Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berat Badan Tinggal 40 Kilogram, Kerja Beberapa Bulan Jadi Satpam

adi nugroho • Senin, 5 Juli 2021 | 23:22 WIB
berat-badan-tinggal-40-kilogram-kerja-beberapa-bulan-jadi-satpam
berat-badan-tinggal-40-kilogram-kerja-beberapa-bulan-jadi-satpam


Fajar harus tergeletak di RSUD Kertosono karena menderita kanker esofagus. Kondisinya yang mengenaskan membuat banyak pihak terketuk hatinya. Dukungan datang dari berbagai pihak termasuk Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.



HABIBAH  A. MUKTIARA, Tanjunganom, JP Radar Nganjuk . 


 


“Fajar tidak bisa bicara,” ujar Sumiarsih, ibu Fajar saat dijenguk Plt Bupati Marhaen Djumadi pada Jumat (2/7). Pemuda berusia 21 tahun itu terlihat sangat lemah. Badannya hanya tinggal kulit dan tulang. Pandangan matanya kosong.


Kondisi ini berbeda 180 derajat dengan Fajar sebelum sakit. Saat bekerja sebagai satpam di Jakarta, tubuh Fajar kekar. Berat badannya sekitar 80 kilogram.


Namun, saat ini, pemuda yang masih bujang ini hanya bisa tergeletak di kamar nomor 9 Ruang Bougenville RSUD Kertosono. Dia tidak bisa lagi makan karena penyakit kanker tenggorakan atau kanker esofagus yang menyerangnya sejak Agustus 2020.


Menerima kunjungan Kang Marhaen beserta istri, Sumiarsih dan Fajar terlihat bahagia. Karena orang nomor satu di Pemkab Nganjuk saat ini bersedia datang untuk menjenguk kondisi warganya. “Matursuwun sanget (Terima kasih banyak, Red),” ujar Sumiarsih.


Dalam kesempatan itu, Kang Marhaen beserta rombongan memberi semangat Fajar dan keluarganya. “Semoga bisa cepat sembuh dan keluarga bisa mengambil hikmah dari cobaan ini,” ujar Kang Marhaen.


Bagi keluarga Fajar, sosok anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sularman dan Sumiarsih itu adalah anak yang berbakti pada orang tua. Setelah lulus dari SMK, pemuda asal Dusun Jajar, Desa Sumberkepuh, Kecamatan Tanjunganom ini langsung pergi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan pada tahun 2019. Di sana, Fajar akhirnya mengikuti pelatihan satpam selama setahun. “Setelah pelatihan, Fajar langsung dapat pekerjaan menjadi satpam,” sambung Suyati, 60, bibi Fajar.


Meski gaji sebagai satpam tidak terlalu besar tetapi Fajar tidak menggunakan uang yang didapat untuk keperluan pribadinya. Setiap bulan, dia mengirimkan uang yang didapat ke orang tuanya. Dia ingin uang dari jerih payahnya tersebut untuk memperbaiki kamar dan rumahnya.


Sayang, Fajar tidak bisa bekerja lama. Baru beberapa bulan bekerja, dia harus pulang ke rumah. Karena saat makan bakso, tiba-tiba dia tidak bisa menelan. Semua makanan dan minuman yang masuk langsung dimuntahkan.


Saat pulang pada Agustus 2020 tersebut, badan Fajar sudah terlihat kurus. Setelah dibawa ke rumah sakit, Fajar akhirnya dirujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. Di sana, Fajar divonis menderita kanker esofagus atau kanker tenggorokan. “Makanan dan minuman akhirnya lewat selang,” ujar Yainem.


Beberapa kali Fajar harus ke RSUD Dr Soetomo untuk mengganti selang makanan tersebut. Karena setiap bulan harus ganti. Namun ternyata, kondisi Fajar tidak membaik. Justru, terus mengalami drop. Akhirnya, Fajar dilarikan ke RSUD Kertosono untuk mendapat perawatan. “Semoga cepat sembuh,” harap Suyati.

Editor : adi nugroho
#penyakit #kabar nganjuk #radar nganjuk