Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Anjal dan Pemulung Kediri Gabung, Tampil di Solo Keroncong Festival

adi nugroho • Sabtu, 25 April 2020 | 09:31 WIB
anjal-dan-pemulung-kediri-gabung-tampil-di-solo-keroncong-festival
anjal-dan-pemulung-kediri-gabung-tampil-di-solo-keroncong-festival


Mereka sering dipandang negatif. Dicap sebagai momok bahkan sampah masyarakat. Berkeliaran dari lampu merah satu ke lampu merah lain. Di tangan orang yang peduli, bakat mereka akhirnya bisa tersalurkan ke arah positif.


 


LU’LU’UL ISNAINIYAH, Kabupaten, JP Radar Kediri


 


Jalan itu bernama Gang Buntu. Lokasinya di Desa Bogokidul, Kecamatan Plemahan. Di gang itulah sanggar seni dan tradisional ini berada. Menggunakan salah satu bagian dari rumah bercat kuning. Milik lelaki pensiunan bernama Suprayitno.


“Semenjak ada korona, tak ada latihan musik, Mbak,” ujar lelaki 62 tahun ini  mengawali percakapan.


Saat itu, sanggar itu dalam keadaan sepi. Hanya ada dua orang di antara deretan alat-alat musik. Pak Yit, panggilan Suprayitno, dan rekannya, Beni Prasetyo. Kedua orang inilah penggagas terbentuknya sanggar seni dan tradisi yang kini bernama Sasana Setya Dharma Nusantara ini.


Butuh waktu lama bagi keduanya mewujudkan angan-angan mulia itu. Lima tahun mereka perlukan untuk mematangkan ide membentuk paguyuban seni dan tradisi. “Akhirnya sudah berjalan satu tahun ini kami mendeklarasikan paguyuban,” sela Beni, yang juga salah seorang ketua paguyuban.


Mengapa begitu lama mewujudkan satu paguyuban seni? Karena anggota paguyuban ini ‘istimewa’. Mereka terdiri dari anak jalanan (anjal) dan pemulung.


“Kendalanya ya itu, ngemong anak jalanan ini gak gampang,” ucap Pak Yit, sembari mengusap debu di badan gitar. Lama tak digunakan membuat peralatan musik itu mulai ditumpuki debu.


Memang, Pak Yit punya kepedulian pada kelompok yang biasa termarginalkan itu. Sejak dia masih berdinas di Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Kediri lima tahun silam. Dia mulai melakukan pendekatan pada para anjal tersebut.


 “Saya bertanya kepada mereka,  kenapa kok bekerja seperti ini? Mereka bilang ini pekerjaan yang paling gampang. Karena tidak butuh surat lamaran,”  kenang Pak Yit, kala dia mulai mendekati para anjal itu.


Di mata Pak Yit, anggapan bahwa anak-anak yang beroperasi sebagai pengamen dan anjal ini sebagai sampah dan momok perlu diluruskan. Mereka hanya tak mendapat pembinaan saja. Hanya sebatas diusir dan diusir saja.


Karenanya, dia kemudian berusaha membangun satu wadah bagi anak-anak tersebut. Tapi tidak mudah. Awalnya, anak-anak itu sudah diatur. Apalagi mereka takut akan dipungut biaya. Membayar iuran untuk kas paguyuban.


“Saya tidak mengambil keuntungan dari mereka. Saya hanya membantu mengembangkan potensi yang mereka miliki,” tegas bapak tiga anak ini.


Pak Yit merangkul Beni untuk merealisasikan impiannya itu. Hingga akhirnya terwujud secara resmi setahun silam. Meskipun, kegiatan mereka sudah berlangsung sejak lima tahun lalu.


Paguyuban ini mengangkat kesenian tradisional yang nyaris punah. Seperti keroncong, campursari, mocopatan, karawitan, tari, dan kentrung. “Di setiap seni nanti ada pelatihnya sendiri-sendiri. Kebetulan kami bekerja sama dengan komunitas keroncong, karawitan, dan lainnya,” urai Beni.


Untuk kelompok keroncong, mereka sudah berani tampil di festival yang berlangsung di Solo. Tidak hanya sekali. Bahkan, jika tidak ada wabah korona, tahun ini mereka juga akan kembali ikut. “Sudah tiga tahun ini mereka ikut acara festival tersebut. Ya pemainnya dari para pengamen. Tugas kami mem-back up dan menyediakan akomodasi untuk berangkat ke sana,” kata pria 45 tahun ini.


Memang, paguyuban beranggota 300-an anjal ini terpaksa vakum sejak beberapa bulan terakhir. Tak ada lagi kegiatan latihan yang biasanya berlangsung Sabtu di sanggar yang ada di rumah Pak Yit. Kalaupun berkumpul, mereka hanya berjumlah sedikit. Itupun bukan untuk latihan.


Termasuk salah satu aktivitas rutin tampil di salah satu warung di Kota Kediri juga terhenti. Biasanya, kelompok keroncong paguyuban ini biasa tampil di salah watu warung di daerah Mojoroto, Kota Kediri. “Demi mentaati aturan pemerintah kami hentikan segala kegiatan latihan dan juga tanggapan (permintaan tampil, Red),” ujar Beni.


Kondisi ini membuat Beni dan Pak Yit iba. Karena para anjal itu terpaksa kembali ke jalan. Sebagian mengamen, sebagian lagi menjual makanan ringan ke penumpang kendaraan umum. “Di musim seperti ini, mereka mau ngamen kadang ditolak. Untuk masuk desa aja gak boleh,” tambah Beni.


Rencananya, mereka akan menggelar pentas seni di Desa Bogokidul. Waktunya, 20 Agustus mendatang.

Editor : adi nugroho
#solo #kediri #plemahan