Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Penambang Perahu Sungai Brantas di Jalur Seberang Kras–Mojo

adi nugroho • Sabtu, 27 Juli 2019 | 22:52 WIB
kisah-penambang-perahu-sungai-brantas-di-jalur-seberang-krasmojo
kisah-penambang-perahu-sungai-brantas-di-jalur-seberang-krasmojo

    


Sudah 10 tahun menyeberangkan penumpang, tetap tidak mudah mengendalikan perahu tambangan. Butuh perkiraan cermat kapan tongkat pengayuh diayunkan. Slamet dan Arif harus punya insting tepat menghitung kedalaman dan arus sungai.


 


DWIYAN SETYA NUGRAHA


 


 


Siang itu, matahari merangsek naik memanasi bantaran Sungai Brantas. Tak terkecuali di tepi bantaran yang menghubungkan tiga kecamatan Mojo, Ngadiluwih, dan Kras. Berjarak sekitar 1 kilometer (km) dari Jembatan Wijayakusuma, Ngadiluwih, aktivitas tambangan di sana menggeliat.


Salah satunya yang menghubungkan Desa Jambean, Kras dengan Desa Ploso, Mojo. Di tempat itu, dua laki-laki terlihat sibuk mengobek dayung perahu dan menarik kabel. Mereka seperti tak menghiraukan mentari yang menyengat.


Slamet dan Arif. Itulah nama dua lelaki 40 tahun tersebut. Keduanya penambang perahu konvensional. Tanpa dilengkapi mesin, ‘senjata’ mereka hanyalah tenaga untuk mengayuh dayung.


Di atas perahu dengan diameter 12 x 4 meter inilah Slamet mengais rezeki. Meski akses Jembatan Wijayakusuma sudah difungsikan, keduanya tetap setia menunggu penumpang. Satu penumpang pun dilayani, diantar menyeberang.


“Kalau nunggu ramai dulu, perahu tambang bisa ditinggal (penumpang),” ungkapnya.


Jasa perahu tambang masih diminati meski telah terbuka akses jembatan. Transportasi ini dipilih karena bisa memangkas waktu meski harus membayar. “Namun sejak ada jembatan itu (Wijayakusuma), jumlah penumpang turun hingga 60 persen,” ujar Slamet.


Ketika memasuki musim hujan para penambang waswas jika debit air Brantas meningkat. “Ada kekhawatiran juga setiap musim hujan, mulai dari meluapnya air sampai derasnya arus. Kadang kami memilih tidak bekerja,” ungkap bapak satu anak ini.


Sebab saat hujan debit air sungai meninggi. Hal ini sering diikuti derasnya arus. “Biasanya ada kiriman air dari Gunung Wilis disertai potongan kayu. Jadi menghambat kami menambang,” terang Slamet.


Ongkos penumpang menyeberang Rp 2 ribu. Tak sedikit warga yang memilih abonemen. “Dulu sebelum ada jembatan itu, dalam sehari bisa ratusan abonemen. Kini hanya puluhan saja,” ujar pria asal Desa Jambean, Kras ini.


Abonemen yang dimaksud merupakan program langganan untuk pelanggan yang setiap hari menggunakan perahu ini. “Selain memberikan kemudahan juga untuk mempermudah penumpang biar masih memakai jasa tambang ini,” ujarnya.


Kebanyakan pelanggannya buruh pabrik, pelajar, dan orang tua santri di beberapa ponpes. Untuk menyeberang hanya butuh waktu dua menit.


Slamet sudah menekuni pekerjaan itu sejak 2009. Kini pekerjaan penambang perahu itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Dia bisa memenuhi kebutuhan hidup anak dan istrinya dari hasil tambangan. “Kami hanya bisa bertahan di tengah gempuran pembangunan jembatan,” tandasnya.


Hidup Slamet memang tak bisa jauh dari Sungai Brantas. “Sejak kecil saya sering main kesini (Sungai Brantas) hanya sekadar mancing, eh setelah tua malah jadi penambang perahu,” kenangnya.


Walau sudah 10 tahun menggeluti pekerjaan itu, tetap saja tidak mudah mengemudikan perahu. Butuh perkiraan yang cermat kapan tongkat pengayuh bisa diayunkan. “Butuh feeling untuk mengobek ini, tergantung arus sungai dan kedalamannya,” papar Slamet.


Yang menarik selama menggeluti pekerjaan ini, dia sering melihat mayat yang mengapung di sungai. “Sudah biasa lihat mayat mengapung karena terbawa arus,” pungkasnya.


 

Editor : adi nugroho
#kras #kediri #mojo #sungai brantas #sungai