Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Meninggal Dalam Lindungan sang Ibu

adi nugroho • Senin, 30 Oktober 2017 | 22:57 WIB
meninggal-dalam-lindungan-sang-ibu
meninggal-dalam-lindungan-sang-ibu


Meski bisa naik motor sendiri, pihak keluaraga tidak pernah tega melihat Sela berpergian jauh dengan kendaraan bermotor. Karena itu, ke mana-mana Sela jarang berkendara sendiri. Termasuk di hari petaka yang merenggut nyawanya itu.


 


RIZAL ARI ANDANI


 


Tawa canda Sela Dea Safitri masih melekat di benak keluarga. Terutama Anik Wahyuningtyas, 42, ibu kandung gadis 16 tahun itu. Begitu teringat sosok Sela, air mata pun langsung jatuh dari matanya. Karena itu, hingga dua hari pascakematian sang puteri, ia masih mengurung diri di kamar.


Di depan Anik, tak satu pun pihak keluarga yang mengungkit peristiwa yang menimpa Sela. Apalagi, sampai menunjukan foto Sela. Mereka khawatir Anik kembali bersedih.


Kondisi itu terlihat Selasa siang sekitar pukul 14.30. Saat itu, Jawa Pos Radar Kediri tiba di kediaman siswi SMK Pawiyatan Daha tersebut. Lantai ruang tamu rumah di Dusun Sentul tersebut masih tertutup karpet. Terdapat seorang pria yang bersiap menerima kedatangan para petakziah. Dia adalah kakak ipar Sela, Wandi, 32, warga Desa Karangrejo, Kandat.


Sementara itu, ibu kandung Sela tidak tampak di ruangan tersebut. “Ibu saya masih terpukul dengan kejadian ini,” ujar Wandi.


Semasa hidupnya Sela memang sangat dekat dengan Anik. Maklum, di rumah yang berada di Dusun Sentul, Desa Karangrejo tersebut, keduanya lebih sering menghabiskan waktu berdua. Sementara ayah kandung Sela yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut telur pulang seminggu sekali. “Ayah mertua saya punya usaha jasa angkutan barang yang kirim dari Kediri ke Bekasi (Jawa Barat) dan Jakarta,” ujar Wandi.


Di rumah, Sela dikenal Wandi sebagai sosok yang periang. Beberapa kali, Wandi pun pernah melihat Sela bercanda dengan ibu mertuanya tersebut. Tak hanya dengan ibunya, Sela juga mudah bergaul dan akrab dengan orang lain. Karena itu, begitu, kabar kematiannya menyebar, guru dan puluhan teman sekolahnya langsung berdatangan dan memadati proses pemberangkatan jenazah Sela ke pemakaman. Meski begitu, Sela juga sering kena marah. Hal itu tidak lain karena kebiasan buruknya saat liburan, yaitu bangun kesiangan.


Tak hanya itu, Sela juga dikenal jarang mau beraktivitas saat di rumah. Karena itu, keluarga, termasuk Wandi sendiri jarang mengetahui hobi siswi yang kini duduk di kelas XI itu.


Bicara soal sifat Sela yang sedikit malas-malasan pun membuat Wandi teringat dengan cerita mertuanya. Karena tidak ada aktivitas di rumah, Anik pun mengajak Sela bermain bulu tangkis. Namun, gadis itu pun menolak dan memilih bersantai di ruang tamu rumahnya. “Namun begitu kewajiban belajar tetap tidak ditinggalkan,” ujar Wandi.


Meski begitu, Anik pun tetap menyayangi Sela. Saking sayangnya, Anik pun tidak tega jika Sela harus berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor. “Meskipun adik ipar saya ini bisa naik motor. Dia juga biasa wara-wiri di sekitar desa naik motor yang dipakai saat kecelakaan itu,” ujar Wandi. Karena itu, untuk pergi sekolah Sela biasa menumpang teman sebayanya.


Namun, akhir-akhir ini Sela menjalani praktik kerja lapangan (PKL) di kantor PLN Ngadiluwih, Sela pun tidak bisa nebeng temannya. Karena itu, Anik- lah yang akhir-akhir ini mengantar jemput Sela. Tapi siapa sangka musibah datang begitu saja. Senin pagi (23/10) saat sedang dalam perjalanan menuju ke tempat PKL-nya, Anik dan Sela yang mengendarai motor Honda Vario justru ditabrak mobil pikap yang tiba-tiba lepas kendali. Kecelakaan tersebut akhirnya merenggut nyawa Sela. Hal itulah yang menimbulkan beban di hati benak ibu dua anak itu.


Tidak hanya itu, bagi Wandi, Sela adalah sosok yang sangat berharga. Tidak dapat dipungkiri, Wandi memang dekat dengan adik iparnya itu. Apalagi, saat liburan Sela sering main ke rumahnya yang kebetulan jaraknya hanya sekitar 500 meter dari rumah duka.


Sela memang sangat betah di rumah Wandi. Kenapa bisa demikian? Tentu saja hal itu karena keberadaan dua anak kandung Wandi. Anak pertama Wandi kini duduk di kelas 1 sekolah dasar. Sedangkan anak keduanya masih berusia belum genap setahun. “Sela ini sayang sekali dengan anak-anak saya,” ujar Wandi.


Tidak hanya datang dan ikut membantu isteri Wandi memomong dua anaknya. Jika punya uang lebih, gadis itu juga biasa membelikan jajan para keponakannya.


Karena itu, Wandi sendiri selalu berusaha melindungi dan menjaga Sela. Ia sering mewanti-wanti agar Sela berhati-hati dan tidak sembarangan dalam bergaul.


Selain itu, jika sedang banyak rezeki, sopir mobil travel itu juga tidak perhitungan saat membelikan makanan kesukaan Sela. “Kalau pulang kerja kadang juga dibelikan sate,” ujar Wandi.


Akan tetapi mau bagaimana lagi, Wandi merasa jika hidup dan mati berada di tangan Tuhan. Karena itu, ia pun mengaku mengikhlaskan kepergian Sela. Meski dalam hati sangat terkejut karena peristiwa itu terjadi tanpa didahului dengan sebuah firasat.

Editor : adi nugroho
#laka