Metode belajar di sekolah alam ini sangat menyatu dengan lingkungan sekitar. Memanfaatkan benda-benda apa saja yang ada di sekitar. Juga, sekolah ini mengajarkan toleransi yang tinggi.
Memasuki halaman sekolah ini yang terlihat adalah hamparan rumput hijau. Dengan salah satu sudutnya dihiasi dengan gazebo berukuran sekitar 3 meter persegi. Di gazebo tersebut terlihat aktivitas belajar-mengajar. Seorang guru tengah dikerubuti siswa-siswanya yang masih berusia play group.
Di sudut yang lain, di ruangan yang mirip aula, seorang guru memancing siswanya agar aktif terlibat. Sang guru itu melontarkan pertanyaan. Setelah itu para siswa berebut mengacungkan tangan. Berusaha menjawab pertanyaan.
Pemandangan orang yang belajar bukan satu-satunya yang mendominasi tempat ini. Beberapa anak juga terlihat asyik beraktivitas di atas hamparan rumput. Ada yang sedang bermain tali karet. Mereka memanjangkan tali karet tersebut. Setelah panjang kemudian melepaskannya. Disusul kemudian dengan derai tawa berbarengan.
Sudut halaman yang lain beberapa anak bermain loncat tali. Ada juga yang bermain ayunan, seluncur, serta bergelantungan di dahan pohon mangga. Tentu dengan pendamping guru di sekitarnya.
Mereka itu adalah siswa sekolah alam Ramadani. Sekolah alam yang didirikan oleh Ulya, 41. Warga Kelurahan Mojoroto, Kecamatan Mojoroto ini memanfaatkan halaman rumahnya untuk tempat belajar.
Sesuai namanya, siswa sekolah alam memang lebih banyak belajar di tempat terbuka. Memanfaatkan alam untuk semua pelajaran yang diberikan. Misalnya dalam pelajaran matematika, siswa diajak ke lapangan untuk menghitung benda-benda yang ada.
“Misalnya anak-anak yang di (tingkat) play group, mereka belajar menghitung di halaman dengan menghitung belalang. Atau menghitung (jumlah) kendaraan yang lewat di jalan” jelas Ulya.
Sekolah alam yang dikelola Ulya juga membuka diri untuk semua yang berminat. Termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Apakah itu down syndrome, speech delay, hiperaktif, ataupun autis. “Selain itu biasanya ada anak luar biasa. Kalau bahasa kasarnya itu anak nakal. Tapi kalau perilakunya membaik nanti dipindahkan dari sini,” terangnya.
Menariknya, Ulya tak membedakan antara murid berkebutuhan khusus dan yang biasa. Mereka bermain bersama. Hal itu untuk mendorong kepedulian terhadap sesama. Memahami kondisi sesama dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Salah satu visi sekolah alam yang dia dirikan, kata Ulya, adalah menghilangkan kebiasaan bully atau persekusi. Dan, menurutnya, hasilnya sangat terlihat. Dia menceritakan ada salah seorang siswanya yang lumpuh. Tiap bersekolah harus berkursi roda.
“Anak-anak yang lain berebut mendorong kursi roda tersebut. Sesuai doktrin yang kita tanamkan agar selalu mencintai semua makhluk Tuhan dan alam semesta,” terang Ulya.
Selain itu sekolah ini juga mengajari toleransi terhadap agama lain. Yakni dengan mengajak mereka mengunjungi wihara, pura dan gereja. “Hal tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa hormat dan cinta kepada umat yang beragama lain,” terang Ulya.
Metode belajar di sekolah alam memang berbeda dengan metode belajar di sekolah konvensional. Hal itu yang kadang belum banyak dipahami oleh orang tua. Untuk itu Ulya juga memberi progam parenting. “Misi kami untuk memerdekakan jiwa anak. Karena metode yang berbeda maka wali murid juga harus memahami,” sambung Ulya.
Warga Jalan Supit Urang ini mengaku sekolahnya itu terinspirasi dari novel Toto Chan :‘Gadis Cilik di Jendela (1981)’. Novel tersebut karya Tetsuko Kuroyanagi. Yang menceritakan kehidupan masa kecil Tetsuko di SD Tamoe Gakuen, Tokyo, Jepang.
Novel itu banyak mengangkat nilai-nilai pendidikan yang berbeda. Siswa yang berada di sekolah tersebut lebih banyak siswa luar biasa dan berkebutuhan khusus. Siswa SD Tamoe Gakuen kebanyakan drop-out dari sekolah negeri. Salah satu yang paling berkesan dalam novel itu, menurut Ulya, adalah kemerdekaan dalam belajar.
Selain dari Toto Chan, Ulya memadukan konsep belajar di sekolah alam itu dengan metode belajar Taman Siswa. Sebab, di perguruan yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara itu, cara belajarnya aplikasi dari kehidupan sehari-hari. Yang sangat efektif dibanding belajar melulu di kelas.
Alumni Pondok Pesantren Gontor Putri Ngawi ini juga menerapkan visi kemerdekaan terhadap jiwa anak kepada anaknya yang masih berusia 6 tahun, Najib. Hasilnya, Najib sudah berani mengekspresikan diri dengan bermain pantomim. “Kadang-kadang kami membuat kolaborasi pentas seni keluarga. Saya yang mendongeng, Najib yang pantomim. Terus suami yang mendongeng dengan wayang,” terangnya.
Berawal dari Titipan Anak Tetangga
Sekolah Alam Ramadhani berdiri sejak 2010. Sebagai pendiri, sebenarnya Ulya tak pernah mempunyai pemikiran membuat sekolah alam. Pemikiran itu muncul ketika dia mengundurkan diri sebagai guru honorer pada 2009.
Setelah dia mengundurkan diri sebagai guru honorer, beberapa tetangganya mulai menitipkan anak mereka ke Ulya. Hal tersebutlah yang mendorong Ulya untuk mendirikan sekolah alam.
Sebelum mantab mendirikan sekolah alam, Ulya sempat galau menentukan metode yang tepat. Ulya ingin mendirikan sekolah yang berbeda dengan yang lain. “Aku mikir kalau sekolah yang aku dirikan nanti sama dengan yang lain, kan kurang menarik,” dalih Ulya.
Ulya pun melakukan riset. Untuk menemukan metode yang berbeda. Riset itu melalui buku dan internet. Juga studi ke beberapa sekolah alam yang lain. Misalnya, Ulya pernah studi banding ke Komunitas Belajar Qarhay Thayyibah yang berada di Salatiga. Juga Sanggar Anak Alam yang berada di Jogjakarta.
Tapi menurutnya sekolah alam yang dia beri nama ‘Ramadhani’ tersebut lebih banyak mengadopsi metode belajar Sanggar Anak Alam.
Selain itu, dari sekolah alam yang dia dirikan, Ulya berupaya menekan biaya pendidikan semurah mungkin. Untuk menekan biaya tersebut, Ulya memanfaatkan jaringan wali murid. “Memang ada sekolah alam dengan biaya mahal. Tapi kami berusaha dalam setiap kegiatannya tidak selalu mengeluarkan biaya. Misalnya melakukan outing ke rumah wali murid. Belajar mengetahui dari pekerjaan wali murid,” kata Ulya.
Ulya pun tak ragu untuk mengajak anak-anak berjalan kaki keluar dari lingkungan sekolah. Tentunya perjalanan tersebut tak terlalu jauh. Misalnya berjalan ke sisi timur sekolah yang merupakan jalan raya.
“Dengan berjalan kaki ke tempat terdekat dari sekolah maka tidak mengeluarkan biaya. Lalu kami mengenalkan kepada mereka profesi di sekitar. Atau menghitung kendaraan yang lewat di jalan raya,” tambah Ulya.
Selain itu ada outing class yang unik dari sekolah alam ini. Yaitu mengajak siswa ke pasar. “Mereka kami bekali uang. Lalu meminta mereka membelanjakan uang tersebut di pasar. Dari kegiatan tersebut, hasilnya anak-anak mempunyai inisiatif untuk membuka kantin di sekolah,” terangnya.
Ide itu berasal dari anak-anak. Kata mereka, jajanan pasar kan bisa kita jual,” tambah Ulya.
Dari mengaplikasikan kehidupan sehari-hari tersebut akhirnya menumbuhkan rasa kemandirian siswa. “Yang dijual semua merupakan jajanan pasar. Dan sistem kantinnya membeli dengan bayar seikhlasnya,” pungkas Ulya.
Editor : adi nugroho