Museum menjadi tempat mengumpulkan benda peninggalan masa lampau. Dari sana pula orang bisa mengetahui ragam budaya suatu daerah. Nah, identitas Kediri itu bisa dimunculkan dari benda-benda yang sudah ada.
Adalah Mahfudh Asy Sirazy dari Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kabupaten Kediri yang ingin ada terobosan untuk memopulerkan peninggalan masa lalu. Dia memberi contoh sederhana tentang benda-benda yang kini mulai ditinggalkan masyarakat di Kediri, yaitu lumpang dan lesung.
“Dulu, hampir setiap rumah orang di Kediri pasti menyimpannya (lumpang dan lesung, Red),” katanya.
Fungsi benda itu tidak hanya untuk menumbuk padi. Tetapi bisa pula digunakan untuk menumbuk ketela dan kopi. Baginya, keberadaan lumpang dan lesung di Kediri menjadi simbol kemakmuran Kediri yang bersumber dari hasil pertanian.
Agar jejak-jejak itu tidak hilang, dia menyarankan untuk mengumpulkan kembali lumpang dan lesung. Lalu dibikin menjadi pameran. Bila perlu, ada museum khususnya lalu didaftarkan dalam rekor Muri.
Ia yakin, kegiatan seperti itu bisa menarik perhatian. Setidaknya, lumpang dan lesung tidak menghilang begitu saja karena perannya sudah digantikan dengan benda lain yang lebih praktis.
Tradisi baru yang kini marak adalah pladu yang digelar musiman di Kali Brantas. Kegiatan menangkap ikan teler yang ada di sungai itu dianggap menjadi salah cara untuk mengembangkan budaya Kediri. Meski dilakukan pula di daerah lain di Jawa Timur, belum ada catatan khusus yang mengupas tradisi pladu.
Dia menyebut, tradisi pladu ini merupakan budaya yang dipopulerkan oleh masyarakat biasa. Sebab untuk mendapatkan yang monumental, biasanya datang dari kerajaan (keraton) dan orang-orang pendatang baik itu Tiongkok atau Belanda. Kota seperti Jogja dan Solo sangat lekat dengan keratonnya. Sedangkan Semarang, lekat dengan kota tuanya yang dibangun pada masa Belanda.
Sebagai kerajaan tua, ada tokoh Jayabaya dari Kediri. Meskipun sangat fenomenal ketokohan Jayabaya belum bisa menjadi ikon kedua daerah, Kota dan Kabupaten Kediri. Manuskrip tentang Jayabaya juga masih lemah. “Kalau ada museum sejarah haruslah berbasis data,” lanjutnya.
Selain paparan tersebut, Achmad Zainal Fachris, penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) menambahkan, ada temuan baru benda bersejarah, yakni makara Adan-adan. “Untuk memopulerkannya, saya pakai kausnya,” aku pria yang juga mengajar di MAN 2 Kota Kediri ini. Dia memastikan, kekayaan budaya Kediri tidak hanya berwujud benda tetapi juga seni. Salah satunya adalah seni Reog Kediri.(rq/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho