Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Pemuda Desa Peduli Sungai, Cari Ikan tanpa Setrum dan Potasium

adi nugroho • Sabtu, 21 Maret 2020 | 21:07 WIB
ketika-pemuda-desa-peduli-sungai-cari-ikan-tanpa-setrum-dan-potasium
ketika-pemuda-desa-peduli-sungai-cari-ikan-tanpa-setrum-dan-potasium

Menangkap ikan dengan cara tradisional memang mulai ditinggalkan. Namun, di Desa Keling, cara menangkap ikan dengan memanfaatkan bahan bekas seperti botol air mineral masih dilakukan.


MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.


Sebenarnya banyak cara untuk mendapatkan ikan di sungai pedesaan. Seperti menggunakan setrum, pancing, ataupun dengan bahan beracun. Hanya saja, tak banyak yang peduli bahwa perlakuan tersebut bisa berdampak fatal. Pencemaran lingkungan, hingga matinya habitat lain di sungai. Tentu, kelestarian dan keseimbangan makhluk hidup pada air tawar itu terancam.


Nah, bagaimana jika perlakuan membahayakan itu diubah dengan cara tradisional yang lebih aman. Seperti yang dilakukan sejumlah pemuda di Desa Keling, Kecamatan Kepung. Hanya berbekal botol bekas air mineral dan beberapa umpan sederhana, tak sedikit ikan yang bisa tertangkap. “Yang pasti dengan cara ini lebih ramah lingkungan,” ujar Gunawan Wibisono, ditemui Jawa Pos Radar Kediri ketika ia mencari ikan di salah satu sungai di desanya.


Gemericik air mewarnai suasana pedesaan siang itu. Udara segar ditambah hijaunya rumput disekitar sungai membuat kondisi sungai masih tampak asri. Apalagi ditambah berbagai jenis satwa air yang cukup melimpah, membuat kawasan Kali Kembangan tampak hidup.


Suasana itulah yang menurut Iwan, panggilan akrab pemuda itu sangat perlu dipertahankan. Sebab, tak jarang ada pemburu ikan di sana yang menggunakan cara tak bijak ketika susur sungai. Menggunakan setrum dan potasium yang diklaim sangat membahayakan. “Dengan menggunakan bahan sederhana seperti botol ini lebih aman. Sekaligus ramah lingkungan,” jawabnya.


Siang itu Iwan memang sedang mencari ikan di sungai desanya. Tampak tiga botol air mineral yang menjadi senjata pemuda yang juga anggota Karang Taruna Putra Kalingga Desa Keling ini. Botol itu bukan untuk minum, melainkan sebagai alat utama perangkap ikan.


Iwan menjelaskan, cara kerja perangkap dari botol bekas ini adalah menjebak ikan untuk masuk perangkap dan tidak dapat keluar lagi. Karena bahan yang digunakan merupakan botol berukuran kecil, tentu saja perangkap ini hanya akan digunakan untuk menangkap ikan-ikan kecil di sungai. “Seperti wader, uceng, wader pari, kadang juga udang bisa masuk sini,” jelasnya sembari menunjukkan botol ampuh yang ia gunakan itu.


Tiga botol yang ia bawa itu, telah dilubangi sedemikian rupa untuk menjebak ikan. Caranya mudah, dengan memotong bagian leher botol air mineral tersebut, kemudian bagian atasnya diposisikan sedemikian rupa agar masuk ke badan botol dengan bagian mulut botol menghadap ke dalam. “Sebelum ditaruh di sungai, diberi umpan berupa pur dan bekatul, harganya cukup murah dan tak perlu banyak-banyak,” tambahnya.


Iwan menerangkan, perangkap yang telah dibuat itu diletakkan di pinggiran sungai yang airnya tidak terlalu deras. Jika terlalu deras, dikhawatirkan perangkap akan terbawa arus. Nah Iwan meletakkannya satu persatu. Belum sampai dua menit ada sejumlah ikan yang masuk perangkap. “Jadi tanpa menunggu lama, kita taruh botol satu, botol lain sudah dapat ikan. Dan seterusnya,” ungkap Iwan sembari menunjukkan hasil tangkapannya itu.


Tentu, cara yang ia lakukan ini sangatlah efektif. Bisa menjadi contoh anak milenial dalam memanfaatkan barang bekas menjadi nilai guna. Membuat perangkap ikan sederhana, juga ramah lingkungan.

Editor : adi nugroho