Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Wahyu Sri Astutik, Perawat Bergelar Doktor di Pemkab Kediri.

adi nugroho • Jumat, 28 Februari 2020 | 17:44 WIB
wahyu-sri-astutik-perawat-bergelar-doktor-di-pemkab-kediri
wahyu-sri-astutik-perawat-bergelar-doktor-di-pemkab-kediri

Perawat ini  tak pernah berpikir soal gelar. Namun, keuletan dan kegigihannya mengantarnya meraih gelar doktor. Semuanya diraih dengan beasiswa.


 


MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.


 


Wahyu Sri Astutik mengembangkan senyum di salah satu lorong RSUD Kabupaten Kediri. Tepat di depan ruang kerjanya sebagai kepala bidang keperawatan. Mengenakan seragam dinas rumah sakit milik Pemkab Kediri itu, penampilannya sangat bersahaja.


Meskipun demikian, wanita yang biasa disapa Wahyu ini menyimpan kemampuan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Di depan namanya tersanding gelar doktor ilmu lingkungan dari Pascasarjana Universitas Brawijaya (UB). Kajiannya tentang ilmu lingkungan dan pembangunan.


“Awalnya saya tidak kepikiran bisa sampai ke jenjang ini,” ujarnya.


Memang, bila tidak ada penawaran beasiswa, Wahyu mengaku tak akan bisa lanjut pendidikan hingga jenjang tersebut.  Dia mengakui sejak awal melalui pendidikan di jenjang sarjana selalu dengan beasiswa. Termasuk ketika lanjut sarjana di Universitas Indonesia karena tugas belajar. Bahkan, di Kabupaten Kediri, saat itu ia menjadi satu-satunya sarjana di bidang ini di tahun 1991.


Nah pada awal 1990 an, ia juga menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi kesehatan swasta di Kediri. Mengajar dari pagi hingga sore. Sampai tahun 2000 Wahyu mengambil S2 Manajemen Rumah Sakit di UGM. “Saya berani berangkat karena dibiayai pemerintah,” cetusnya.


Kesempatan pendidikan S2 selama dua tahun dimanfaatkan betul oleh Wahyu. Dia juga bisa lulus empat bulan lebih cepat. “Alhamdulillah, ada sisa biaya dari beasiswa. Jadi saya manfaatkan itu untuk membuka usaha di rumah,” ujar perawat yang memiliki klinik dengan nama Wahyu Husada ini.


Dari sisa waktu itu, Wahyu sedikit demi sedikit mencoba usaha mandiri. Yakni dengan membuka klinik sederhana di rumahnya. Bahkan, saat itu juga dia diberi mandat untuk ikut mendirikan Akademi Kebidanan dan Keperawatan Pamenang Kabupaten Kediri. Hingga menjadi direktur di kampus tersebut mulai 2002 hingga 2006.


Kesempatan itu tak terlepas dari kerja kerasnya dalam hal pelayanan. Ia memang tekun dan disiplin. Tak kenal lelah dalam menjalani pekerjaan. “Yang paling penting tetap berserah kepada Allah,” ucap syukur perempuan yang sempat menjabat Kabag Perencanaan di RSUD Kabupaten Kediri ini.


Nah, meski sibuk dengan pelayanan di rumah sakit, Wahyu juga masih diberi kepercayaan untuk menjadi rektor di salah satu kampus swasta di Pare. Ia menjabat rektor selama dua tahun.


Tak hanya itu, ia juga ada penawaran untuk melanjutkan pendidikannya hingga jenjang doktor. “Prinsip saya bekerja sebaik-baiknyanya. Tetap profesional dan perfeksionis,” aku Ketua PPNI Kabupaten Kediri ini.


Sejak awal bekerja ia memang sudah terbiasa merangkap. Baik itu kuliah dengan kerja. Memang, hal itu sulit. Namun Wahyu tetap istiqomah dalam menjalaninya. Tips yang paling penting adalah selalu ingat pesan orang tua. “Sudah terbiasa merangkap. Alhamdulillah sekarang semua keinginan orang tua tercapai,” ungkapnya.


Pesan yang selalu diingat itu, sejak Kecil ayahnya menduduk menjadi orang yang jujur dan tekun. Termasuk disiplin dalam segala hal. “Sementara Ibu saya mendidik sebagai entrepreneur. Kalau kakak saya berpesan untuk pintar berorganisasi,” tandasnya.


Semua pesan itu bisa dijalaninya dengan baik. Bahkan semuanya juga telah menjadi satu dengannya. Menjadi pengusaha yang tetap profesional dengan jabatannya di lingkup pemerintahan. Termasuk menjadi pimpinan organisasi yang selalu loyal dengan setiap orang.


 

Editor : adi nugroho
#malang #universitas brawijaya