Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sumiyem, Teman Masa Kecil Bung Karno, Presiden Pertama RI

adi nugroho • Jumat, 17 Agustus 2018 | 22:08 WIB
sumiyem-teman-masa-kecil-bung-karno-presiden-pertama-ri
sumiyem-teman-masa-kecil-bung-karno-presiden-pertama-ri

Usianya memang lanjut. Tapi, ingatan Sumiyem pada sosok Sukarno tak pernah lapuk. Teman sepermainannya saat anak-anak.


 


MOCH. DIDIN SAPUTRO


 


Usia Sumiyem nyaris seabad. Wanita yang tinggal di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri ini bilangan usianya adalah 99 tahun. Itu bila mengacu pada tahun lahir di KTP-nya yang tertera 1919. Namun, bila itu ditanyakan pada pemilik usia, dia akan menolak. Dan menyebut bilangan umurnya sudah melebihi 100 tahun.


Wanita ini adalah teman kecil sang Proklamator, Soekarno. Rumah Sumiyem tak terlalu jauh dengan Ndalem Pojok. Rumah yang pernah didiami Soekarno kecil. Berada satu ruas jalan dengan rumah yang kini jadi situs Bung Karno tersebut.


Karena itulah, Sumiyem bisa menjelaskan satu per satu cerita pra-kemerdekaan. Termasuk saat dia pernah bermain dengan sang proklamator kala remaja. Di halaman Ndalem Pojok.


Bung Karno saat bujang sering singgah ke Ndalem Wetan (nama Ndalem Pojok tempo dulu, Red),” kenang Sumiyem, dengan sedikit berteriak.


Saat berbicara Sumiyem terkesan berteriak. Wajar, sebab pendengarannya sudah jauh berkurang. Bila berbincang dengan wanita itu mulut memang harus dekat sekali dengan telinganya. Itupun masih harus dilakukan dengan setengah berteriak. Sesekali juga harus mengulang pertanyaan.


Ketika berbincang tentang masa lalu, Sumiyem sangat antusias. Jawabannya relater lancar. Termasuk saat dia bercerita pengalamannya bekerja sebagai asisten rumah tangga di Surabaya dan Jakarta. “Di Surabaya ikut Gubernuran Priyo Sunandar,” teriaknya.


Maksudnya, Sumiyem pernah menjadi asisten rumah tangga keluarga Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyosudarmo. Yang merupakan gubernur kedelapan Jawa Timur. Antara 1976 hingga 1983. Tapi, Sumiyem tak ikut langsung pada sang gubernur. Tapi bekerja di keluarga putra kedua gubernur, bernama Hendra Suryono.


Mengorek cerita masa kecil Sumiyem, khususnya yang terdapat interaksi dengan Soekarno, tak bisa dibilang mudah. Sang pencerita harus mengingat-ingat dulu. Untungnya, banyak memori yang keluar dari ingatannya.


"Dulu bermain tarik-tarikan dari batang pisang. Bung Karno juga pernah menarik kami," kenangnya, sembari sedikit membuka bibir. Mengembangkan senyum.


Saat itu usia Sumiyem 10 tahunan. Sementara Soekarno sudah remaja. Selisihnya sekitar 17 tahun.  " Bung Karno masih bujang," sambungnya.


Di mata Sumiyem Soekarno sosok pemberani. Namun sangat sopan dan ramah. Yang paling diingatnya adalah seringnya Soekarno muda berkeliling desa. Termasuk lewat jalan di depan rumahnya. "Kalau rumah saya Ndalem Kulon, ada juga rumah saudara Ndalem Tengah, kalau Bung Karno di Ndalem Wetan," jelasnya.


Ndalem Wetan ini merupakan rumah milik paman Bung Karno, Raden Mas (RM) Pandji Soemohatmodjo. Dia adalah adik kandung dari ayah angkat RM Soerati Soemosewodjo, ayah angkat Bung Karno. Rumah itu sering disinggahi waktu Bung Karno masih remaja.


Memang, tak banyak bukti sejarah yang menyebut kehadiran Kusno, panggilan masa kecil Soekarno, di Kecamatan Wates ini. Namun dengan sedikit cerita dari teman kecil  Karno inilah menjadi salah satu rekam jejak sang Proklamator di Kediri.


Tak hanya pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan pun menjadi kenangan yang tak dilupakan Sumiyem. Ini terbukti saat nenek tersebut menyanyikan lagu Sorak-Sorak Bergembira dengan sangat lantang. Tak hanya fasih, dia menyanyikan sembari menghentakan kaki ke bumi. Usai bernyanyi, Sumiyem seperti terbawa ke masa lalu. Gembira, tanpa beban hidup. Tawanya lepas. Menikmati bait demi bait alunan lagu.


Ingatan lainnya adalah saat desanya menjadi markas bagi pejuang kala perang kemerdekaan. Dia sangat ingat bagaimana warga desa banyak yang berlari. Bersama dengan sejumlah tank yang melintas. "Bukan perang, namun di sini adalah markas para pejuang," ujarnya memungkasi kenangan tentang masa lalu yang sudah banyak terpangkas usia itu.


 

Editor : adi nugroho
#wates