Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Berbagi Kamar, Rela Tidur di Kursi Tiap Malam

adi nugroho • Selasa, 28 November 2017 | 19:44 WIB
berbagi-kamar-rela-tidur-di-kursi-tiap-malam
berbagi-kamar-rela-tidur-di-kursi-tiap-malam



Empat tahun tinggal di rumah yang baru dibangunnya, Maryadi dan keluarganya harus mengungsi. Sebab, rumah yang belum terbangun sempurna itu tidak lagi layak ditinggali. Dengan kondisi dinding yang retak-retak, rumah Maryadi bisa ambruk setiap saat.


 


REKIAN


 


Jarum jam menunjukkan pukul 14.20, Minggu (19/11) lalu. Tetapi, Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk terlihat sepi. Hujan deras yang turun sore itu membuat mayoritas warga memilih berdiam di dalam rumah.


Demikian juga dengan rumah berdinding bata yang belum diplester di desa tersebut. Sepintas, rumah yang berjarak sekitar 20 meter dari Jembatan Kedungdowo itu terlihat sepi. Tetapi, di dalam rumah beberapa orang terlihat tengah bekerja keras. Terutama, menghalangi air hujan agar tak membanjiri lantai mereka.


Seorang pria yang rambutnya sudah mulai memutih terlihat memegang timba kecil. Pria yang tak lain adalah Maryadi itu tengah menampung air hujan yang masuk ke dalam rumah karena gentingnya bocor.


Di dekat Maryadi, Srini, istrinya juga tak tinggal diam. Dia memasang beberapa ember di bagian rumah lainnya yang juga bocor. Sesekali, keduanya terlihat berbincang untuk sekadar menghilangkan dingin yang sore itu terasa mulai menusuk kulit.


Meski rumah yang belum diplester itu bukanlah rumahnya sendiri, Maryadi dan Srini terlihat tidak lagi canggung. Mereka bisa mengambil beberapa perabotan dan memindahkannya ke tempat yang diinginkan.


Rupanya, rumah yang berjarak sekitar 20 meter dari rumah Maryadi itu memang rumah saudara mereka. Ya, sejak rumah Maryadi terkena longsor dan dindingnya retak-retak pada minggu lalu, dia harus mengungsi.


Rumah Marsanto, 34, adik iparnya jadi jujugan. Selain lokasinya yang dekat, Marsanto merupakan satu-satunya kerabat dekat Maryadi di Desa Kedungdowo. Pertimbangan lainnya, rumah Marsanto relatif jauh dari sungai. Sehingga, lebih aman dibanding rumahnya yang sekarang mepet dengan sungai.


Keberadaan Maryadi dan keluarganya, membuat rumah berukuran 4x8 meter itu menjadi ramai. Meski harus tinggal berjejalan, Maryadi hanya bisa pasrah. Sebab, kondisi rumahnya memang tidak bisa lagi ditinggali.   


Meski sepintas Maryadi terlihat nyaman tinggal di rumah saudaranya, tidak demikian dengan hatinya. Bapak tiga anak itu tidak bisa tidur nyenyak. Terutama saat hujan deras mengguyur lingkungan mereka. “Ya kepikiran rumah,” kata Maryadi.


Bencana yang terjadi minggu lalu masih tergambar jelas di benaknya. Terutama saat tebing sungai di dekat rumahnya ambrol hingga kini membuat dinding samping rumahnya praktis berada di pinggir sungai. “Masih takut,” lanjutnya menceritakan tentang bencana tanah longsor yang menimpa rumahnya. 


Karenanya, dia memilih mengungsi ke rumah saudaranya. Sebab, rumahnya bisa saja ambruk setiap saat. Meski harus tinggal berjejalan, dia mengaku tidak keberatan.


Kondisi rumah Marsanto yang kecil, membuat Maryadi dan keluarganya harus menyesuaikan. Untuk tidur, misalnya. Hanya istri dan tiga anak Maryadi saja yang bisa tidur di kamar. “Saya tidur di kursi ruang tamu. Tapi tidak apa-apa asalkan aman,” terangnya.


Jika sedang hujan, Maryadi juga harus menggeser kursi tempatnya tidur. Sebab, seperti halnya dapur Marsanto yang bocor. Ruang tamunya tidak luput. Jika kursi tidak digeser dan mencari tempat yang aman, dia bisa tidur dalam kondisi baju basah terkena air hujan.


Menyadari tinggal di pengungsian, Maryadi pun tak mempermasalahkan hal tersebut. Agar bisa sedikit lupa dengan kepedihan yang dirasakan, Maryadi menyibukkan diri di sawah.


Setiap hari dia pergi ke sawah untuk merawat tanaman bawang merah miliknya. Bercocok tanam di lahan bengkok desa yang disewanya itu merupakan satu-satunya hiburan. “Kalau di rumah terus saya bisa sakit kepala. Makanya, saya harus tetap bekerja,” bebernya.


Yang membuatnya bersedih justru rengekan anak-anaknya yang ingin segera kembali ke rumah mereka. Terutama, Diyara, si bungsu yang terlihat tidak nyaman tinggal di rumah saudara. “Saya bingung harus menjawab apa saat anak saya meminta pulang,” imbuh Maryadi sedih.


Jika sudah demikian, biasanya Maryadi mengalihkan permintaan Diyara dengan berbagai aktivitas lainnya. Termasuk, mengajaknya berjalan-jalan di sekeliling lingkungan. Pria berusia 46 tahun ini tidak tega menyampaikan jika rumah mereka tidak bisa lagi ditinggali karena rawan ambruk.

Editor : adi nugroho