Senin, 06 Apr 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
SAMUDI

Mari Go Organik!!!

19 Februari 2020, 07: 04: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

SAMUDI

Oleh : SAMUDI (radarkediri)

Share this          

Kondisi penurunan produksi cabai di musim ini memang sangat dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi. Terutama pada fase generatif pertumbuhan tanaman. Saat curah hujan tinggi, kandungan nitrogen (N) atau udara bebas terikat bersama air hujan. Sehingga mengakibatkan kelebihan N. Tentu hal tersebut di fase ini berdampak pada bertambahpanjangnya fase vegetatif tanaman.

Pengaruh lain, curah hujan yang tinggi juga akan berpengaruh terhadap metabolisme tanaman cabai. Pengaruh terbesar adalah pada proses fotosintesa. Hal ini terkait dengan lama penyinaran sinar matahari terhadap laju fotosintesa tanaman cabai. Nutrisi-nutrisi yang seharusnya digunakan sebagai bahan baku fotosintesa justru mengalami pencucian. Hingga pemupukan yang diberikan tidak efektif dan efisien.

Di sisi lain, curah hujan tinggi akan meningkatkan serangan penyakit. Seperti layu bakteri, layu fusarium, antraknosa(patek/busuk buah), busuk daun, dan yang sekarang menjadi momok para petani cabai Kabupaten Kediri, juga seluruh Indonesia bahkan dunia, adalah penyakit begomovirus.

Penyakit begomovirus disebabkan oleh infeksi begomovirus, anggota kelompok geminivirus. Penyakit yang disebabkan vektor kutu kebul bemisia tabaci yang hingga saat ini tidak ada yang mampu mengendalikannya. Cirinya adalah daun keriting berwarna kuning.

Tak hanya kondisi cuaca yang menjadi permasalahan bagi penurunan cabai pada musim ini. Beberapa tahun terakhir, hal yang juga menjadi permasalahan serius adalah kondisi tanah yang semakin tak sehat. Tentu, hal ini diakibatkan karena penggunaan pestisida kimia yang berlebih.

Sistem budi daya tanpa memperhatikan keberlanjutan daya dukung lahan, yakni dengan penggunaan pestisida sudah dimulai sejak revolusi hijau. Atau sejak tahun 1950-an. Penggunaan bahan kimia yang tinggi yang dirasa mampu meningkatkan produksi jutru berdampak sebaliknya. Akibatnya semakin menurunnya daya dukung lahan.

Bahkan hingga saat ini kondisi karbon organik tanah dari nilai ideal 5 persen sudah menurun tajam mencapai angka 1 persen. Artinya penurunan penambahan bahan organik hingga 16 kg per meter persegi. Sehingga  untuk mencapai angka 5 persen dibutuhkan adanya upaya penambahan bahan organik sebesar 16 kg/meter persegi. Angka 16 kg ini pun masih didapatkan nilai C.  Organik dalam tanah baru mencapai 3-4%.

Hal inilah yang penting dipahamkan kepada petani kita. Pada 2010 Indonesia dicanangkan Go Organik. Namun hingga saat ini baru 20 persen dari total petani di Indonesia yang paham akan pentingnya hal tersebut. Dampak dari kimiawi sudah dapat kita rasakan baik lingkungan maupun kesehatan. Oleh karena itu, kesadaran dalam memproduksi pangan khususnya di Kediri ini penting. Mulai menjamurnya petani organik adalah bentuk wujud kesadaran masyarakat Kediri tentang pentingnya kelestarian alam demi masa depan generasi yang akan datang.

Kami berharap semoga petani cabai di Kabupaten Kediri dapat lebih bijaksana dalam menjalankan aktivitas produksi cabai. Syukur-syukur sudah mulai ke sistem pertanian berkelanjutkan. Atau mendukung program go organik ini. (Dosen Fakultas Pertanian UNISKA/disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Radar Kediri Didin Saputro)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia