Efektivitas bank sampah di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) 3R Desa Bangkok, Kecamatan Gurah, tak bisa dilepaskan dari peran wanita ini. Sebagai pemungut sampah daur ulang dari warga dia merupakan ujung tombak. Semua itu dia lakukan karena rasa pengabdian yang tinggi.
Jalanan Desa Bangkok relatif ramai di siang menjelang sore itu. Kendaraan tak pernah sepi berlalu-lalang di jalanan selebar sekitar tiga meter itu. Sesekali, kendaraan roda empat yang melintas menyisakan debu berterbangan. Setelah dilindas roda.
Di antara kendaraan-kendaraan yang melintas itu salah satunya ada motor modifikasi. Honda bebek Revo itu diberi gerobak di samping kiri. Berukuran 1,5 meter persegi. Plus satu roda di badan gerobak warna biru itu.
Duduk di jok motor, sekaligus yang pegang kemudi adalah seorang wanita berjilbab. Namanya Binti Isrowiyah. Sementara di gerobak motor itu duduk enam orang ibu-ibu. Mereka sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Bila diamati lebih teliti, wanita berusia 41 yang memegang kemudi itu punya kekurangan dibanding yang lain. Kedua kakinya berukuran lebih kecil bila dibandingkan kaki orang normal. Ya, Binti memang penyandang disabilitas. Karena stunting, sejak kecil kakinya tak tumbuh secara normal. Bila berjalan harus pelan.
Ketika lima orang wanita lainnya sibuk menimbang dan membersihkan sampah yang baru diambil dari depan rumah warga, Binti mencatat setoran itu ke buku. Kemudian menyerahkan uang ke warga yang meminta pembelian sampah itu secara tunai.
Meskipun cacat, Binti sangat gigih bila berurusan dengan sampah. Kepeduliannya untuk mengatasi persoalan sampah layak diapresiasi. Dengan semangat tiap hari dia mengambil sampah-sampah rumah tangga yang dihasilkan warga Desa Bangkok.
Sampah-sampah itu adalah sampah warga yang bisa didaur ulang. Berisi gelas dan botol plastik bekas kemasan air mineral atau minuman ringan lainnya. Juga plastik-plastik bekas bungkus makanan. Sebagian juga sampah bekas kardus. Semua dipilah sesuai dengan jenisnya.
”Kami setiap hari ambil sampah seperti ini di tiap RT,” ungkap Binti sambil menunjukkan sampah yang ia angkut.
Tidak hanya mengambil sampah-sampah itu, Binti dkk juga bertugas ‘menyulapnya’ jadi barang-barang bermanfaat. Didaur ulang menjadi berbagai perlengkapan. Terutama untuk kebutuhan dekoratif.
”Setelah kami ambil dan pilah, selanjutnya akan kami proses di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST, Red) 3R,” ungkap ibu dengan dua anak ini.
Binti juga memilah sampah-sampah plastik itu. Membedakan mana yang bisa dijadikan bahan seperti kerajinan. Serta mana yang harus diolah lagi menjadi bahan lain seperti briket mapun minyak plastik.
”Kami harus memilah kembali barang plastik yang bisa diolah dan plastik yang bisa digunakan anyaman,” terangnya.
Sebenarnya, Binti dkk mendapat honor dari pekerjaannya itu. Nilainya memang tak besar. Setiap dua bulan sekali mereka mendapat honor sekitar Rp 700 ribu. Yang diperoleh dari selisih penjualan bahan daur ulang dengan pembelian ke warga. Namun, selama ini Binti tak pernah memanfaatkan uang tersebut.
”Saya ikhlas mengabdi Mas. Saya tidak akan mengambil ataupun menerima uang hasil daur ulang itu,” tandasnya.
Uang itu, yang dihasilkan dari hasil daur ulangnya tersebut, dia masukkan kembali ke kas bank sampah. Yang bisa digunakan untuk digunakan pengembangan wisata edukasi TPST 3R yang saat ini sedang digarap oleh Pemerintah Desa Bangkok. “Uangnya langsung saya masukan kas. Insya Allah saya ikhlas Mas,” paparnya.
Masih Mau Ngajar di TPQ
Semangat pengabdian Binti Isrowiyah benar-benar membara. Di sela-sela kesibukannya mengambili sampah plastik ke rumah warga setiap hari, dia masih menyempatkan diri mengajar di tempat pendidikan Alquran (TPQ) di desanya. Hal itu juga dilakukannya setiap hari!
“Biasanya siang hari saya mengajar ibu-ibu warga sekitar. Sebelum saya mengambili sampah,” ucap wanita ini, saat ditemui di ruang tamunya yang berukuran 6 x 5 meter tersebut.
Meskipun kegiatan sosial yang ia kerjakan itu setiap hari, namun raut wajahnya tak menunjukkan rasa lelah. Binti mengaku menjalankan setiap kegiatannya dengan tulus.
Cita-citanya untuk mengajar tanpa pamrih itu bukan tanpa alasan. Menurutnya, meski ia hanya bersekolah formal sampai sekolah dasar (SD) saja, namun keinginannya untuk berbagi ilmu agama patut diapresiasi. “Saya hanya ingin memberikan sedikit ilmu agama saya dari salah satu pondok pesantren di Desa Bangkok. Mumpung belum terlambat,” ucapnya.
Upaya yang dikerjakannya pun mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah desa setempat. Bahkan, kepala Desa Bangkok secara pribadi mempersiapkan rumahnya untuk digunakan aktivitas mengaji tersebut.
“Alhamdulillah antusiasme warga sini (Desa Bangkok, Red) lumayan baik. Dan banyak yang ikut ngaji,” papar Binti.
Sama seperti dalam pengambilan sampah, Binti pun enggan diberi upah dari kegiatannya mengajar itu. Binti tidak mau menerima uang dari hasil pengajiannya tersebut. “Saya tidak akan dan tidak mau menerima uangnya. Saya ikhlas,” tegasnya.
Memang, di balik fisiknya yang tidak sempurna, Binti terlihat menikmati setiap yang ia kerjakan. Meskipun harus mengendarai motor modifikasi difabelnya itu. Bahkan, jarak yang harus ia tempuh pun tak pendek. Ia harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer. “Ya setiap hari ini kendaraan saya,” ucap Binti sambil menunjukkan motor modifikasinya itu.
Menurutnya, ia menjalankan setiap kegiatanya tersebut untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa warga difabel juga produktif. Selain itu, stigmatisasi bahwa kaum difabel hanya menyusahkan masyarakat ingin ia ubah menjadi hal yang positif. “Kami semata-mata hanya mengharapkan ridha Allah. Tidak lebih Mas,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho