Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenang Agus Sunyoto Sang Budayawan Nusantara (11-Habis)

adi nugroho • Sabtu, 8 Mei 2021 | 19:34 WIB
mengenang-agus-sunyoto-sang-budayawan-nusantara-11-habis
mengenang-agus-sunyoto-sang-budayawan-nusantara-11-habis




Isyarat kepergiannya sudah diberikan menjelang wafat. Agus Sunyoto berbicara tentang kematian secara rinci. Berikut tulisan terakhir Abu Muslich tentang sahabat sekaligus gurunya itu.



======================



Isyarat itu diberikan Mas Agus pada kedatangannya yang terakhir ke Kediri, sebulan sebelum wafat. Tepatnya, saat memberi pengajian yang diselenggarakan Rijalul Ansor Kecamatan Badas, pada 7 Maret 2021 malam. Dia membahas tahapan kembali kepada Gusti Allah Ta’ala, setelah kematian, secara rinci.



Di hadapan ratusan kader GP Ansor dan para tokoh NU Kecamatan Badas, Mas Agus tak membahas sejarah, seperti biasanya. Dia secara mendalam membahas tentang kematian dan tahapannya kembali kepada Gusti Allah.



Kupasan masalah ini, kata Mas Agus, ada dalam Kitab Tuhfatul Mursalah karangan Syaikh Muhammad Fadlullah Burhanpuri, seorang ulama dan wali besar dari India. “Saya mendapatkan fotokopi Kitab Tuhfatul Mursalah itu dari seorang teman di Belanda. Dia mendapatkan itu dari koleksi kitab milik Snouck Hurgronje,” kata Mas Agus di depan ratusan hadirin.



Mas Agus yang di kalangan aktivis Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) biasa dipanggil Rama Kiai ini mengawali pengajiannya dengan mengupas Kitab Tuhfatul Mursalah yang berisi uraian tentang “Martabat Pitu.” Bahwa Allah menciptakan semua dalam tujuh tingkatan.



Gusti Allah menciptakan alam dalam 7 masa. Langit ada 7 tingkat. Surga ada 7 tingkat. Neraka ada 7 tingkat. Salat harus membaca Surat Alfatihah yang 7 ayat. Sujud dalam salat  yang menyentuh tanah 7 anggota badan (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung telapak kaki). Thawaf mengitari Kakbah 7 kali. Sa’i pergi pulang Shafa-Marwa 7 kali. Manusia lahir melalui 7 tahap kelahiran. Demikian juga, manusia kembali kepada Gusti Allah setelah mati melalui 7 tahap dimensi.



Tentang keberadaan manusia dalam Alquran, Mas Agus menyebut  ayat, “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” Kita (hakikat manusia) berasal Allah dan akan kembali kepada Allah. Dalam tafsir Jawa, ayat ini diterjemahkan dengan “sangkan paraning dumadi.” Asal manusia dari Gusti Allah dan akan pergi (kembali) kepada Gusti Allah.



Rincian manusia lahir ke dunia melalui 7 tahap. Pertama, tahap ahadiyah selama 40 hari. Manusia masih dalam satu kesatuan yang tidak terpisah. Itulah yang disebut di dalam Alquran “khalaqal insana min alaq.”  



Kedua, tahap wahdah selama 40 hari. Ketiga, tahap wahidiyah selama 40 hari. Bentuk manusia masih seperti lempengan. Jantung, paru-paru, usus masih di luar.



Ke-empat, alam arwah selama 40 hari. Saat itu, embrio manusia sudah mulai berbentuk seperti makhluk hidup. Sudah kelihatan bentuk kepalanya, tangannya, dan kakinya, walapun ukurannya kecil. Pada tahap itulah Gusti Allah meniupkan ruh pada embrio janin manusia.



Kelima, alam mitsal selama 40 hari. Bentuknya semakin mengembang pelan-pelan. Keenam, alam ajsam selama 40 hari. Fisik menusia sudah betu-betul sempurna. Ketujuh, tahap insan kamil selama 40 hari. Masing-masing tahap 40 hari, kali 7 tahap, semua jumahnya 280 hari. Saat itulah dia lahir sebagai manusia sempurna dalam bentuk bayi.



Saat bayi baru lahir, pikirannya kosong tidak ngerti apa-apa. Wong ayu, wong elek tidak ngerti. Makanan enak, makanan tidak enak, tidak ngerti. Setelah beranjak remaja, kemudian dewasa, rekaman peristiwa yang dilalui dalam perjalanan hidupnya, masuk membentuk catatan-catatan kehidupannya.



Dalam Kitab Tuhfatul Mursalah, kata Mas Agus, ketika memasuki usia dewasa, manusia memasuki tahap proses kembali. Kalau sudah usia tua, harus kembali. Kembali kepada Gusti Allah.



Untuk orang-orang khawas dan khawasul khawas, ketika manusia kembali, harus berada dalam kondisi seperti bayi. Tidak ingat apa pun terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. “Ketika orang itu mati, ruh yang ditiupkan oleh Allah ketika janin masih dalam kandungan, akan kembali kepada Allah,” tambah Mas Agus.



Proses kembali kepada Allah setelah kematian, juga melewati 7 tahapan. Menurut Mas Agus, ada penjelasan dari Sunan Kalijaga, bahwa setelah mengalami kematian, manusia akan melewati 7 alam. Pertama, masuk alam kubur lamanya 3.000 tahun. Setelah itu, masuk alam barzah lamanya 7.000 tahun.



Naik lagi alam barzah berikutnya lamanya 40.000 tahun. Setelah itu, masuk alam barzah berikutnya lamanya 100.000 tahun. Kemudian alam berikutnya lamanya 355.000 tahun. Setelah itu, memasuki alam yang lamanya 710.000. Dan terakhir masuk alam bahrul wujud lamanya 1 juta tahun.



Lamanya setiap tahapan alam itu adalah untuk ukuran alam sana. Kalau ukuran alam sana, 3.000 tahun sama dengan 3 hari di alam dunia. Alam barzah yang 7.000 tahun, sama dengan 7 hari. Ukuran 40.000 tahun, sama dengan 40 hari. Ukuran 100.000 tahun di sana, sama dengan 100 hari. Ukuran 355.000 tahun, sama dengan 1 tahun. Ukuran 710.000 tahun, sama dengan dua tahun. Dan, ukuran di sana 1 juta tahun sama dengan seribu hari di dunia.



Dalam menjalani setiap tahapan alam di sana tersebut, kata Mas Agus, penuh dengan kesengsaraan. Terutama untuk orang-orang yang tidak memiliki keturunan, dan tidak memiliki ilmu yang bermanfaat bagi manusia lain dan tidak punya amal jariah dan amal shalih.



Orang yang mempunyai keturunan, juga banyak yang mengalami kesengsaraan. Yaitu, orang yang punya keturunan yang tidak shalih, yang tidak mau mendoakan orang tuanya.



Karena itu Sunan Kalijaga berpesan, seyogianya anak, cucu, keturunan yang ada di dunia, mendoakan ruh orang tua dan para leluhur yang meninggal ketika melewati batas dimensi alam-alam tersebut. Terutama ketika melewati tujuh tahap alam, dalam proses kembali kepada Gusti Allah tadi. Yaitu, dengan mengadakan selamatan, sedekah, pada hari kematian ke-3, hari kematian ke-7, hari kematian ke-40, hari kematian ke-100, hari kematian ke 1 tahun, hari kematian ke 2 tahun, dan hari kematian ke-1.000.



Selain memberi pengajian yang membahas tahapan kembalinya manusia kepada Gusti Allah tersebut, Mas Agus ternyata juga sudah merasa waktu berpulang sudah dekat. Karena itu, dia memberi wasiat-wasiat penting.



Wasiat pertama, disampaikan kepada adik-adiknya ketika masih sehat. Yaitu, jika dirinya berpulang, agar dimakamkan di Kediri. “Jamaahku, murid-muridku akeh sing ning Kediri,” kata Prof DR Kiai Ngabehi Imron Arifin, menirukan wasiat Mas Agus, kakaknya.



Wasiat kedua, disampaikan Mas Agus pada putranya bernama Izzul Fikri. Agar kepengurusan Lesbumi PB NU sepeninggal dirinya dipimpin Kiai Jadul Maula dan Kiai Abdullah Wong. Keduanya menempati posisi wakil ketua dan sekretaris jenderal Lesbumi PB NU. “(Selain itu) ada beberapa wasiat pribadi untuk kami (putra-putrinya),” kata Gus Izzul Fikri.



Dan wasiat ketiga, disampaikan kepada H Mahfudz, salah seorang murid dekat Mas Agus di Kediri, agar jika dirinya wafat nanti, pusaranya setiap hari disiram air selama 40 hari. “Alhamdulillah setiap hari insya Allah saya bisa melaksanakan wasiat guru saya, Kiai Mas Agus Sunyoto ini,” kata Mahfudz.



Mas Agus pergi meninggalkan begitu banyak legacy bagi kami. Segala teladan dan ajaran yang diberikan tentu akan selalu kami ikuti. (hid)



Editor : adi nugroho
#badas #kediri #meninggal