Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Kus Haryono, Sketcher Tercepat di Kediri

adi nugroho • Rabu, 2 Juni 2021 | 22:05 WIB
kisah-kus-haryono-sketcher-tercepat-di-kediri
kisah-kus-haryono-sketcher-tercepat-di-kediri

Berawal dari hobi, keterampilan Kus Haryono membuat sketsa mampu mendatangkan pundi-pundi rupiah. Salah satu kelebihannya dibanding sketcher lain adalah kecepatannya dalam menggambar sketsa.


 


ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KABUPATEN KEDIRI. JP Radar Kediri


 


Puluhan pelukis asyik dengan dengan kanvas masing-masing di Kampung Lukis, Kamis (8/4) lalu. Para pelukis dari berbagai aliran itu terlihat sibuk dengan objek lukisan masing-masing di Desa Dawung, Ringinrejo.


          Kus Haryono yang merupakan spesialis lukisan wajah terlihat menggambar almarhum Kiai Maimun Zubair. Tatapan matanya fokus pada kanvas yang ada di depannya. Sesekali dia melirik tempat cat yang ada di sampingnya. “Saya memang spesialis lukisan wajah. Sketsa,” ujar Kus yang duduk di antara pelukis aliran naturalis, surealis, abstrak, dan beberapa aliran lainnya.


          Saat didekati Jawa Pos Radar Kediri, Kus yang tengah berkonsentrasi melukis hanya menyahut beberapa kata. Tetapi, hal tersebut tak berlangsung lama. Setelah lukisannya mencapai 50 persen, dia memilih meluangkan waktu untuk koran ini.


          Melukis di kanvas dengan membuat sketsa di kertas memang dua hal yang berbeda. Waktu yang dibutuhkan oleh pria yang mendapat julukan sketcher tercepat ini juga terpaut jauh. “Untuk membuat sketsa saya hanya butuh waktu tiga menit,” lanjut pria bertopi itu.


          Tak mau dianggap berbohong, Kus lantas mengambil kertas. Jawa Pos Radar Kediri pun jadi objek dadakan. Mengambil pensil yang selalu disiapkan di tasnya, pria berambut lurus itu langsung unjuk kebolehan.


          Benar saja. Hanya dalam waktu sekitar tiga menit, dia berhasil menuntaskan sketsa buatannya. Garis-garis yang dibuatnya begitu halus hingga menghasilkan gambar dengan karakter yang kuat.  


          Bagaimana Kus bisa memiliki keterampilan membuat sketsa? Pria asal Desa Butuh, Kras itu menyebut keterampilannya berawal dari hobi. Adalah melukis potret di kanvas yang awalnya ia geluti. Lama kelamaan pria kelahiran 1984 silam itu lantas berpikir agar hobinya itu bisa mendulang rupiah.


          Jika tetap melukis wajah di kanvas, Kus sadar benar jika banyak pelukis andal lain dengan karya lebih bagus dari dirinya di Kediri. “Setelah itu saya beralih ke menggambar sketsa di piring polos warna putih. Lumayan, satu piringnya saya banderol Rp 200 ribu,” tuturnya.


          Tidak lama menggunakan media piring, dia berpikir untuk mencari media lain pada 2017 lalu. Rangkaian bersih desa yang berlangsung selama tiga jadi jadi momentumnya.


          Melihat warga antusias mengikuti acara yang digelar rutin tiap tahun itu, tebersit di benak Kus untuk membuat sketsa wajah. Kala itu, dia belum bisa membuat sketsa secepat sekarang. “Dulu melukis dengan waktu 10 menit. Harganya 10 ribu,” urai pria yang sempat merantau selama tujuh tahun di Riau tersebut.


          Menyadari minat warga sangat tinggi, dia menaikkan tarif menjadi Rp 15 ribu. Acara bersih desa itu membuat keahliannya melukis menyebar dengan cepat. Dia pun giat mengikuti event lainnya. Setelah melatih kecepatannya, dia lantas membuka lapak di Car Free Day Simpang Lima Gumul setiap hari Minggu.


Sebelum pandemi Covid-19 melanda, peminat lukisan wajah buatannya juga banyak. Selebihnya, Kus mengikuti berbagai pameran seni. Mulai tingkat lokal hingga regional. “Luar Kota masih area Jawa Timur, seperti Tulungagung, Malang, Mojokerto dan Surabaya,” paparnya.


Untuk mengasah keterampilannya, dia juga mengikuti sejumlah lomba. Salah satunya, Kus pernah memenangkan lomba sketsa meme dengan waktu tercepat yang diselenggarakan oleh Polres Tulungagung. Piala yang jadi bukti prestasinya itu pun berjejer rapi di sudut ruang tamu rumahnya. Prestasi itu pula yang belakangan membuatnya dijuluki sebagai sketcher tercepat.


Pria dengan nama pena Koes ini bersyukur memiliki bakat yang dimiliki sejak kecil. Saat duduk di bangku SMA, dia suka iseng corat-coret di kertas. Tak menyadari potensinya, selepas SMA dia memilih merantau ke Riau.


Dia pun memilih menekuni hobi lamanya itu setelah pulang kampung pada 2014 lalu. Alumnus SMAN 1 Kras itu kini menggantungkan pendapatannya dari hasil menggambar sketsa. Selama pandemi, dia memilih promosi lewat media sosial. “Alhamdulillah masih ada yang pesan online meski tidak seramai sebelum pandemi,” syukurnya. (ut)


 

Editor : adi nugroho