Kecintaannya pada hewan melata ini tak pernah luntur. Meskipun dia pernah nyaris kehilangan nyawa karena digigit ular kobra.
ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KOTA, JP Radar Kediri
Rumah bertembok putih, di belakang Terminal Tamanan, itu penuh oleh tumpukan boks plastik. Isinya, jangan kaget, ular-ular berwarna coklat dan putih. Ular-ular sanca atau piton itu adalah peliharaan Iko, si pemilik rumah.
Lelaki bernama asli Solichin ini tak sekadar mengkoleksi ular-ular itu. Dia juga mengembang-biakkan. Maklum, Iko memang seorang peternak ular.
Memang, bila ada yang menyebut hobi membawa rezeki, hal itu tepat disematkan kepada pria ini. Kegemarannya mengoleksi hewan reptil membuat kantongnya semakin tebal. Banyak yang tertarik membeli hewan koleksinya. Terutama ular berjenis piton.
Hewan bernama latin Python Reticulatus itu menjadi salah satu pilihan satwa eksotis yang dipelihara. Karakternya bisa jinak dan relatif mudah dipelihara. Hal itu yang membuat Iko jatuh cinta. Apalagi dengan si albino, yang warnya kekuningan, sudah dianggap sebagai teman sendiri.
Ketika berbincang itu (14/10), tiga sanca menggeliat di halaman rumahnya. Berjenis albino, platinum, dan bacan tiger. Rata-rata sepanjang 3 meter. Sudah jinak. Iko sesekali memegang, menggendong, dan melilitkan ular tersebut di badannya.
”Ular bisa jinak karena sering dipegang. Semakin banyak dipegang, semakin jinak,” terangnya sembari memegang si albino yang, katanya, hendak berganti kulit.
Sikap ular itu tentu beda bila yang memegangnya bukan Iko. Sebab, ular butuh proses adaptasi dulu sebelum akrab dengan seseorang. Termasuk mengenali aroma seseorang. ”Butuh waktu lama bisa jinak. Kalau sebentar, pasti susah dikendalikan,” kata pria 44 tahun tersebut.
Ketertarikan Iko pada ular sempat ditentang oleh orang tuanya. Dia pun harus sembunyi-sembunyi. “(Ular) saya taruh di gudang atau titipkan teman,” ucapnya mengenang kejadian pada 1995 hingga 1997 itu.
Tak hanya orang tuanya yang menentang, lulusan Uniska ini sering jadi gunjingan para tetangga. Kebiasaannya memelihara binatas berbisa itu dianggap bisa membahayakan orang lain.
Namun, dalam perjalanan waktu, hobi yang banyak ditentang itu justru menjadi berkah. Saat berhasil menemukan seekor ular, dia berniat membiakkan. Dari hasil pembiakannya itu, beberapa kolektor berminat. Mereka membeli ratusan ribu rupiah untuk seekor ular piton.
”(Kolektornya) dari Malang, Jogja, hingga Bogor. Harganya Rp 500 ribu–600 ribu per ekor. Biasanya, mereka membeli sepasang untuk dikembangbiakkan sendiri,” ujarnya ayah dua anak yang mengaku belajar secara otodidak dalam merawat dan mengembangkan ular asli Indonesia itu.
Sempat pula ularnya dibeli warga negara Thailand. Harganya lumayan, Rp 9 juta per ekor. Hasil penjualan tiga ular itu langsung dia belikan sepeda motor.
Saat memulai usaha, Iko pun berkompromi dengan orang tua dan tetangga. Karena tak sedikit yang risih melihat aktivitasnya. Misalnya, bila ada ularnya yang lepas dan masuk ke rumah tetangga, dia langsung menangkap. Kemudian memberi uang sebagai ganti rugi pada pemilik rumah.
Karena bergelut dengan hewan berbisa, Iko juga pernah terserempet bahaya. Suatu saat pernah dia digigit ular. Bahkan, ular yang menggigitnya itu terkenal sebagai ular berbisa, jenis kobra.
“Sampai harus menjalani perawatan serius di rumah sakit,” kenangnya.
Alih-alih kapok, Iko bahkan semakin cinta dengan hobinya itu. Dia kini merasa sudah kebal. “Sudah tahu cara mengatasi gigitan ular,” akunya.
Dia juga lebih memahami perilaku ular. Misalnya, pada musim kawin-Februari hingga Agustus-ular perlu perlakuan khusus. Saat itu dia juga harus berhati-hati dengan gigitan. Karena bisa lebih ganas dari gigitan kobra.
Kecintaannya pada reptil ini membuatnya membentuk satu komunitas. Namanya Komunitas Reptil Kediri (Korek). Bukan sekadar komunitas biasa, dia dan 30 anggota kerap memberi pelayanan pada warga jika ada ular yang masuk rumah. “Banyak sekali panggilan untuk mengevakuasi ular yang masuk ke rumah orang. Sekaligus edukasi supaya kalau ada ular masuk sebaiknya tidak perlu panik,” paparnya.
Komunitasnya juga kerap kunjungan ke sekolah. Tujuannya sama, untuk memberikan edukasi bagaimana cara penanganan ketika digigit ular. Atau jika ada ular di sekitar.
Aktivitas edukasi itu membuat Korek sering menerima sertifikat dari pemerintah kota (pemkot). “Ada sekitar 15 sertifikat,” tuturnya. (fud)
Editor : adi nugroho