Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Rencananya, PPKM darurat akan berlangsung hingga 9 Agustus nanti. Keputusan ini membuat pengelola wisata di Taman Lembah Djati harus kelimpungan. Padahal, wisata itu sempat menjadi idola baru masyarakat.
KAREN WIBI, Loceret, JP Radar Nganjuk
Pagar pintu masuk Taman Lembah Djati terkunci rapat kemarin. Gembok pintu berwarna silver terpasang. Tak ada petugas yang berjaga di pintu tersebut. Hanya ada papan pengumuman yang menyebutkan jika tempat wisata tersebut tutup hingga PPKM selesai. Padahal kemarin, PPKM darurat diputuskan diperpanjang hingga 9 Agustus nanti. Akibatnya, objek wisata mulai dari yang dikelola pemkab hingga swasta seperti tak ada kehidupan. Bahkan, objek wisata yang sempat jadi idola yaitu Taman Lembah Djati juga sangat sepi. Beberapa calon pengunjung yang terlanjur datang harus kecele. “Saya pikir sudah buka. Ternyata masih tutup,” keluh Finadurrotun, warga Kecamatan Bagor.
Padahal, sebenarnya Fina bersama teman-temannya ingin berwisata di Taman Lembah Djati. Karena taman tersebut sempat viral beberapa waktu lalu. Namun, karena masih ditutup maka Fina dan teman-temannya terpaksa mengurungkan niatnya.
Kondisi ini berbeda 180 derajat dibandingkan sebelum diberlakukannya PPKM darurat pada 3 Juli lalu. Dalam sehari, ratusan orang berkunjung di wisata yang ada di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret. “Kami hanya sempat buka sekitar tiga bulan,” ungkap Sufaat.
Dengan harus tutup karena Covid-19 merajalela di Kabupaten Nganjuk, jelas kerugian besar dialami pengelola. Target bisa Break Even Point (BEP) dalam hitungan tahun langsung berubah menjadi kerugian. Karena selama tutup, tidak ada pemasokan.
Tak hanya itu, pengeluaran juga bertambah. Pengelola terpaksa memberikan pesangon kepada puluhan karyawan yang dirumahkan. Sebab, sampai kapan PPKM darurat berlangsung juga belum jelas. Bisa saja, pemerintah akan kembali memperpanjang PPKM darurat jika korona masih tidak terkendali. “Kasihan karyawan jadi terpaksa kami beri pesangon,” ujar pria berusia 49 tahun ini.
Saat ini, hanya ada satu karyawan yang bertahan. Itu pun tugasnya sangat berat. Yaitu, merawat tanaman di Taman Lembah Djati. “Iya mau bagaimana lagi. Kondisinya seperti ini,” ujarnya pasrah.
Selain berimbas pada pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan, dampak penutupan objek wisata karena PPKM darurat juga dialami pedagang jajan di sekitar Taman Lembah Djati. Selama ini, warga setempat menitipkan kue ke Taman Lembah Djati. Namun, karena tutup total, warga tidak bisa lagi menitipkan dagangannya. “Semuanya terdampak jadinya,” tandas bapak dua anak ini.
Saat ini, harapan satu-satunya adalah pandemi Covid-19 segera berakhir. Upaya memutus rantai penyebaran virus korona dengan 5 M (Memakai masker, Mencuci tangan dengan sabun, Menjaga jarak, Mengurangi mobilitas, dan Menghindari kerumunan) serta menyukseskan vaksinasi diharapkan benar-benar bisa tercapai. Sehingga, PPKM darurat tidak lagi diperpanjang dan objek wisata bisa dibuka lagi. “Semoga bisa buka lagi wisata di Nganjuk,” harap Sufaat.
Editor : adi nugroho