaan. Dengan cara demikian, ikan-ikan di kolam mereka tidak dicuri lagi.


          Selebihnya, para anggota kelompok peternak itu juga rutin berbagi ilmu tentang cara beternak yang benar. Berbagai kesulitan yang dihadapi peternak berusaha dipecahkan bersama.


          Tak hanya dalam hal budi daya, mereka juga kompak dalam hal penjualan. “Di Kabupaten Kediri ini sentranya pembenihan dan pembesaran ikan. Orang dari Tulungagung dan Blitar kebanyakan juga mengambil benih dari Kediri,” paparnya.


          Dengan banyaknya pembeli dari luar daerah, dalam setahun dia bisa meraup untung sekitar Rp 70-80 juta. Sebelum pandemi, dia mengaku bisa meraih keuntungan hingga di atas Rp 100 juta.


          Selain fokus meningkatkan omzet penjualan dan keuntungan, kini Bejo dan teman-temannya juga terus mengenalkan ikan budi daya dari Kabupaten Kediri. Mereka ingin menegaskan identitas Kabupaten Kediri sebagai sentra ikan hias dan ikan konsumsi.


          Aksi bagi-bagi ikan yang dilakukan saat peringatan Hari Ikan pada Sabtu (20/11) lalu, juga jadi salah satu upaya untuk mengenalkan ikan kepada masyarakat. “Saya menyumbang 500 ekor ikan. Teman-teman juga banyak yang menyumbang ratusan sampai ribuan,” terangnya. (syi/ut)


 

Editor : adi nugroho
#sawah #radar kediri #petani #kediri #info kediri #kolam #ikan hias #berita kediri #ikan koi #ikan