Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pembuat Topeng Karakter yang Tembus Pasar Yunani dan Singapura

adi nugroho • Rabu, 21 April 2021 | 00:16 WIB
pembuat-topeng-karakter-yang-tembus-pasar-yunani-dan-singapura
pembuat-topeng-karakter-yang-tembus-pasar-yunani-dan-singapura


Berawal dari kecintaannya terhadap seni jaranan, Maswanto kepincut dengan topeng Ganongan. Dia lantas iseng membuatnya secara otodidak. Tak dinyana, keisengannya itu membawa berkah.


==========================


REKIAN, KOTA, JP Radar Kediri


==========================


“Rasanya senang sekali. Topeng saya laku,” tutur pria berkumis itu semringah. Mengenakan kaus singlet merah, Maswanto duduk lesehan di ruang tamu berlantai keramik. Ruangan berukuran sekitar 3x3 meter itu dijadikan workshop. Puluhan karyanya dipajang di dinding ruang tamu bercat hijau.


Lelaki 46 tahun itu tinggal di gang kecil RT 03/RW 01, Kelurahan Pakunden, Kecamatan Pesantren tinggal bersama istri dan anaknya. Suami dari Sustiani, 49, ini sudah sejak tiga tahun lalu menjalani profesi barunya sebagai pembuat topeng. Sebelumnya, dia bekerja sebagai tukang dekorasi pengantin.


“Selama 35 tahun saya ikut orang, jadi tukang dekor saat libur saya sering main jaranan. Sekarang saya sudah bisa mandiri,” ucap bapak satu anak itu kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (19/4). Siang itu, sekitar pukul 12.30, lelaki yang kerap disapa Man ini sedang mengutak-atik empat balok kayu waru yang sudah dibelah.


Di samping kayu itu sudah ada alat untuk memahat. Jika bahannya lengkap, satu hari dia bisa produksi lima topeng. Apalagi, jenisnya adalah topeng kreasi yang sampai saat ini masih banyak peminatnya. Setelah topeng pertama dia jual dengan harga Rp 125 ribu, sekarang harga topeng kreasi yang belum dipasang rambut dipatok dengan harga Rp 250 ribu.


Pasar rutinnya ada di Jogjakarta. Belakangan topeng kreasinya itu sudah meluas diminati banyak orang. Khususnya di Jawa Tengah. Menurut Maswanto, di Jateng topengnya disebut dengan topeng getruk. Sebelum pandemi, satu minggu dia bisa menjual minimal sepuluh topeng. “Kadang berhenti karena kekurangan bahan baku,” ucapnya.


Bahan utama pembuatan topeng itu adalah kayu. Jenisnya bisa apa saja. Waru, mangga, hingga nangka bisa dipakai. Jenis kayu biasanya menentukan berat atau ringan topeng tersebut. Selain kayu, bahan baku paling sulit dicari adalah ekor kuda. Harga satu ekor kuda bisa mencapai Rp 600 ribu. Itu untuk jenis ekor kuda berwarna putih. Jika tidak ada ekor kuda, dia biasanya menggunakan ekor sapi. Harga satu ekor sapi ini bisa Rp 250 ribu.


“Satu topeng biasanya butuh rambut dua ekor sapi,” ujarnya. Nah, ketika ia sudah memasang rambut di topeng tersebut maka harganya bisa melejit. Satu topeng bisa di atas Rp 1 juta. Tergantung kesulitannya. Selama ini yang paling banyak dia jual adalah topeng kreasi yang belum dipasang rambut.


Pria lulusan SD ini mengklaim, agar tidak menimbulkan bau dan rambut tidak rontok maka wajib baginya memberi obat-obatan dan mencuci rambut kuda atau sapi dengan deterjen. Resep itu dia dapat dari pengalaman uji cobanya.


“Saya membuat topeng ini secara otodidak. Tidak punya guru. Karakter topeng yang saya buat semuanya punya kesan horor,” ucapnya. Selain bermain di bagian mata, dia selalu menonjolkan gigi pada topeng yang sebagian besar ada taringnya.


Bagian paling sulit bagi Maswanto adalah membuat simetris antara mata kanan dan kiri. Kalau tidak terbiasa bisa melenceng. Lalu kesulitan kedua adalah pewarnaan. Cat yang melekat pada topeng itu semua kombinasi. Dia hanya punya empat warna, merah, putih, hitam, dan kuning. Dari hasil usahanya dia sudah bisa membeli kompresor untuk air brush. Sekarang sudah tidak lagi manual.


Maswanto rupanya tipe orang yang suka dengan tantangan. Jenuh dengan topeng seni, selama satu tahun terakhir dia mulai menekuni topeng karakter. Bentuknya lebih seram dari topeng kreasi. Hidung yang mancung, gigi bertaring, lidah menjulur panjang dan rambut panjang yang terurai membuat karyanya semakin berkembang.


Sekarang sudah ada 30 topeng karakter yang dipajang di dinding rumahnya. Harga paling murah dia bandrol seharga Rp 450 ribu tertinggi bisa jutaan. Meski saat beralih sempat gagal, Maswanto tidak lantas putus asa. “Saya itu sejak awal bikin topeng selalu di-support sama teman-teman,” ucapnya.


Berkat kerja kerasnya, mahasiswa asal Yunani yang kuliah di ISI Jogjakarta sempat bertandang ke rumahnya. Ia membeli satu paket karyanya berupa topeng, barongan dan pecut seharga Rp 5 juta. Waktu itu, orang asal Yunani itu menginap di rumahnya selama dua hari. Di sana orang Yunani itu juga belajar membuat topeng. Karena sudah ada bekal memahat, waktu dua hari sudah cukup.


Bukan saja dari Yunani, karyanya juga dipesan oleh orang Singapura. Waktu itu, dia minta topeng dikirim ke Batam. Topeng karakternya belum dipasarkan secara online. Dia yakin karyanya bisa tembus pasar luar negeri. Hanya saja ia mengaku kesulitan mengurus administrasi bila harus membuka penjualan ke pasar luar negeri.

Editor : adi nugroho
#budaya #indonesia #kerajinan #jaranan #seni