Kota Kediri pernah menjadi ibu kota karesidenan. Gedung bekas kantor pemerintahannya pun masih ada. Kondisinya sangat terawat. Sayangnya, meskipun peninggalan kuno, gedung bersejarah ini belum ditetapkan sebagai cagar budaya.
MOCH. DIDIN SAPUTRO
Gedung itu terletak di Jalan Jaksa Agung Suprapto nomor 2. Masuk wilayah Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Megah dengan arsitektur gaya kolonial yang masih terlihat. Berbalut warna putih membuat kesan klasik. Pagi itu cuaca juga sangat cerah. Membuat bangunan yang menghadap langsung ke Gunung Klotok itu semakin memesona.
Gedung ini tidak tunggal. Di sekitar gedung utama ada dua bangunan lagi. Mengimpitnya di kiri dan kanan. Masih bergaya kolonial. Hanya, yang di sisi selatan sudah berpadu dengan arsitektur nusantara. Campuran antara betawi dan Jawa, Juga ada nuansa Tionghoanya. Gaya khas bangunan yang pernah menjadi residentwoning alias rumah tinggal residen di era kolonial itu.
Gapura berbentuk candi bentar berdiri menjulang sebagai gerbang utama gedung ini. Terbikin dari batu bata merah khas gapura di era Majapahit. Itu yang membuat kesan Jawa sangat kuat. Meskipun sebenarnya bangunan utamanya bergaya Belanda.
“Suasana di sini benar-benar tenang dan sejuk. Apalagi ditambah dengan bangunan bergaya indische. Itu menambah kesan bahwa Kediri itu memang kota bersejarah,” kata Wiretno. Wiretno adalah warga yang tinggal di dekat lokasi gedung itu. Saat itu memang sengaja berkunjung ke gedung yang kini menjadi kantor UPT Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jatim Wilayah Kediri itu. Hanya saja, Wiretno, atau warga lain yang ingin berkunjung tak bisa seenaknya. Harus mengajukan izin terlebih dulu ke kantor tersebut.
Tidak semua bangunan eks-kantor Karesidenan Kediri itu digunakan sebagai kantor UPT Bapenda Jatim wilayah Kediri. Dua bangunan digunakan oleh instansi tersebut. Yaitu bangunan utama menjadi rumah dinas kepala UPT Bapenda. Sedangkan bangunan di sisi selatan sebagai kantor. Sementara, bangunan di sisi utara digunakan oleh cabang dinas pendidikan (cabdispendik) Jatim wilayah Kediri sebagai kantornya.
Wiretno mengaku kagum melihat kemegahan bangunan kuno ini. Meskipun rumahnya tak jauh dari kantor tersebut namun baru kali itu dia masuk ke gedung yang berada di timur Taman Sekartaji tersebut.
“Harapan saya bangunan ini bisa sebagai objek edukasi sejarah yang bisa dinikmati masyarakat Kota Kediri. Mengingat saat ini kawasan tersebut tertutup dan terkesan privat,” harapnya.
Memang, rumah dinas itu selama ini dikhususkan untuk tamu kedinasan. Hanya bangunan di kedua sisinya yang bisa dimasuki umum. Itu pun bagi masyarakat yang mempunyai keperluan ke dinas-dinas terkait.
Di bagian dalam rumah dinas tersebut ada banyak ruangan. Namun yang paling utama adalah ruang rapat dan ruang tamu yang sangat luas. Di dindingnya terpasang foto-foto pejabat yang pernah menjadi kepala di kantor tersebut.
Sementara di teras rumah dinas terpasang prasasti yang cukup menarik perhatian. Terpahat nama-nama residen atau Pembantu Gubernur Wilayah III Kediri. Nama itu hanya sampai tahun 1998. Sebelum adanya UU otonomi daerah yang menghapus adanya pembantu gubernur di daerah.
Di ruang rapat bagian belakang gedung juga terpampang foto-foto bangunan lama kantor bupati dan wali kota bawahan Karesidenan Kediri. Juga ada foto residen saat era Hindia Belanda.
Suasana sejuk sangat terasa di dalam bangunan yang berusia lebih dari satu abad itu. Sirkulasi udara sangat lancar. Mengingat banyaknya pintu yang ada. Ditambah ukuran pintu yang tinggi membuat cahaya dan udara mudah masuk.
Menariknya lagi di halaman belakang ternyata ada kandang rusa. Ukurannya cukup luas. Setidaknya mampu menampung 20 ekor lebih rusa yang masih terpelihara. Ada juga ayam kalkun yang berada satu kandang dengan rusa-rusa tersebut.
“Rusa-rusa di sini bagus dan terawat. Bisa dijadikan media edukasi masyarakat,” kata Wiretno setengah berharap.
Memang selama ini rusa di tempat ini menjadi hewan peliharaan di eks-kantor karesidenan tersebut. Dari keterangan pihak kantor, dulu pernah mencapai 50 ekor lebih. Namun sebagian dibawa ke Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Makanan rusa-rusa itu adalah ubi jalar. Selain rumput gajah yang ditanam di timur kandang.
Keberadaan bangunan bersejarah ini menjadi bukti bahwa Kediri merupakan salah satu kota penting sejak era Kolonial Belanda. Meski saat ini belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Perawatan dan pelestarian bangunan tersebut dirasa sangat penting dilakukan. Tentunya hal ini agar bisa menjadi media pembelajaran sejarah Kota Kediri mulai sekarang hingga anak cucu kelak.
Editor : adi nugroho