Bermula dari satu perusahaan senapan besar. Karena tutup, sebagian besar pegawai yang tinggal di sekitar pabrik pun membuka usaha yang sama. Membuat daerah yang berada di Jalan Semeru, Kelurahan/Kecamatan Pare ini dikenal sebagai kampung senapan angin.
-------------------------------------------------------
Sekilas, tidak ada yang aneh di Jalan Semeru. Selain sebagian besar warganya memiliki toko. Tetapi, saat diperhatikan baik-baik, ternyata toko-toko itu memiliki jualan yang tidak biasa. Yaitu senapan angin.
“(Pembuatan) senapan angin sudah ada sejak tahun 1974,” terang Yogiman, ketua RT 5, Kelurahan Pare. Pada tahun tersebut, perusahaan senapan angin ini bernama Bramasta yang merupakan milik warga bernama Kuzaini dan Mutaji.
Perusahaan senapan angin pertama ini berlokasi di Jalan Semeru. Di bangunan bercat putih pudar dan sudah berpuluh tahun tidak terpakai. Dulu menjadi tempat pembuatan berbagai macam senapan angin. Bertahan hingga 24 tahun, sekitar tahun 1986 perusahaan tersebut akhirnya tutup.
“Perusahaan ini hanya ada satu generasi saja,” imbuhnya. Yang menjadi penyebab adalah tidak ada anak yang tidak lagi meneruskan. Sebelum tutup, sempat ada yang meneruskan, namun tidak berlangsung lama. Tidak hanya pabrik saja yang terbengkelai, bangunan rumah yang tidak jauh dari pabrik kini terlihat tidak ada penghuninya.
Ketika pabrik masih beroperasi, saat itu sebagian besar pegawai Bramasta berasal dari warga sekitar. Begitu perusahaan tutup, masyarakat yang dulu bekerja di sana mulai membuka usaha sendiri. Biasanya usaha dimulai dengan membuka bengkel. “Setidaknya mengerti perbaikan senjata, dan perlahan menjadi membuat (senapan),” terang lak-laki berusia 55 tahun.
Salah satu karyawan Bramasta adalah Matsuki yang merupakan adik dari Kuzaini dan Mutaji. Setelah perusahaan yang didirikan kakaknya tidak beroperasi, Matsuki mendirikan Bimasta pada tahun 1986. Namun perusahaan tersebut tidak berlangsung lama, karena beberapa tahun kemudian tutup. “Mereka semua sudah menjadi almarhum,” ungkap Yogiman.
Tidak hanya dua perusahaan itu saja. Pada tahun 1980 juga terdapat perusahaan senapan angin bernama Pasopati. Perusahaan tersebut adalah milik Tokid. Karena semua keturunannya perempuan dan menjadi profesor, akhirnya tidak ada yang mengurusi perusahaan. Alhasil, pada tahun 1998 perusahaan tersebut tutup.
Kini masih terdapat lima lokasi, yang merupakan penghasil senapan dengan skala besar. Sedangkan untuk yang lain skala kecil, yang kebanyakan dijual secara online. “Kemungkinan sekitar 100 orang, kalau resmi sekitar 15 orang,” pungkas Yogiman. (ara/dea)
Editor : adi nugroho