KABUPATEN, JP Radar Kediri - “Ini cabai prentul. Ukurannya (lebih) besar dibanding cabai rawit (biasa).” Kata-kata itu diucapkan oleh Bibit, 50. Petani cabai Prentul di Desa Susuhbango, Kecamatan Ringinrejo. Menurutnya, Prentul sangat khas. Bentuknya tak lurus panjang. Tapi berliku bila diperhatikan. Rasanya, ternyata lebih pedas bila dibanding cabai rawit.
Prentul sendiri baru satu dari berbagai jenis cabai yang tumbuh subur di Kabupaten Kediri. Masih ada varietas lain yang juga banyak ditanam petani. Selain Prentul ada Mantili, Brenggolo, Galunggung, dan Gada dari Kebonrejo. Kelima cabai itu banyak ditanam karena yang paling cocok dengan dataran rendah. Tak seperti cabai merah yang lebih cocok di dataran tinggi.
Perawatan Prentul, menurut Bibit, tidak sulit. “Gampang sih Mas, hanya disemprot saja kalau sudah waktunya. Itu pun tidak tentu. Kadang kalau sudah ada tanda-tanda mau kena penyakit cabai disemprot,” terangnya.
Beberapa penyakit memang mengincar Prentul. Mulai dari jamur, bintik hitam yang kemudian membuat busuk, dan juga menyeng nama warga setempat untuk menyebut lalat buah.
Zaenal, 30, petani lain, menambahkan bahwa pertumbuhan dan berbuahnya cabai jenis ini tergolong cepat. Tiga bulan setelah tanam sudah bisa mulai panen. “Yang dipanen ini yang warnanya merah. Yang sudah mau merah juga dipanen,” ungkap petani yang sudah menanam Prentul lebih dari 10 tahun ini.
Kalaupun ada kendala, menurutnya, adalah penyakit puter. Daun yang diserang akan menjadi kuning dan mengkerut. “Kalau gak kena penyakit ini bunganya bisa lebat dan buahnya cepat merah,” tambahnya.
Hasil menggiurkan Prentul juga memikat Nobi, 46. Petani dari desa yang sama ini menanami lahannya yang seluas 100 ru dengan jenis tersebut. Buahnya yang besar dan perawatannya yang mudah adalah penyebab dia menanam jenis ini. Juga, harganya relatif stabil. “Kalau bulan lalu sempat jual Rp 75 ribu per kilogram. Sekarang katanya Rp 29 ribu sudah turun itu di tingkat pengepul,” jawabnya.
Di Ringinrejo, ada lagi cabai yang banyak ditanam petani. Namanya Mantili. Sekilas bentuknya sama dengan Prentul. Yang membedakan adalah ukurannya yang lebih kecil dari Prentul tetapi lebih besar dari cabai rawit. Juga pohonnya yang lebih rendah dibanding Prentul. “Perawatannya hanya dipupuk dan gak perlu disemprot dengan pestisida,” jelas Qoimun, petani yang menanam cabai jenis Mantili. Menurut Qoimun cabai jenis Mantili setiap lima hari sekali selalu dipetik. Kalau tidak justru bisa jatuh ke tanah dan busuk.
Lain lagi dengan di Plosoklaten. Di daerah sentra cabai ini terkenal dengan jenis Brenggolo. Jenis ini termasuk menjadi ciri khas cabai Kediri.
Cirinya, pohonnya bisa mencapai tinggi 85 cm. Dengan daun yang relatif kecil dan tidak lebat. “Ya ini khasnya sini, cabai Brenggolo namanya. Sesuai dengan nama desanya. Cabai ini tahan lama. Makanya harganya termasuk tinggi daripada cabai yang lain,” terang Harjito, 65, petani cabai Brenggolo di Desa Brenggolo, Kecamatan Plosoklaten.
Cabai Brenggolo termasuk yang paling banyak dicari. Perawatannya relatif mudah. Hanya perlu pemupukan sekali sebulan. “Cabai ini tahan hama. Tidak cepat busuk dan lebih pedas,” tambahnya.
Kalau dari bentuk fisik, cabai Brenggolo mirip dengan Prentul. Tapi lebih besar dan panjang. “Kalau sudah tua buahnya ini ke atas dan diujungnya juga lancip. Beda sama cabai biasanya,” terang Harjito.
Satu lagi jenis cabai yang ditanam di Plosoklaten adalah Galunggung. Jenis ini memiliki pertumbuhan pohon dan buah yang cepat. Juga lebat buahnya. “Ukurannya lebih panjang daripada cabai Brenggolo. Kalau sudah tua buahnya itu ke bawah dan ukurannya itu loo, besar,” terang Suyono, 50, saat ditemui di petak cabai Galunggung miliknya.
Menurutnya, untuk proses penanaman jenis cabai ini mudah. Tidak perlu diatur dengan plastik-plastik. Jaraknya pun bisa diperkirakan. Demikian pula dengan perawatannya, sangat mudah. Hanya perlu pemupukan sekali sebulan. “Kalau panennya empat hari sekali. Senin dan Kamis,” pungkasnya.
Di lereng utara Gunung Kelud, jenis cabai merah yang menjadi primadona petani ada dua jenis. Gada dan Imola. Meski hampir sama, dua jenis cabai ini memiliki perbedaan karakter. “Gada itu jika dikirim lebih tahan lama. Kualitasnya juga bagus,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Untuk jenis Imola, Karjani menyebut jenis ini keunggulannya adalah produksi yang melimpah. Membuat petani bisa mendapat hasil lebih banyak.
Selain dua jenis cabai tersebut, Karjani menyampaikan ada beberapa jenis lain yang ditanam di Kebonrejo. Yakni Astina, Baja, dan Arimbi. Hanya saja, semua jenis itu ia menegaskan jika kondisi cuaca yang tak mendukung, tetap saja menjadi kendala dalam budidaya cabai merah di sana. “Semua kalahnya dengan hujan,” ungkapnya.
Tahun ini, ia mengaku satu petak lahan cabai miliknya gagal panen. Sehingga terpaksa untuk dilakukan pembongkaran lahan. Rencanannya Karjani akan mengganti satu petak lahan cabainya itu dengan tanaman tomat. “Tapi saya menunggu intensitas hujan menurun. Baru ditanami tomat,” akunya.
Sementara itu, dari data Asosiasi Petani Cabai Indonesia, Kabupaten Kediri nama-nama varietas cabai yang sering ditanam mulai dari Pusaka, Sambi, Ori 212, dan Manu/Prentul. Itu merupakan nama yang resmi.
“Untuk nama tergantung petani, dimana sebenarnya merupakan varietas yang sama namun memiliki nama yang berbeda,” terang Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo, melalui Kasie Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Arahayu Setyo Adi.
Contohnya jika di wilayah Kediri, diberi nama Prentul. Namun di wilayah lain diberi nama dengan Prentul Stroberi.
Prentul
Ciri : Bentuk buahnya lebih pendek dan berliku, rasa lebih pedas, tiga bulan setelah tanam bisa dipanen, mudah perawatan
Mantili
Ciri : Ukuran antara cabai rawit dan Prentul, pohonnya lebih rendah, pemupukan sebulan sekali, pemetikan saat berbuah lima hari sekali.
Brenggolo
Ciri : Tinggi pohon 85 cm, daun kecil dan tidak lebat, lebih tahan lama, pemupukan hanya sekali sebulan, rasanya lebih pedas, buah lebih besar dan lebih panjang dibanding Prentul.
Galunggung
Ciri : Pertumbuhan pohon dan buah cepat, berbuah lebat, lebih panjang dari Brenggolo, petik empat hari sekali saat masa panen.
Editor : adi nugroho