Desa Tritik dan Bendoasri, Rejoso memiliki kekayaan cerita tiada tara. Bahkan sejak zaman prasejarah, jutaan tahun yang lalu. Mulai dari bukti terbentuknya daratan Jawa, masa flora dan fauna, hingga manusia purba tergambar jelas di sana. Salah satu buktinya adalah keberadaan sungai Jati Growong.
Jelajah jejak zaman purba di Desa Tritik, Rejoso membawa kepada berbagai temuan dan situs yang menawan. Tak hanya bernilai sejarah tinggi. Namun juga memiliki keindahan yang mampu membuat mulut menganga.
Yang paling sukses membuat mata terbelalak adalah keberadaan sungai Jati Growong. Sebuah sungai purba yang sudah dikenal warga setempat secara turun-temurun. Berdasarkan kajian keilmuan, sungai tersebut diperkirakan terbentuk sejak masa Pleistosen.
“Diperkirakan berumur lebih dari 800 ribu tahun yang lalu,” ujar Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Amin yang turut menjadi bagian dari tim ekspedisi mengaku sangat takjub ketika melihat sungai tersebut. Selain karena keindahannya, dinding batuan sungai juga memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Tak ayal, ia pun antusias dengan pengalaman pertamanya itu ke Jati Growong.
“Bisa dipastikan sungai purba karena melihat kondisi batuan yang ada di sana,” imbuh ayah tiga anak tersebut. Batuan yang juga menjadi dinding sungai itu, lanjut Amin, terbentuk dari batuan pasir yang berada pada kedalaman lautan dan pantai. Untuk bias menjadi batuan hingga mengeras membutuhkan waktu jutaan tahun.
Dinding sungai memiliki lekuk yang terbentuk secara alami. Dari proses yang terjadi dalam kurun waktu yang teramat lama. Lapisan di dinding sungi memiliki formasi kabuh. Yakni, berumur di atas 500 ribu tahun.
“Lapisan kabuh terbentuk dari proses alamiah. Dinding di sana terbentuk akibat pengikisan air di aliran sungai tersebut,” sambungnya.
Kontur aliran sungai memang cukup unik. Pasalnya ada patahan yang cukup curam di sana. Hampir mencapai dua meter. Untuk menuruninya tidak ada cara lain selain bergelantungan pada dinding sungai lalu menjatuhkan diri. Namun harus hati-hati memilih dasar sungai untuk pijakan. Sebab, ada beberapa titik relatif gembur.
Panjang sungai purba diyakini lebih dari 500 meter. Mulai dari hulu hingga hilir. Untuk menyusuri aliran sungai dengan dinding batuan tersebut tidak akan menguras tenaga. Pasalnya, sejauh kaki melangkah, mata akan dimanjakan pemandangan yang indah. Hanya saja, untuk mencapai sumber airnya kita harus mengeluarkan usaha lebih keras. Sedikit menanjak.
Warga setempat menamakan sungai Jati Growong lantaran di sumbernya terdapat sebuah pohon jati yang berlubang. Pohon jati itu yang digunakan sebagai penanda lokasi sungai. Sayangnya, kini pohon tersebut sudah tidak ada lagi. “Ditebang oleh orang tidak bertanggung jawab sekitar akhir 90-an,” sambung Susilo, 51, salah seorang pegawai Perhutani Nganjuk yang sering blusukan ke sana.
Meski telah lama mendengar nama Jati Growong, Susilo baru mendatangi sungai tersebut pada tahun 2012 silam. Bukan untuk penelusuran purbakala. Melainkan secara tak sengaja saat patroli hutan di RPH Tritik.
Pertama kali menemukan lokasi itu, kondisinya sangat memprihatinkan. Sumber air di sana sudah hampir mengering. Tiga tahun silam dia mulai menanami dengan pohon yang akarnya dapat menyimpan air. “Ring pertama saya tanami pohon Beringin. Lalu pohon Sepreh dan Lo,” tandas Susilo.
Pohon-pohon itu dipilih lantaran akarnya kuat dan dapat menyimpan air. Sedangkan di bantaran sungainya ditanami pohon Jambu. Pohon yang memiliki akar dengan karakter lembut namun bisa menahan pengikisan.
Baik Amin maupun Susilo memiliki harapan besar agar sungai bisa dirawat dan dimanfaatkan secara maksimal. Termasuk bisa menjadi lokasi wisata unggulan Kota Angin ke depannya. Untuk merealisasikannya dibutuhkan dukungan dari semua pihak. Mulai para birokrat hingga rakyat.
Editor : adi nugroho