Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sri Asmorowati, Perajin Tas dan Dompet dari Limbah Tempurung Kelapa

adi nugroho • Selasa, 31 Juli 2018 | 21:53 WIB
sri-asmorowati-perajin-tas-dan-dompet-dari-limbah-tempurung-kelapa
sri-asmorowati-perajin-tas-dan-dompet-dari-limbah-tempurung-kelapa

Di tangan wanita ini pecahan-pecahan kecil tempurung kelapa bisa naik kelas. Dari semula tak berguna menjadi karya yang bernilai jual tinggi. Tentu, butuh ketelatenan dan kerja keras sebelum mendapat ide seperti itu.


 


ANDHIKA ATTAR


         


Tas itu tersusun dari puluhan kancing bulat kecil berwarna cokelat matang. Sangat detil. Rangkaian kancing itupun rapi dan indah. Yang memandangnya bisa terkesima. Dan memutuskan untuk membeli.


Bila diamati lebih teliti, kancing-kancing kecil yang dirangkai itu terbuat dari potongan batok, sebutan lain untuk tempurung kelapa. Lebih tepatnya, dibuat dari limbah batok kelapa. Pecahan tempurung kecil itu kemudian dirangkai. Hasilnya, menjadi cover yang bagus untuk tas ataupun dompet. Dan itu hasil dari tangan  terampil Sri Asmorowati, wanita asal Desa Tenggerkidul, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.


Wati, demikian wanita ini biasa dipanggil, mulai menggeluti kerajinan ini sekitar sepuluh tahun lalu. “Belajarnya sekitar satu tahun,” kenangnya.


Mengapa dia tiba-tiba membuat pecahan tempurung sebagai karya? “Saya punya teman yang terjun di kerajinan alat dapur dari tempurung kelapa juga. Ternyata, limbah dari pembuatan alat dapur itu juga banyak. Saya pun berpikir bagaimana bisa memanfaatkannya menjadi satu karya kerajinan,” ujarnya bercerita.


Karena merasa eman dengan banyaknya limbah batok yang terbuang itu, Wati pun mengumpulkan informasi tentang cara membuat sesuatu dari batok kelapa itu. Akhirnya, dia pun menemukan ide untuk membuat tas ataupun dompet.


Dia kemudian belajar sendiri, otodidak. Tak ada mentor. Dia juga berkreasi dengan peralatan sendiri. Termasuk bor untuk menjadikan kancing dari batok dia mengkreasi sendiri. Bahannya dari bor biasa. Yang berbeda adalah ujung mata bor yang dibuat khusus untuk menghasilkan kancing dari batok kelapa yang bagus.


Pada satu tahun pertamanya ia hanya mengerjakan pesanan dari tetangganya saja. Namun, itu berubah ketika ada seorang saudaranya yang berasal dari Jakarta kepincut dengan tas buatannya. “Akhirnya tas tersebut dibawa ke Jakarta,” ujarnya.


Ternyata, tas yang dibawa saudara Wati tersebut banyak diminati oleh orang di ibukota. Alhasil, pesanan dari saudaranya tersebut semakin meningkat pesat.


“Waktu itu ditarget hingga 50 tas,” tuturnya. Padahal, ia belum mempunyai pekerja yang dapat membantunya memproduksi tas. Akhirnya, Wati pun berinisiatif mengajari tetangganya untuk membuat tas dari batok kelapa tersebut.


Selanjutnya, tas buatannya semakin banyak peminatn. Intensitas produksi dan pesanan pun sudah mulai menunjukkan tren yang positif. “Alhamdulillah lancar sampai sekarang,” ujarnya.


Berkat pesanan yang membeludak tersebut, kini Wati telah mempunyai dua gerai untuk memasarkan tas buatannya ini. Gerai miliknya berada di deretan UKM simpang lima gumul dan Kampung Inggris Pare.


Nature Bag adalah nama yang dipilihnya menjadi merek dagang tas beserta gerainya pula. Kini, peredaran tas buatannya tak hanya berkutat di wilayah Kediri saja. Melainkan sudah pernah mencapai luar negeri. Hongkong dan Rusia.


Wati mengakui pesanan pertama ke Hongkong tersebut pada saat bulan Ramadan tahun ini. “Alhamdulillah sampai sekarang masih terus order,” syukurnya.


Dompet dan tas buatannya pun tidak dibanderol dengan harga selangit. Untuk dompet, ia mematok harga Rp 20 ribu. Sedangkan untuk tas dibanderol Rp 70 ribu saja.


Dalam seminggu, Wati beserta tujuh pekerjanya dapat menghasilkan tas sebanyak 25 hingga 30. Itu artinya, dalam sebulan Wati dapat menghasilkan lebih dari seratus tas. Kini, ia mengaku sudah dapat menghasilkan omzet sekitar Rp 10 – 15 juta per bulannya.


Terkait pekerja, ia mengaku sengaja mengambil dari sekitarnya. Selain karena sudah kenal, ia juga ingin berbagi sedikit rezeki yang ia miliki dengan mempekerjakan mereka. “Biar bisa membantu pemasukan mereka juga,” ujarnya merendah.


Wati pun mengaku bahwa pekerjanya tersebut dapat mengerjakan kerajinan batok kelapa ini dirumah. Sehingga ibu-ibu pun masih dapat mengasuh anak sembari bekerja. “Kalau untuk sulam bisa dibawa ke rumah,” terangnya.


Namun, untuk proses menempelkan kancing batok harus dilakukan di rumahnya. Hal ini dikarenakan motif dan pola yang dipesan orang berbeda-beda. Hebatnya, Wati sendiri lah yang membuat konsep motif dan pola tas buatannya.


Untuk proses finishing, Wati selalu mengerjakannya sendiri. Hal ini dikarenakan agar dapat menjaga kualitas mutu dan ciri khas dari tas buatannya. “Soalnya prosesnya lumayan sulit dan harus rapi,” imbuh perempuan kelahiran 1979 ini.

Editor : adi nugroho
#perajin #kediri #limbah #kreatif