Pabrik peninggalan Belanda di Dusun Kandeg, Desa Waung, Baron ini tinggal menyisakan tembok sekeliling yang sepintas mirip pagar atau benteng. Kondisi tersebut justru menarik minat muda-mudi untuk swafoto di sana. Mereka menjulukinya sebagai Van Den Bosch-nya Nganjuk.
SRI UTAMI, BARON. JP Radar Nganjuk
Bangunan setinggi lebih dari 10 meter itu terlihat menjulang dari kejauhan. Terletak di dekat perkampungan warga, bangunan yang dulu konon merupakan gudang tembakau atau pabrik tembakau itu memang tak bisa menutupi usianya yang tua.
Di banyak bagian bangunan, plesternya sudah mengelupas. Menyisakan tumpukan batu bata berwarna merah tua yang berderet rapi. Sebagian ditumbuhi lumut yang mengering hingga berwarna kecokelatan. Di sisi lain, ada bagian tembok yang ditumbuhi rumput liar.
Jika selama puluhan tahun tak dilirik, keberadaan bangunan tua yang oleh warga sekitar dijadikan sebagai tempat berolahraga itu kini justru diminati oleh muda-mudi dari luar Baron. “Keren banget. Pertama kali datang langsung suka,” ujar Najwa Ismi Nur Azizah, 21.
Gadis asal Desa Kweden, Ngetos itu datang ke sana setelah diberi tahu temannya. Kali pertama melihat foto bangunan pabrik yang tinggal menyisakan temboknya itu, dia langsung tertarik.
Bersama fotografer kenalannya, gadis yang akrab disapa Wawa itu langsung membuat konten di sana.
Tak sekadar foto, dia juga membuat video bersama temannya yang kemudian diunggah di media sosial Instagram. “Tempatnya memang kereeeeen!” serunya.
Kedatangan gadis berjilbab itu ke Baron sedianya hanya untuk membuat konten foto dan video di stasiun Baron. Niatnya langsung berubah setelah melihat foto bangunan tua itu. Kebetulan jaraknya juga tidak terlalu jauh dari sana.
Begitu diberi tahu jika bangunan itu merupakan pabrik, gadis yang pernah bekerja di Malang sempat tak percaya. Sebab, tidak ada lagi “wujud” pabrik di sana. Atap dan beberapa bangunan lain sudah tidak ada. Hanya menyisakan tembok sekeliling. “Malah bagus banget. Seperti benteng Van Den Bosch di Ngawi,” urainya takjub.
Meski sudah mengksplorasi berbagai sudut bangunan tua itu, Wawa tidak tahu riwayat bangunan tersebut. Termasuk apakah pabrik peninggalan Belanda itu dulunya merupakan pabrik tembakau, pabrik gula, atau peruntukan lainnya. Mereka memang tidak memedulikan sejarahnya. Bagi mereka yang terpenting adalah keindahan bangunan tua itu.
Untuk diketahui, selain Wawa, banyak muda-mudi Nganjuk lain yang memilih berswafoto dan membuat konten di sana. Gambar tentang bangunan tua itu dari berbagai angle bertebaran di beberapa platform media sosial. Terutama di Facebook dan Instagram.
Camat Baron Kasno yang dikonfirmasi terkait keberadaan bangunan tua bekas pabrik Belanda di wilayahnya, mengakui jika bangunan tersebut banyak diminati warga dari luar Nganjuk. Meski demikian, menurut Kasno bangunan itu berbahaya. “Mulai lapuk,” paparnya.
Beberapa waktu lalu, warga setempat meminta agar tinggi tembok itu dikepras sekitar tiga meter. Mereka takut bangunan roboh setiap saat. Terutama, jika musim hujan dan terjadi angin kencang di sana.
Merespons ketakutan warga yang tinggal di dekat pabrik, menurut Kasno para kepala desa di Kecamatan Baron sudah sepakat meminta agar bangunan dikepras agar tidak membahayakan lingkungan. Opsi lainnya, bangunan bisa diperkuat. “Kalau hujan dan angin kencang, warga di dekat pabrik mengungsi,” jelasnya.
Terpisah, Plt Direktur Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Tirto membenarkan jika aset tersebut belum dimanfaatkan selama puluhan tahun terakhir. Terkait banyaknya minat pengunjung di bangunan bekas pabrik Belanda yang jadi jujukan swafoto muda-mudi Nganjuk, PDAU masih menunggu perubahan status dari perusahaan daerah (perusda) menjadi perusahaan umum daerah (perumda).
Apakah PDAU berencana menjadikan bangunan lama itu sebagai objek wisata? Tirto menyebut bangunan itu merupakan aset yang menganggur. Tentang pemanfaatannya, pria berkacamata itu berujar masih akan bekerja sama dengan ahli dari dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR). “Mereka yang akan menilai apakah bangunan itu sudah lapuk atau tidak. Bisa diperkuat atau dirobohkan,” terang Tirto.
Jika memang bangunan bisa diperkuat, aset tersebut menurut Tirto memang bisa dikaji sebagai opsi pariwisata di Nganjuk. “Nanti menunggu hasil kajiannya,” imbuh pria yang juga direktur PDAM Nganjuk itu.
Editor : adi nugroho