Industri kerupuk pasir di Desa Pojok, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri tengah lesu. Sejak pandemi Covid-19, omzet para pengusaha mengalami penurunan drastis.
ILMIDZA AMALIA NADZIRA, Kabupaten, JP Radar Kediri
Di desa ini terdapat puluhan warga yang menekuni usaha ini sebagai bisnis turun temurun. “Sudah ada sejak tahun 1960-an,” ujar Srikana, salah satu perajin kerupuk pasir.
Saat ini, mungkin hanya Srikana, satu dari sedikit perajin kerupuk pasir yang bertahan. Seperti yang dilakukannya sore itu. Tangannya sibuk mengangkat hasil gorengan kerupuk pasir di mesin yang memutar di depannya.
Biasanya, banyak rumah berjejeran yang hampir seluruh halaman depannya digunakan untuk menjemur kerupuk pasir. Sedari dulu terkenal sebagai sentra pembuatan kerupuk pasir.
Produknya bahkan sudah didistribusikan hingga Surabaya, Blitar, Malang, Tulungagung dan luar Jawa Timur. Kendati demikian, sejak mewabahnya Covid-19, aktivitas produksi kerupuk pasir menjadi terganggu. Selain itu, kegiatan pendistribusiannya pun tidak bisa berjalan dengan normal.
Meski langit sedang mendung, tak membuat aktivitas Srikana untuk tetap menggoreng kerupuknya. Biasanya, Srikana dibantu pekerjanya untuk proses produksi kerupuk jualannya.
Namun sejak pandemi, dia harus menggoreng sendiri kerupuknya untuk meminimalkan pengeluaran. Sebelum pandemi, dia memiliki tujuh orang pekerja, namun sekarang hanya dua orang yang bertahan. “Itupun tidak setiap hari, dua hari dalam seminggu mereka bekerja,” terangnya.
Bahkan, sekarang sudah jarang ditemui jejeran kerupuk yang dijemur di halaman rumah warga. Banyak perajin kerupuk yang beralih profesi sebagai petani dan kuli bangunan karena sudah tidak mampu produksi kerupuk.
Hanya tersisa Srikana dan suaminya yang masih bertahan memroduksi kerupuk pasir hingga sekarang di Desa Pojok ini. Sebelum pandemi, Srikana mengaku memproduksi kerupuk 100 hingga 150 kilogram per hari. “Sekarang hanya 50 kilogram perhari,” akunya sembari menyangrai pasir.
Ibu tiga anak ini benar-benar merasakan dampak pandemi pada usahanya. Pasalnya omzet penjualannya menurun drastis. Dahulu dia bisa meraup puluhan juta dalam sebulan. “Ya sekitar Rp 8 sampai 10 juta,” ujarnya.
Omzet itu didapat karena permintaan kerupuk pasir yang banyak diminati masyarakat sebelum pandemi. Bahkan tak jarang dari luar kota seperti Solo hingga Kalimantan membeli kerupuknya. Namun sejak pandemi, dia tidak berani mengirim dagangannya ke luar kota untuk mencegah penularan Covid-19. Alhasil, omzet yang di dapat hanya mencapai 2 hingga 3 juta dalam sebulan. “Segitu sudah untung-untungan, karena toko langganan juga mengurangi pengambilan kerupuk,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum pandemi, per hari dia bisa mengirim 10 hingga 20 bungkus dengan harga Rp 4 ribu di tiap toko langganannya. Sekarang hanya mampu memasok lima bungkus per hari. Belum lagi jika ada kerupuk yang harus dikembalikan kepadanya karena melempem.
Dari hasil usaha kerupuk pasir yang sudah digeluti selama 23 tahun ini, dia sudah bisa membeli satu hektare sawah dan tanah seluas 120 meter untuk ditempati anak-anaknya kelak. Dia lebih senang penghasilannya digunakan untuk tabungan jangka panjang. “Ya untungnya punya sawah,” ujarnya tertawa kecil.
Selain mengeluhkan penghasilan, Srikana juga kesulitan bahan baku pasir. Hal ini dikarenakan pasokan pasir dia dapat dari pasir pesisir pantai dari luar kota Kediri. “Biasanya ambil dari Tulungagung, sekarang kan sudah ditutup sejak pandemi, kalau ambil pasir sungai nanti rasanya beda tidak segurih pasir pantai” ujarnya. Untuk itu, dia hanya mengandalkan pasokan pasir yang dibeli sebelum pandemi tahun lalu.
Pasir yang digunakan juga harus melewati beberapa tahap hingga bisa digunakan untuk menggoreng kerupuknya. Pasir dicuci terlebih dahulu hingga benar-benar bersih. “Air yang keluar harus sampai jernih,” terangnya.
Setelah itu, pasir disangrai di wajan besar. Setelah disangrai baru dimasukkan ke dalam mesin penggorengan yang terbuat dari drum. Drum itu dimodifikasi sedemikan rupa hingga bisa memutar saat proses penggorengan.
Meski usaha kerupuk pasirnya kian lesu, dia menganggap usaha kerupuknya ini menjadi pekerjaan utama. “Meskipun yang lainnya gulung tikar, saya tidak akan ikut-ikutan,” tutur nenek satu cucu itu. Karena, usaha kerupuk pasirnya ini merupakan usaha turun temurun dari orang tua suaminya, sebelum diambil alih pada tahun 1997. Dia yakin usaha kerupuknya bisa terus berjalan meski omzetnya tak sebesar dulu. Karena dia masih harus menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi. (dea)
Editor : adi nugroho