Sembilan tahun menumbuhkan kesadaran pendidikan warga Desa Jambu, upaya TBM Gelaran Buku Jambu tak sia-sia. Sebab Kemendikbud akhirnya mencanangkan Kampung Literasi di sana. Inilah kisahnya.
MOH. FIKRI ZULFIKAR
Sinar mentari pagi yang hangat baru masuk melalui kaca rumah yang memiliki balai luas itu. Balai yang di dalamnya terdapat ribuan judul buku pun mulai diambili satu per satu oleh anak-anak yang sedang liburan sekolah, Kamis kemarin (28/12).
Udara yang dingin khas pedesaan itu membuat semangat anak-anak menggebu-gebu saat membaca buku di Taman Baca yang ada di Kampung Literasi Jambu, Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul ini.
Sembilan tahun konsentrasi dengan Taman Baca Masyarakat (TBM) Gelaran Buku Jambu Daar El Fikr yang menggeliatkan baca tulis di basecamp-nya. Kini TBM ini kian meluaskan jaringannya. Selain menggeliatkan literasi baca tulis juga menggeliatkan jenis literasi lain dengan berbasis seluruh komponen kampung dilibatkan.
Sabtu lalu (23/12) TBM ini dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadi Kampung Literasi Jambu. “Ini memang program Kemendikbud. Karena Kampung Literasi cakupannya jadi lebih luas,” ungkap Ahmad Ikhwan Susilo, penggawa Kampung Literasi Jambu ini.
Iwan – sapaan karib Ahmad Ikhwan Susilo – menerangkan, berbeda dengan menjalankan TBM dulu yang hanya baca tulis dan juga kegiatan terpusat di basecamp saja. Kini selain literasi baca tulis, kampung literasi juga menjalankan lima tugas literasi lain.
Seperti literasi angka atau berhitung, literasi sains, literasi teknologi informatika dan komputer (TIK), literasi keuangan, dan juga literasi budaya dan kewarganegaraan. “Enam literasi inilah yang kita kembangkan dalam kampung literasi ini,” ungkap pria yang biasa dipanggil Iwan Kapit ini.
Dengan upaya memenuhi enam literasi tersebut sebenarnya TBM ini pun sudah lama satu per satu mengadakan beberapa kegiatan selain baca tulis. Seperti beberapa kali telah melakukan program parenting untuk pengembangan literasi sains bagi ibu-ibu Desa Jambu.
Selain itu, beberapa kali pun ibu-ibu kampung literasi ini diadakan workshop membuat kerajinan daur ulang toples hingga workshop gizi. “Lebih kita libatkan peran warga dalam berliterasi,” terang Iwan.
Dalam rangkaian Pencanangan Kampung Literasi pun lomba masak pun dilakukan pada Kamis paginya (21/12). Dari lomba yang diikuti oleh ibu-ibu Jambu tersebut. Ternyata salah satu kelompok yang menjadi juara tiga menang karena membuat olahan masakan dari melihat cara memasak di buku yang tersedia di TBM tersebut.
“Inilah yang kita harapkan, warga mulai membaca buku dan menerapkannya. Seperti ibu-ibu itu,” papar Iwan.
Salma Neni, salah satu anggota pengurus kampung literasi, juga menerangkan, upaya menggeliatkan literasi baca tulis pun meluas tidak hanya di basecamp TBM.
Tetapi lebih mendekatkan bahan bacaan ke rumah-rumah warga. Seperti kini pihaknya juga mulai mengembangkan pojok baca di rumah-rumah warga. “Sementara ini sudah ada tiga titik pojok baca di Jambu ini,” ujarnya.
Dengan datang ke rumah terdekat dari pojok baca itu, warga pun dengan mudah mengakses buku bacaan. Namun, menurut Salma, tidak mudah dalam meramaikan pojok baca kampung literasi ini.
Itu karena memang tidak sedikit warga yang terbiasa dengan buku bacaan. Saat menaruh buku-buku di tiga titik rumah warga ini. Pernah malah dia dan teman-temannya dianggap berjualan buku.
“Sampai tanya harga bukunya karena dianggap kami jualan. Padahal kami sediakan untuk mereka agar bisa dibaca secara gratis. Ini yang terus kita upayakan agar warga terbiasa membaca,” ujar perempuan berjilbab ini.
Tidak hanya itu, beberapa rencana untuk mendekatkan buku bacaan bagi warga Desa Jambu pun terus diupayakan. Seperti dalam waktu dekat ini, Kampung Literasi akan menjalankan program keranjang buku.
Dengan membawa buku dalam keranjang ke Taman Kanak-kanan di Desa Jambu ini. Diharapkan sembari mengantar dan menunggui anaknya sekolah. Para ibu-ibu meluangkan waktunya untuk membaca buku yang ada di keranjang yang ada setiap pagi itu. “Ini segera akan kita jalankan,” jelasnya.
Syafi Maulida, istri Iwan yang juga penggawa Kampung Literasi, pun dalam rangkaian pencanangan, Kamis lalu (21/12), juga mengadakan workshop literasi keuangan. Dengan mendatangkan pemateri dari praktisi perbankan, materi-materi tentang keuangan diberikan pada warga.
“Untuk anak-anak kita juga kemas dengan fun tapi tetap mengedukasi. Seperti melakukan kemah buku yang kami lakukan bulan lalu,” urainya.
Perempuan yang biasa dipanggil Ida ini pun menerangkan bahwa dalam tahun ini. Kemendikbud hanya memilih sekitar 30 TBM se-Indonesia yang dicanangkan sebagai Kampung Literasi. Dengan mendapatkan perhatian ini membuat tanggung jawab Kampung Literasi Jambu semakin besar.
“Semoga kita baik menjalankan amanah Kampung Literasi ini dengan baik,” harapnya.
Ida menambahkan bahwa kini mulai anak-anak hingga ibu-ibu sudah mulai terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Literasi yang diadakan TBM. Namun yang menjadi pekerjaan rumah (PR) pegiat-pegiat literasi Jambu yang saat ini menurut mereka sulit adalah mengajak bapak-bapaknya untuk ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan Kampung Literasi.
“Mengajak bapak-bapak ini yang masih sulit. Tapi ke depannya tetap akan terus kita ajak aktif,” ungkap Ida.
Editor : adi nugroho