Di tengah pandemi Covid-19, Stevanus T. Priya dan Sri Lestari punya kepedulian yang sama. Pasangan suami istri (pasutri) asal Kelurahan Campurejo, Mojoroto ini membuat APD yang didonasikan pada tenaga kesehatan.
IQBAL SYAHRONI, KOTA, JP Radar Kediri
Siang itu, lantunan lagu pop terdengar dari speaker hitam kecil di depan garasi rumah di Jl Rinjani, Kelurahan Campurejo, Kecamatan Mojoroto. Dua laki-laki sedang menata kain spunbond berwarna biru di dalam garasi itu. Mereka mengukur kain tersebut.
Ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri, pria berkaus hitam dan menggunakan masker mengenalkan diri bernama Stevanus Tetuko Priya Saputra. Ia sedang mengukur kain spunbond dibantu salah satu tetangganya. “Nggih Mas, silakan duduk. Saya sambil mengukur ini (kain spunbond, Red), nggih,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Pria yang akrab dipanggil Ivan Brekele ini rupanya tengah mempersiapkan kain tersebut menjadi baju untuk alat pelindung diri (APD). Ditanya untuk apa, Ivan menjelaskan, sedang membuatkan APD untuk didonasikan ke petugas medis.
“Merekalah yang saat ini tengah berjuang di tengah Pandemi Covid-19,” ujarnya.
Selama empat tahun, Ivan bersama Sri Lestari, 34, istrinya, memang bekerja di rumah. Mereka membuka usaha jahit atau konveksi untuk pembuatan gaun dan kebaya.
Namun, di tengah pandemi seperti ini, Ivan berhenti untuk menjahit gaun dan kebaya. Mereka curahkan keringat untuk menjahit APD bagi para tenaga medis. “Dikirim ke rumah sakit dan puskesmas,” terang Ivan.
Sembari mendesain dan mengukur bahan untuk dijadikan baju APD, Ivan menceritakan, biasanya dengan sang istri membuat kebaya untuk pengantin yang menikah. Atau sering juga membuat gaun untuk penyanyi saat perform. Mulai dari Nella Kharisma, Happy Asmara, dan lain-lainnya.
Sekarang Ivan dan Tari – sapaan Sri Lestari – mencurahkan keringat dan ilmu desain serta menjahitnya untuk kemanusiaan. Ia melakukannya sudah sejak sekitar dua minggu yang lalu.
“Awalnya saya dan istri ingin mendonasikan secara pribadi di rumah sakit (RS) dan di puskesmas. Namun, banyak juga dari organisasi amal yang meminta tolong dibuatkan APD. Mereka pun akan mendonasikannya,” ungkap Ivan.
Tentu saja, karena terbiasa membuat gaun dan kebaya, trial and error pasti juga terjadi saat membuat APD. Keduanya melihat-lihat desain di internet. Bahkan saat coba membuat beberapa APD pun sempat gagal. Baik dari bahan kain hingga akhirnya direkomendasikan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Kediri, untuk membuat APD dari bahan spunbond.
Setelah dilakukan dan berhasil, akhirnya Ivan menyumbangkan masing-masing 20 APD ke rumah sakit yang menangani Covid-19. Selain di rumah sakit, keduanya juga menyumbangkan APD tersebut ke puskesmas. Itu untuk penanganan pertama jika ada yang mengeluhkan sakit.
Ivan merasa bahwa hanya hal itu yang bisa dilakukannya sebagai desainer dan penjahit. Dia merasa prihatin melihat situasi sekarang. Musibah yang tidak bisa diukur dan ia merasa setiap warga harus saling bekerja sama.
Ditanya untuk kegiatan pembuatan gaun dan kebaya, Ivan mengaku, menundanya terlebih dahulu. Ia masih memfokuskan pada pembuatan APD ini. Bahkan dalam satu hari, pasutri ini bisa membuat sampai 80 APD. Itu apabila mereka lembur hingga malam hari.
Selain baju, Ivan dan Tari juga membuat masker dan face shield. Semuanya juga termasuk yang akan disumbangkan ke rumah sakit. “Sekalian, agar lebih lengkap,” paparnya.
Hingga sekitar pukul 11.00 kemarin, Ivan bersama Tari sudah dalam tahap cutting kain. Setelah diukur dan dibuat pola di garasi dengan alas dari meja pingpong, Ivan dengan telaten mengukur setiap presisi. Itu untuk memotong tumpukan kain tersebut menjadi pola baju APD. Musik dari speaker hitam kecil yang terletak di bawah meja masih terdengar merdu. Membantu agar suasana tidak sepi.
Editor : adi nugroho