Cabor wushu berhasil mengharumkan nama Nganjuk. Ini setelah M. Saiful Rozikin meraih medali emas dalam Kejurnas Wushu virtual 2020, 8-12 Juli lalu.
ANDHIKA ATTAR. SAWAHAN, JP Radar Nganjuk.
Dilihat dari posturnya, M. Saiful Rozikin tak jauh berbeda dengan bocah seumurannya. Fisiknya yang kecil membuat warga Desa Sidorejo, Sawahan tersebut tidak begitu istmewa.
Padahal, Ipul, begitu ia akrab disapa, merupakan atlet wushu yang memiliki prospek cerah ke depannya. Bagaimana tidak, ia baru mulai berlatih wushu sejak tiga tahun lalu. Namun, setiap setahun sekali pasti berhasil menggondol medali emas. “Padahal dulunya sewaktu masih TK, Ipul anak yang cengeng dan penakut. Sekarang sebaliknya,” ujar Suprihatin, 45, ibunda Ipul.
Adalah Diah Sandi Pratiwi, 21, sang kakak kandungnya yang pertama mengenalkan ipul dengan cabor wushu. Mulanya, Diah mengaku prihatin dengan kondisi mental dan fisik adiknya. Pasalnya, Ipul diakui seringkali mendapat persekusi di sekolahnya.
Bahkan, Ipul tak jarang pulang ke rumah dengan mata sembab. Pernah juga ia pulang tanpa membawa tas sekolah. Bukan karena hilang. Melainkan disembunyikan teman-temannya yang sekadar jahil.
Dengan kondisi tersebut, Diah berpikiran positif jika kebiasaan buruk yang dimiliki Ipul dapat terkurangi. Akhirnya ia memilih untuk mendaftarkan Ipul ke salah satu sasana. “Tapi tujuan awalnya biar Ipul ada kegiatan positif dan kesehatannya terjaga,” imbuhnya.
Mulailah Ipul berlatih saat duduk di kelas 3 SD. Dalam seminggu, setidaknya dua kali ia berlatih di sebuah klub yang ada pelatihnya. Tiga bulan latihan, ia langsung ditawari untuk menunjukkan keahliannya. Sebuah ajang kejuaraan tingkat dearah di Jombang menjadi batu lompatannya.
Dari kejuarannya tersebut, Ipul berhasil menyabet medali emas. Terlecutlah semangatnya untuk terus dan terus berlatih. Bahkan, setelah kejuaraan tersebut, Ipul mengaku telah jatuh cinta dengan cabor wushu ini.
Tahun lalu, dibuka kembali kejurprov untuk cabor wushu. Dalam kesempatan tersebut, Ipul juga berpartisipasi. Di otaknya hanya ada menjadi juara dalam setiap kejuaraan tersebut. Emas pun kembali disabetnya. “Sekarang anaknya sudah tidak cengeng lagi. Kalau saya awalnya itu dulu saja sudah cukup,” timpal Suprihatin.
Namun, bukan Ipul namanya kalau berpuas diri sampai titik itu saja. Ia kembali mengikuti kejurnas wushu yang rencananya dilaksanakan April lalu di Semarang. Akomodasi dan kebutuhan lainnya sejatinya telah disiapkan oleh orang tuanya.
Hanya saja, mendekati hari kejuaraan, panitia setempat memilih menunda acara. Pasalnya, pandemi covid-19 tidak mengizinkan lokasi tersebut sebagai tempat acara. “Sempat kecewa sebenarnya dia tidak jadi iku kejurnas,” celetuk Suprihatin.
Namun, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Apalagi, panitia memang tidak berencana untuk meniadakan kejurnas tahun ini. Hanya sebatas penundaan. Sembari menunggu kondisi negeri membaik.
Hingga akhirnya pada 8 hingga 12 Juli lalu diselenggarakanlah acara akbar tersebut. Kejurnas wushu akhirnya berhasil digelar. Namun, konsep dan mekanismenya benar-benar berbeda. Kejuaraan tersebut dilakukan secara virtual atau daring. “Ipul ikut lomba dari sini, kan secara daring. Alhamdulillah, hasilnya memuaskan,” tutur sang bunda.
Ipul dinyatakan kembali menjadi juara pertama dalam kejurnas tersebut. Ia didapuk mendapatkan medali emas. Dia berhasil mengalahkan puluhan peserta dari daerah lainnya.
Sayangnya, lantaran digelar secara daring, penyerahan hadiah tidak bisa langsung diberikan seperti saat bertanding langsung. Hadiah dan medali emas jatah Ipul dikirimkan ke rumahnya. Hanya saja, hingga kini belum datang juga.
“Medalinya sampai sekarang masih belum datang. Katanya masih dalam proses pengiriman,” timpal Suprihatin.
Ke depannya, Ipul mengaku memang berniat serius dalam cabor tersebut. Ia bercita-cita menjadi atlet wushu profesional. Beruntung, keluarganya juga sangat mendukung minat dan bakatnya.
Suprihatin dan Jatmiko, 49, suaminya mengaku akan memberi support penuh. Baik dari sisi psikologi maupun ekonomi. Mereka berharap dengan bakat yang dimiliki, banyak pintu rezeki yang nantinya dapat terbuka bagi Ipul.
Editor : adi nugroho