Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dusun yang Terisolasi Itu Kini Ramai Dikunjungi

adi nugroho • Selasa, 11 Agustus 2020 | 19:05 WIB
dusun-yang-terisolasi-itu-kini-ramai-dikunjungi
dusun-yang-terisolasi-itu-kini-ramai-dikunjungi

Banyak cara untuk mengenang perjuangan para pahlawan. Pemdes Margopatut, Sawahan melakukannya dengan menyulap lokasi napak tilas Jenderal Soedirman menjadi tempat wisata. Dusun Magersari yang dahulu terisolasi karena terpencil itu kini dikunjungi banyak orang.


REKIAN, SAWAHAN, JP Radar Nganjuk 


Namanya Kampung Soedirman. Ada pula Bukit Soedirman. Terletak di Dusun Magersari, Desa Margopatut, Sawahan. Sesuai namanya, dua objek wisata yang ada di lereng gunung Wilis ini memang menyimpan sejarah tentang perjuangan Jenderal Soedirman saat bergerilya di Nganjuk. Puluhan tahun silam. 


Untuk menuju lokasi yang ada di ujung selatan Desa Margopatut itu, pengunjung harus menempuh jarak sekitar delapan kilometer dari jalan utama kecamatan. Tak seperti jalur lain di Desa Margopatut yang sudah beraspal, akses menuju ke sana masih makadam dan menanjak.


Sepanjang jalan menuju Kampung Soedirman dan Bukit Soedirman, mata disugihi deretan pohon cengkih yang dibudidayakan oleh mayoritas warga setempat. “Jalan makadam ini belum lama. Dulu aksesnya sempit. Sekarang sudah lebih baik. Lebar,” ujar Mahfud, warga Desa Margopatut. 


Sejak 2017 lalu, akses jalan sudah diperlebar dan ditata batu-batu besar alias makadam. Sehingga, saat hujan tidak lagi licin dan membahayakan pengendara yang melintas. “Sudah tidak licin lagi,” lanjut pria berusia berusia 42 tahun itu.


Keberadaan jalan makadam itu sekaligus membuka akses bagi Dusun Magersari. Hingga pemerintah desa memutuskan membuka wisata Bukit Soedirman dan Rumah Soedirman.


Adalah cerita tentang sosok Janiman yang jadi dasar pem­bukaan tempat wisata itu. Pria yang pernah menandu Jenderal Soedirman itu sempat menunjuk beberapa lokasi yang didatangi oleh jenderal besar itu. Termasuk saat sang panglima itu bermalam di rumah Khasan, yang puluhan tahun silam menjabat kepala dusun. “Waktu itu Janiman menunjuk lokasi tempat Jenderal Soedirman bermalam. Lokasinya kini dibuatkan tugu bambu runcing,” lanjutnya. 


Keberadaan tugu bambu runcing ini tak lepas dari tekad warga Desa Margopatut untuk melestarikan sejarah Soedirman di sana. Termasuk salah satunya Mahfud yang sudah beberapa kali mengusulkan pembangunan tugu di sana. 


Dia ingin mengubah lokasi napak tilas itu jadi tempat wisata setelah melihat respons para pegiat sosial dari Kediri yang datang ke sana beberapa tahun silam. Meski kelelahan mereka merasa gembira saat tiba di bukit dengan peman­dangan indah itu. 


Pemandangan dari atas bukit itu memang sangat indah. Ham­paran pohon pinus dan perpaduan awan berarak membuat suasana asri desa tergambar jelas. Ditambah dengan udara yang sejuk, membuat rasa lelah menempuh perjalanan dengan medan yang menanjak itu terbayarkan. 


Dari sana, lantas tebersit untuk membuat wisata di lokasi napak tilas Soedirman. “Konsepnya adalah wisata sejarah,” ucap pria yang kini didapuk menjadi Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Margo Lestari, KPH Kediri ini. 


Untuk menyelamatkan napak tilas Jenderal Soedirman, dia ingin membuat tanda berupa tugu. Mahfud lalu mengajak babinsa di desanya bermusyawarah dan disetujui. Dibuatlah pagar dengan rantai dan besi di tengahnya bambu runcing yang dicat warna merah dan putih. 


Sejak 2017, ia merintis lokasi khusus di tempat napak tilas itu dengan nama Bukit Soedirman. Di sana dibuatkan spot untuk berswafoto dari ketinggian. Setelah membuat satu titik, dua tahun berikutnya atau 2019 lalu dibuka lagi untuk lokasi kedua diberi nama Kampung Soedirman. 


Selain fasilitas bermain anak dan keluarga, disediakan pula tempat untuk menikmati makanan. “Luasnya sekitar satu hekatere,” bebernya sembari menyebut dua lokasi wisata itu sudah bisa mulai dikunjungi penikmat wisata. 


Melihat lokasi yang dirintisnya mulai ramai dikunjungi orang, pria berpeci itu mengaku senang. Baginya, lokasi wisata itu tidak hanya bertujuan untuk men­dongkrak perekonomian warga setempat. Lebih dari itu, merawat jejak perjuangan sang pahlawan agar bisa dikenang dan diteladani oleh para generasi muda. 

Editor : adi nugroho
#margopatut #sawahan #kabar nganjuk #radar nganjuk