Pabrik gula di Guyangan sudah lama menghilang. Hingga kini, bangunannya sudah tidak ada. Bahkan, rel lori tebu yang dulu masih terlihat sekarang sudah tertutup aspal. Karena setiap tahun, aspal di Guyangan ditambah.
“Pabrik gula di Guyangan itu sekarang jadi eks Lokalisasi Guyangan,” ujar Yasin, sesepuh Guyangan. Pabrik gula tersebut sangat besar. Puluhan karaoke plus-plus yang saat ini berdiri itu dulunya adalah bangunan pabrik. Karena pabrik sudah tidak ada maka akhirnya warga pribumi mendirikan warung-warung esek-esek. Lalu, berkembang menjadi karaoke plus-plus.
Menurut Yasin, pabrik gula itu tutup sebelum Indonesia merdeka. Karena itu, akhirnya di Nganjuk berdiri beberapa pabrik gula sebagai pengganti pabrik gula di Guyangan. Mulai dari Juwono hingga PG Lestari. “Pabrik Gula Guyangan ini yang pertama di Nganjuk,” ujarnya.
Meski sudah tidak ada pabrik gula tetapi perekonomian Guyangan masih hidup. Ini karena di sana sudah ada pasar sapi. Selain itu, Guyangan yang sudah dikenal dengan dunia malam membuatnya tidak pernah sepi dari pengunjung. Setiap malam, warga selalu berdatangan ke Guyangan untuk menikmati cinta satu malam dan minum minuman keras.
Apalagi, Guyangan merupakan jalur utama Nganjuk dan Madiun. Semua kendaraan sejak zaman Belanda selalu melintas di Guyangan. Ini membuat Guyangan tak pernah sepi. “Guyangan itu sejak zaman Belanda hingga sekarang selalu ramai pengunjung,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho