Jika foto dianggap bisa bercerita, sketsa pun tak jauh beda. Itulah yang membuat Subroto gemar membuat sketsa tempat-tempat yang dia singgahi.
ILMIDZA AMALIA NADZIRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri
Bukan tanpa sebab bila Subroto menamai rumahnya di Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo, sebagai Omah Oretan. Secara harfiah, arti omah oretan adalah rumah coretan. Pada kenyataannya, Omah Oretan itu memang dia gunakan sebagai tempat memajang karya-karyanya.
Paling banyak karya itu berada di ruang tamu. Di dinding warna putih itu menggantung puluhan sketsa berpigura. Ukurannya juga berbeda-beda. Demikian halnya dengan objek yang dia sketsakan. Rata-rata berupa sketsa bangunan di suatu tempat.
Salah satu sketsa yang menarik perhatian adalah yang bergambar patung Garuda Wisnu Kencana (GWK). Ada beberapa penari di sketsa itu. “Saya buat pada 2018 saat saya ke Bali,” kata Subroto, si pemilik Omah Oretan.
Peralatan membuat sketsa tak pernah lepas dari perbekalan yang dibawa guru seni di salah satu SMA di Blitar setiap kali bepergian. Mulai dari buku gambar A5, bolpoin, pensil, penghapus, hingga penggaris.
“Selama ada waktu luang pasti saya menggambar sketsa. Menggambar langsung di tempat yang saya lihat,” terang lelaki yang menggunakan kaos putih dipadu celana hitam ini.
Banyak hal yang menjadi objek sketsanya. Namun pria kelahiran 1982 ini lebih suka menggoreskan suasana tempat atau bangunan. “Setiap tempat memiliki cerita dan saya ingin menceritakannya melalui sketsa,” imbuhnya.
Keahliannya itu diawali dari hobi sejak kecil. Broto yang suka corat-coret kertas. Kemudian, dia kuliah jurusan desain interior bangunan. Dia pun mencari berbagai keunikan. Dia berpikir kamera sudah banyak digunakan orang-orang untuk menyimpan memori dan kenangan. Karena itu dia memilih sketsa.
“Bangunan itu arsitekturnya terlalu serius, jadi itu tidak bisa dijadikan hobi seperti kerja yang terikat dengan aturan. Sementara saya ingin bebas di jalan melihat situasi dan gambar sekeliling dengan pandangan mata saya sendiri,” ujarnya.
Broto mengibaratkan alat yang dibawanya seperti kamera. Pensil dan kertas menjadikan alat tempurnya sehari-hari.
Baginya, sketsa tidak hanya sekadar menangkap realitas, benda, ataupun situasi dalam spontan. Namun harus berlandaskan gagasan. Ada cerita yang hendak disampaikan.
“Karena bukan lukisan, ini sketsa. Seperti lukisan yang tidak jadi namun sudah bercerita. Sudah kelihatan garis, kelihatan situasi seperti apa itu sudah cukup,” tandasnya.
Sebagai sketcher, puluhan event sudah diikutinya sejak SMA. Baik lokal maupun internasional. Salah satunya Internasional Semarang Sketcwalk. Saat itu dia bahkan mendapat pujian dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Menurutnya, sketcher punya pengertian khusus. Bukan hanya orang yang membuat sketsa saja. “Sketcher itu adalah orang yang hobi menggambar sketsa yang dilakukan di mana saja, kapan saja, dengan media apa saja. Dengan melihat langsung objek yang ada di depan mata,” urainya.
Saat pandemi, hobinya itu juga tak tertahan. Tapi dia tak berkeliling langsung. Ganti menggunakan Google street view dari Google Maps.
Editor : adi nugroho