Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wayang Potehi di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong Kediri yang Sepi Penonton

adi nugroho • Selasa, 29 Juni 2021 | 20:20 WIB
wayang-potehi-di-kelenteng-tjoe-hwie-kiong-kediri-yang-sepi-penonton
wayang-potehi-di-kelenteng-tjoe-hwie-kiong-kediri-yang-sepi-penonton

Pentas wayang potehi jadi ritual peringatan ulang tahun Dewi Mak Cho. Pandemi Covid-19 membuat pentas di kelenteng Tjoe Hwie Kiong selama tiga bulan itu tak banyak disaksikan penonton.


 


ILMIDZA AMALIA NADZIRA, Kota. JP Radar Kediri


Sugiyo Waluyo sibuk mementaskan wayang potehi di halaman depan kelenteng Tjoe Hwie Kiong sekitar pukul 14.00. Dua tangannya sibuk memainkan wayang kain yang tak lain tokoh Sie Kong dan Cap Pwe Lo Hwan Ong.


          Di belakangnya, ada empat pria yang memainkan musik. Mulai terompet, gendang, tambur, dan beberapa alat musik lain ditabuh dengan demikian rancak hingga menimbulkan irama yang mendukung pentas pria yang akrab disapa Sugiyo itu.


          Suara pentas wayang potehi kemarin terdengar cukup keras sejak di pintu masuk kompleks kelenteng. Tetapi, pentas kesenian itu rupanya tidak ditonton oleh banyak orang.


          Hanya ada satu umat Tjoe Hwie Kiong yang duduk di kursi depan panggung. Selebihnya, beberapa pengurus kelenteng beberapa kali hilir-mudik menyelesaikan tugas masing-masing. Mereka tidak melihat pentas wayang yang digelar sejak Mei hingga Juli nanti itu.


          Meski tidak banyak penonton, Sugiyo tak kehilangan semangatnya. Dalang asal Surabaya yang sudah berkeliling ke puluhan kelenteng ini tahu benar jika pertunjukannya tidak dipersembahkan untuk manusia. Melainkan untuk dewi dan dewa.


          Di kelenteng Tjoe Hwie Kiong, potehi selalu dipentaskan pada perayaan ulang tahun Mak Cho. Dewi utama kelenteng di Jl Yos Sudarso, Kota Kediri itu. “Ini merupakan salah satu bentuk perayaan tahun Dewi Mak Cho,” ujarnya membuka perbincangan dengan Jawa Pos Radar Kediri.


Karenanya, sejak awal memulai pentas Mei lalu, dia tidak mempedulikan jumlah penonton. Ada atau tidak penonton yang menyaksikan, pria berusia 59 tahun itu tetap semangat memainkan wayangnya.


Apalagi, sejak pentas 2020 lalu, Sugiyo sudah terbiasa pentas tanpa penonton. Pandemi Covid-19 membuat umat yang datang ke kelenteng terbatas. Sehingga, jumlah penonton yang menyaksikan pun semakin sedikit. Bahkan, tidak ada. 


Setiap hari, grup Fu Ho An itu pentas dua kali. Pentas pertama pukul 14,00-16.00, disusul pentas kedua pukul 17.00-19.00. Cerita yang mereka bawakan adalah seputar legenda dan budaya di Tiongkok.


Menjadi dalang sejak 1972, Sugiyo seolah sudah menyatu dengan potehi. “Ada atau tidak ada penonton tidak masalah. Wayang potehi ini persembahan untuk para dewa,” bebernya.


Dia mengaku senang bisa memainkan wayang potehi. Sebab, wayang itu tak ubahnya ritual doa dan persembahan bagi warga keturunan Tionghoa. Karenanya, di tiap pembukaan wayang potehi selalu disertai ritual doa dengan menyebut nama pemesan.


Tak hanya itu, pemilihan ceritanya pun juga melalui ritual persembahan terlebih dahulu. Cerita yang disajikan bukan dari dalang. Melainkan dalang menyiapkan beberapa cerita untuk diberikan kepada ketua klenteng. Selanjutnya, ketua kelenteng melakukan ritual sebelum memilih cerita yang akan dipentaskan.


Saat pentas pun, Sugiyo tidak hanya meresapi cerita. Melainkan berusaha membawakannya tak ubahnya memberikan persembahan kepada para dewa. Di luar itu, dia tidak lagi mempedulikan hal lainnya.


Melihat ada satu penonton di depan panggung kemarin, Sugiyo terlihat senang. Adalah Alek Sumadi, 66, yang menyaksikan wayang potehi kemarin. Selama sekitar tiga jam, pria asal Kelurahan Ringinanom itu tak beranjak dari kursinya.


Rupanya, lansia itu memang menyukai wayang potehi. Dia terbiasa menyaksikan pentas wayang sejak kecil. Karenanya, meski pandemi dia tetap menyisihkan waktunya untuk melihat wayang potehi. “Ceritanya bagus. Saya memang suka dari dulu,” tuturnya.


Dia lantas mengisahkan pentas wayang potehi puluhan tahun silam di kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Jika sekarang pentas seni dari Negeri Tirai Bambu itu sepi penonton, tidak demikian dengan puluhan tahun lalu.


Selain umat Tjoe Hwie Kiong, warga sekitar ramai-ramai datang ke kelenteng. Mereka rela berdiri untuk menyaksikan pentas yang berlangsung selama tiga bulan itu karena tidak kebagian tempat duduk.


Saking banyaknya penonton yang melihat wayang potehi, pedagang kaki lima pun membuka lapak di sekitar kelenteng. “Ada yang jual kacang, jagung. pokoknya ramai sekali. Sekarang sepi,” kenangnya sembari menyebut dahulu ada 10 baris bangku yang disiapkan untuk penonton dan selalu penuh. (ut)


 

Editor : adi nugroho
#budaya #wayang #kota kediri