Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nekat Ikut Pencak Dor, Gigi Rompal saat Berlaga

adi nugroho • Senin, 20 November 2017 | 03:47 WIB
nekat-ikut-pencak-dor-gigi-rompal-saat-berlaga
nekat-ikut-pencak-dor-gigi-rompal-saat-berlaga


Bullying yang dia terima saat SMP tak membuatnya ciut nyali. Keberaniannya justru semakin tinggi. Arena pencak dor pun jadi rambahannya. Dia tak kapok walaupun gigi patah kala pertama kali menjajal tarung bebas pencak silat itu.


 


RINO HAYYU SETYO


 


Kebugaran tubuhnya tidak bisa dipungkiri. Walaupun tak terlalu kekar. Tinggi badannya juga biasa-biasa saja. Hanya 164 sentimeter.


Namun, alis matanya yang tebal dan sorot matanya yang tajam menyiratkan sesuatu yang dimiliki para petarung. Keberanian!


Ya, sosok itu adalah Agung Tri Wahyuni. Atlet olahraga tarung derajat berprestasi dari Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri. Prestasi terakhir siswa SMA Negeri 1 Wates ini adalah medali emas dalam Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) XIV di Semarang, Jateng.


“Basic-nya dulu tinju, sebelum jadi atlet tarung derajat,” cerita Agung.


Sebagai petinju muda, Agung sebenarnya telah berlatih keras. Namun, prestasinya tak semoncer seperti saat dia beralih ke tarung derajat. Perkenalannya dengan jenis olahraga beladiri asli Indonesia itupun belum lama. Yaitu ketika dia mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Saat menyaksikan jenis beladiri itu dia mulai tertarik.


“Asyik lihat gayanya senior yang melakukan demonstrasi di sekolah dulu itu,” terang anak tunggal pasangan Trimo dan Kartini.


Prestasinya di tarung derajat, harus diakui, tak lepas dari kiprahnya sebagai petarung di pencak dor. Bahkan, di arena pencak dor pula pemuda kelahiran


29 April 1999 itu punya kenangan yang tak terlupa. “Gigi depan saya sampai rompal,” kenangnya.


Keberanian tak tiba-tiba terbentuk. Agung mengawalinya dengan beragam pengalaman. Di antaranya jadi korban bullying kakak kelas ketika SMP. Namun, Agung berusaha menunjukkan sifat tenang. Namun, dia mengakui merasa terancam dengan sikap kakak-kakak kelasnya itu.


Hingga suatu saat dia melihat pertunjukan pencak dor di Desa Juwet, Kecamatan Wates. “Saya kok tiba-tiba ingin masuk ring itu,” kenang Agung.


Saat masuk ke ring, ternyata tubuh lawannya lebih besar. Keterkejutannya terhalang aturan. Peserta pencak dor tak  bisa menyerah dan keluar arena begitu saja. Akhirnya, dia pun terus maju.  “Nekat saja wes akhirnya,” imbuhnya.


Benar saja, pengalaman pertama itu sekaligus menjadi pengalaman kekalahan. Tak sekadar kalah, gusinya mengalami pendarahan. Giginya pun patah. Tapi, dari hal itulah keberaniannya semakin tumbuh. Yang terlampiaskan dengan menjadi petarung, sebutan bagi atlet  tarung derajat, hingga saat ini.


Saat kenal dengan tarung derajat, dia berlatih keras. Dibantu pelatih dari pihak sekolah. Dia pun terus mengasah kemampuan. Kejuaran demi kejuaran pun dia ikuti.


Ada dua kejuaraan yang dimenanginya kala itu. Yakni Popda  di Malang  dan Kejuaran antarpelajar  di Surabaya. “Alhamdulilah, dapat juara satu semua mas,” ungkap siswa kelahiran blitar ini.


Bak gayung bersambut, ia pun diajak seleksi untuk masuk tim tarung derajat Provinsi Jawa Timur. Tapi, jumlah petarung yang mengikuti seleksi mencapai 400 orang! Padahal dari sekian banyak atlet itu hanya diambil delapan saja.


“Alhamdulilah tidak menyangka sekali mas,” ungkapnya.


Menurut Agung, KONI Jatim memilih atlet yang punya mental petarung. Dan itu dilihat pada diri Agung, yang akhirnya masuk kelas 53-57 kilogram itu.


Setelah itu dia berkutat dengan latihan keras. Dua bulan di Surabaya. Berlatih pagi, siang, dan sore hari.  Usai subuh hingga pukul 09.00 dia harus lari, push up, dan sit up. Sedangkan sore hari berlatih teknik.


Tarung derajat sendiri terdiri dari tiga babak. Masing-masing berdurasi tiga menit. Seperti cabang beladiri lainnya, penentuan pemenang melalui sistem poin.


Saat di final Popnas, Agung tampil perkasa. Hanya memberi kesempatan lawannya bertahan satu babak saja. Lawannya asal Kaltim dibuatnya KO.


Keberhasilan Agung juga tak lepas dari upayanya meminta restu orang tua. Setiap akan bertanding dia selalu menelepon ortu terlebih dulu. Agung yakin jika kedua orang tuanya  memberi restu maka kemudahan akan diberi oleh-Nya.


Prestasi ini pun tentu juga turut menambah daftar panjang raihan siswa SMAN 1 Wates. Baru-baru ini sekolah yang berada di Desa Wonorejo ini juga berhasil mendapatkan banyak prestasi. Di antaranya juara 1 vocal grup PIK R tingkat Kabupaten Kediri. Juga ada Duta Genre Juara 1 putri  oleh Yusi Afidah Oktaria yang menjadi wakil Kabupaten Kediri tingkat provinsi. Ada juga juara 3  Pocari Sweat futsal championship regional Malang.


Melihat hal ini Kepala SMAN 1 Sarbawa merasa bangga. Selain membawa nama baik SMAN 1 Wates, Agung pun juga mendapatkan tawaran masuk di Universitas Negeri Surabaya jurusan olahraga tanpa seleksi. “Saya ingin Agung mengambil kesempatan itu. Biar nanti jadi guru olahraga di SMA. Tapi semua kembali ke Agung,” harapnya. (dilengkapi oleh Bagus Romadhon/fud)

Editor : adi nugroho