Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dewi Khusnul Mufida, Perajin Tas Rajut yang Juga Seorang Disabilitas

adi nugroho • Minggu, 12 Mei 2019 | 21:16 WIB
dewi-khusnul-mufida-perajin-tas-rajut-yang-juga-seorang-disabilitas
dewi-khusnul-mufida-perajin-tas-rajut-yang-juga-seorang-disabilitas

Keterbatasan fisik tidak menghalangi Dewi Khusnul Mufida terus berkarya. Tak hanya kelola usaha tas rajut buatan sendiri, kini ia merambah bisnis baju, jaket, dan alat make up melalui media sosial.


 


Pagi itu, cuaca terik begitu terasa di sepanjang Jl Jaksa Agung Suprapto, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto. Mencari alamat rumah Dewi Khusnul Mufida agak susah. Lokasinya terletak di sebelah tenggara kantor KPU Kota Kediri.


Bangunan tua itu dihuni perempuan berumur 32 tahun tersebut bersama suaminya. Saat itu, ia sedang di rumah sendirian, sedang bersantai. “Dulu, tinggalnya bareng ibu saya, tapi sudah meninggal,” ujar Fida –sapaan karib Dewi Khusnul Mufida – kepada Minggu Inspiratif  Jawa Pos Radar Kediri.


Di dalam rumah tampak kipas angin yang menyala. Ada satu kasur yang cukup untuk dua orang dan dua kursi kayu, serta meja untuk menerima tamu. Di meja itu terdapat tas rajut yang sedang dikerjakan Fida. Tas hampir jadi berwarna ungu itu bertuliskan nama Fida. “Kalau tas ini saya pakai sendiri nantinya,” imbuhnya dengan nada agak terbata-bata.


Kemampuan bicara Fida masih kurang jelas dan agak lambat. Namun, setiap ucapannya dapat dimengerti. “Sudah dari kecil, Mas,” katanya.


Fida adalah penyandang disabilitas tunadaksa. Kondisi fisiknya terlihat normal ketika sedang duduk. Namun ketika berdiri dan berjalan hendak mengambil sesuatu di atas lemari di sebelah kipas angin, Fida agak kesulitan. Saat itulah terlihat dirinya menderita kelainan pada kakinya. Sehingga sulit berjalan normal, dan sedikit tertatih.


Karena keterbatasan fisiknya, Fida bercerita, ketika kecil sering diganggu teman-temannya. Mulai SD hingga SMA. Namun, ia tidak patah semangat. Dia pun tidak pernah ambil pusing dengan gurauan dan gangguan di sekolahnya. “Malah saya jadikan penyemangat agar keterbatasan saya ini tidak menghalangi kehidupan saya,” terangnya.


Bahkan, saat ia tinggal di asrama khusus untuk anak yatim dan kurang mampu di Kota Kediri pun, ia juga masih sering diganggu oleh teman-teman lainnya. Ia tetap tidak patah semangat.


Tekad tak patah semangat Fida diwujudkannya dengan menggeluti kerajinan tas rajut. Dia hanya dapat mengerjakannya ketika ada pesanan. Jika belum ada, tekad tidak mudah patah semangatnya ia aplikasikan dengan mencari usaha lain. “Semua saya lakukan agar dapat menambah pemasukan ekonomi keluarga,” imbuh perempuan asli Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto tersebut.


Saat ada pesanan masuk, Fida sanggup merajutnya dalam waktu 5-9 hari. Itu untuk satu tas rajut. Tas dirajut dengan tangannya sendiri. Ilmu rajut didapatkan ketika berada di Kalimantan pada sekitar tahun 2012. “Saya lihat-lihat di sekitar rumah banyak yang sedang merajut, lalu saya coba praktikkan. Hingga saat ini, alhamdulillah sudah banyak yang pesan,” terang kepada Minggu Inspiratif Jawa Pos Radar Kediri.


Para pemesannya tidak hanya di Kediri. Bahkan tas rajutnya pernah dijual hingga ke Madiun, Surabaya, dan banyak kota lain. Fida dapat mengirimkan hasil rajutannya karena dipasarkan melalui media sosial.


Mengapa media sosial? Karena menurutnya, memasarkan produk lebih cepat dan lebih murah. “Biasanya saya share lewat What’sApp, Facebook, dan Instagram pribadi,” terangnya.


Semangat dan senyum yang tidak pernah pudar dari raut wajah Fida mengisyaratkan bahwa segalanya dapat diraih ketika bersungguh-sungguh dan tidak gampang menyerah.

Editor : adi nugroho
#perajin #kediri #minggu inspiratif #mojoroto #inspiratif #kreatif #disabilitas