Kota Kediri kehilangan tokoh yang begitu dicintai oleh masyarakatnya. Wali Kota Kediri periode 1999-2009 Achmad Maschut berpulang sekitar pukul 15.00 kemarin, setelah berjuang melawan penyakit komplikasi yang dideritanya.
Kepulangan suami Ni Ketut Sutji Setyawati ini pun meninggalkan duka yang mendalam bagi warga Kota Kediri. Tak terkecuali Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkot Kediri Ferry Djatmiko. Pria yang pada tahun 1999-2004 lalu menjadi ajudan Maschut itu memiliki banyak kenangan tentang almarhum.
“Bapak itu sosok yang humoris, merakyat, sederhana. Dekat dengan semua orang, loman, dan masih banyak lagi sifat baik lainnya,” ujar Ferry kesulitan memerinci kebaikan mantan atasannya itu.
Sebelum mendengar kabar duka sekitar pukul 15.00 kemarin, Ferry masih aktif berkomunikasi untuk menanyakan kondisi kesehatan wali kota dua periode itu dengan Ni Ketut, istri Maschut. Sesekali juga menelepon Maschut.
Selama beberapa minggu lalu, kesehatan bapak dua anak tersebut memang naik-turun. Pernah kritis sekitar seminggu lalu, kesehatannya sempat sedikit membaik. Hingga, Selasa (24/8) lalu kembali drop dan harus dirawat di rumah sakit.
Rupanya, kemarin adalah akhir perjuangannya. Dia berpulang dalam usia 81 tahun. “Ya semuanya sedih. Merasa kehilangan sosok yang sudah seperti bapak saya sendiri,” lanjut pria yang tadi malam dalam perjalanan menuju rumah duka di Malang untuk memberi penghormatan terakhir.
Selama menjadi ajudan Maschut, banyak pelajaran positif yang bisa dipetik oleh Ferry. Terutama, caranya berinteraksi dengan banyak orang hingga menjadikannya sebagai sosok yang disukai semua kalangan.
Sekitar lima tahun berada di dekat Maschut, seingat Ferry pria kelahiran 28 Januari 1940 itu hanya pernah sekali marah. Itu pun tidak berlangsung lama. “Malam marah, pagi sudah biasa lagi. Ya tertawa seperti biasanya,” kenangnya.
Hal itu yang membuat Maschut dekat dengan semua stafnya. Bahkan, setelah dia tak lagi menjabat wali kota, ikatan mereka seolah tak pernah luntur. Komunikasi dengan orang-orang yang berada di dekatnya masih terus terjalin.
Tidak hanya dengan para pegawai di Pemkot Kediri, Maschut juga dekat dengan para tukang becak yang mangkal di pintu belakang rumah dinas. “Setiap bapak keluar dari rumah dinas, pasti berhenti dulu. Semua tukang becak di sana diberi uang. Sampai hafal dengan tukang becak di pintu belakang (rumah dinas, Red),” bebernya.
Berbagai kebiasaan baik Maschut itu seolah jadi pelajaran bagi Ferry dan orang-orang terdekatnya. Seperti pesan yang pernah ditinggalkan, pria yang pernah menjabat kepala dinas perhubungan ini pun bertekad untuk meneladani kebaikan-kebaikan yang diwariskannya. “Lek enek apik’e bapak, tirunen. Elek’e aja (Kalau ada baiknya bapak, boleh ditiru. Jeleknya jangan, Red),” kenang Ferry akan pesan Maschut sebelum purna. (ut)
Editor : adi nugroho