Dekat pasar dan ditandai masjid. Ciri khas itu masih tampak di Kampung Kauman Gurah, Kabupaten Kediri.
Lokasinya sangat dekat dengan pasar tradisional Gurah. Pintu masuknya pun ada di tepi jalan raya yang menghubungkan Kediri – Pare. Penandanya adalah gapura besi yang bagian atasnya melengkung. Di bagian itu tertera tulisan Jalan Kauman – Gurah.
Gapura dari besi berwarna perak itu melintang di atas jalan selebar 2,5 meter. Sedangkan panjangnya sekitar 500 meter. Bila lurus, jalan ini akan bertemu dengan persawahan. Namun, di kanan-kirinya ada beberapa gang. Gang-gang inilah yang menghubungkan Jalan Kauman dengan jalan lain di sekitarnya. Salah satunya Jalan Seruji di sebelah utara.
Perkampungan di Jalan Kauman ini tergolong padat. Rumah-rumah penduduk saling berdekatan. Berjajar di sepanjang jalan atau tepi-tepi gang. Beberapa rumah terlihat masih berarsitektur kuno.
Salah satu ciri yang menggambarkan bahwa wilayah ini adalah tempat kaum beriman adalah Masjid Baitussalam. Masjid ini relatif besar. Luasnya sekitar 30 meter persegi. Halamannya luas dan berpaving. Beberapa tanaman tumbuh sebagai peneduh. Salah satu yang mencolok adalah pohon sawo di sisi utara.
Arsitekturnya juga berbeda dengan rata-rata masjid modern. Lebih mengarah ke bangunan berarsitek Jawa. Atapnya berbentuk limas, dari genting. Tak ada kubah. Di ujung salah satu atapnya ada ornamen berbentuk bulan sabit.
Menariknya, ada menara kembar yang terletak di atap bagian depan. Persis di atas serambi masjid. Tingginya sekitar 5,5 meter dari lantai. Bagian atas menara-menara itu berbentuk limas. Mengerucut di bagian atas. Lengkap dengan ornamen bulan sabitnya. Juga ada ornamen kaca yang melengkung di bagian atas. Mengitari bagian tengah menara.
Rangka masjid juga masih menggambarkan arsitektur Jawa. Ada empat tiang yang menopang atap di ruang utama masjid. Mirip saka guru di bangunan-bangunan Jawa. Juga terbuat dari kayu jati dengan ketebalan lebib dari 25 sentimeter.
“Saka gurunya masih asli. Namun sudah dicor di bagian bawahnya,” terang Etik Yusnatul Marati, yang rumahnya di samping masjid.
Etik, demikian wanita ini biasa disapa, merupakan keturunan langsung dari pendiri masjid. Karena itu dia juga sedikit tahu tentang kisah masjid tersebut. Dia juga masih ingat bagaimana kondisi masjid waktu dulu.
Dulu, masjid itu juga jadi lokasi bermain anak-anak. Mereka bisa dengan mudah memanjat dan naik ke menara. Caranya dengan melewati tangga bambu. Tangga itu menghubungkan ruangan masjid dengan ruangan di menara. Melalui lubang yang ada di bagian langit-langit masjid.
“Dulu saya suka naik-naik ke atas dengan teman-teman,” kenang Etik. (wi/fud)
Editor : adi nugroho