Cerita rakyat di masa lampau banyak yang tidak tercatat. Kadang, peristiwa penting ikut terhapus. Tak ingin terulang, budayawan mengajak generasi muda ikut membangun peradaban.
Salah satu usulan mengikat generasi muda agar tidak meninggalkan jejak masa lalu adalah dengan menggalakkan penulisan sejarah populer. Itu disampaikan akademisi Taufik Alamin. Dia ingin penulisan sejarah populer dilombakan. Seperti yang sudah dilaksanakan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
“Tulisan itu tidak harus (oleh) orang yang punya titel (sejarah),” katanya. Tidak pula harus ketat oleh metode akademik.
Dengan cara ini, baginya, bisa mengangkat kembali cerita dari masyarakat. Yang nantinya bisa dilakukan kajian ilmiah oleh para pakarnya. Sehingga ada semacam produk budaya yang diyakini masyarakat. Kemudian pemerintah tinggal mengikutinya.
Pentingnya peran pemangku kebijakan itu diamini pemerhati budaya Sigit Widiatmoko. Baginya pemerintah di dua daerah punya peran penting untuk mengikat generasi penerus ini. Dia mencontohkan, adanya kegiatan cagar budaya masuk ke sekolah adalah upaya untuk mengajak generasi penerus mengenal jejak peninggalan masa lalu Kediri.
Soal ikon, Kediri bisa dikupas dari semua sisi. Kota dan Kabupaten Kediri tidak perlu risau untuk kehilangan identitas. Kedua daerah ini bisa berkolaborasi menciptakan sesuatu yang unik dari kulinernya. Mulai dari nasi pecel dan tumpang. Areanya bisa mencakup dari Katang (Kabupaten Kediri) sampai ke Jalan Doho (Kota Kediri).
Tidak ada yang sulit. Hanya perlu keseriusan dua daerah untuk menggarap bersama-sama. Sekadar menentukan ikon, Kediri bisa memilih berbagai macam alternatif. Ada Panji, Candabhirawa, tahu, atau lainnya. Yang bisa diambil dari candi dan situs yang sudah tersingkap.
Jika sudah dipilih satu ikon perlu diperkuat dengan aturan. “Harus ada kajian untuk landasan dasar bepikir,” katanya.
Apabila nanti yang ditetapkan Panji, perlu kegiatan pengenalan ke sekolah-sekolah. Sehingga ikon yang dipilih menjadi karakter yang melekat dengan Kediri.
Kalau ada daerah lain yang sama bagaimana? Sigit tidak mempersoalkan. Dia memberi contoh daerah yang sama menonjolkan simbol konta santri ada di Kudus dan Jombang. Karena itu, dia tinggal menunggu kemauan dari para pemangku kebijakan. Jika sudah jadi kebijakan semua akan jalan.
“Yang bawah pasti akan ikut, kalau ada kritik itu soal biasa,” ucapnya.(rq/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho