Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tantangan Terbesar adalah Konsistensi

adi nugroho • Minggu, 29 Oktober 2017 | 03:58 WIB
tantangan-terbesar-adalah-konsistensi
tantangan-terbesar-adalah-konsistensi




Telah delapan tahun Ahmad Ikhwan Susilo mengampanyekan literasi lewat taman baca masyarakat (TBM) Gelaran Buku Jambu Daar El Fikr. Pemuda asal Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul ini mengajak masyarakat, terutama warga desanya menyadari pentingnya belajar sampai habis hayat.


Beberapa kegiatan di TBM yang sekaligus menjadi rumahnya bersama sang istri dan satu anaknya terus digiatkan. Selain bisa meminjam buku di perpustakaannya, di sana biasa digelar diskusi soal buku.


Menurut pemuda yang biasa dipanggil Iwan Kapit ini, selama delapan tahun berjalan tantangan terbesar saat membangun TBM adalah konsistensi. “Konsisten inilah yang menjadi tantangan setiap pegiat literasi. Karena bukan hanya mengampanyekan ayo baca- ayo baca saja. Tapi agar peka terkait perkembangan juga,” ungkapnya.


Tanpa inovasi kegiatan dan dukungan volunter, Iwan mengaku, TBM tidak diminati bahkan bisa jadi vakum. Ia pernah mengalami masa terberat itu. “Tahun 2014 kita pernah stagnan dan hampir setahun vakum. Masalah utama saat itu kita kesulitan mencari volunter,” akunya.


Mencari sukarelawan yang mau membantu menggiatkan TBM bukanlah hal mudah. Makanya, Iwan mengatakan, regenerasi sangatlah penting. Tak ingin vakum lagi, kini ia mengajak para pemuda desa ikut berkecimpung dalam setiap kegiatan TBM. “Saat ini ada sepuluh volunter kita. Dan sekitar 20-an tim hore-hore kita. Semuanya pemuda-pemuda Desa Jambu,” ujarnya.


Iwan menambahkan, kini TBM-nya sedang mengembangkan program Pojok Baca. Konsepnya, memberikan ruang baca di rumah-rumah warga. Terutama rumah volunter TBM. “Yang sudah ada pojok bacanya di Dusun Suren dan Dusun Jambu,” terang manajer Tobong Art Performance (TAP) ini.


Dengan pojok baca di rumah-rumah, para tetangga bisa ikut membaca. Sehingga kampanye literasi menjangkau setiap warga. TBM juga menggelar Kemah Buku yang mengajak anak-anak. Selain menginap bersama, ada kegiatan meningkatkan minat baca dengan permainan-permainan menyenangkan. “Kita baru saja kemah buku di sekitar TBM,” urainya.


Dari perkembangan TBM, yang membuat Iwan terenyuh adalah ketika beberapa hari lalu kedatangan Jumiati, warga Jambu. Walaupun ibu ini putus sekolah lama, dia mendaftar menjadi anggota agar bisa meminjam buku untuk dibaca di rumah. Tidak berhenti di situ, ternyata Jumiati juga mengajak anak-anaknya ikut membaca. “Dari sini saya merasa TBM ini harus hidup terus. Yang kita harap bisa terus menulari kecintaan baca buku mulai dari keluarga, seperti Ibu Jumiati ini,” paparnya.


Atas perjuangannya dalam literasi di desanya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mewujudkan kampung literasi di Desa Jambu. Terutama untuk peningkatan pendidikan non formal. “Dengan program pojok baca inilah kita harap bisa meningkatkan tujuan kita membentuk Kampung Literasi. Karena selain mendekatkan TBM juga bisa menjangkau masyarakat desa kami,” tegasnya.


Sementara itu, komitmen dalam menggarap kesebelasan Persedikab Kediri mulai terlihat musim ini. Meski belum bisa lolos ke babak selanjutnya, namun antusias warga kabupaten mendukung mulai tumbuh. “Saya juga tidak menyangka musim ini bisa sebanyak ini,” ungkap Dentama Ardiratna.


Dialah salah seorang yang menggagas terbentuknya Fire Ant Colony (FAC), julukan suporter Persedikab. Dengan logo semut, Denta ingin mengisyaratkan sifat binatang kecil tersebut. Bahu membahu dan saling menolong.


Menurutnya, logo tersebut menjadi bagian penting membangkitkan semangat suporter. “Simbol termasuk jadi bagian yang terpenting dalam kelompok baru ini,” terang suami Ester Eliana ini.


Pemuda 31 tahun ini akhirnya mengejawantahkan perjuangan dalam membangkitkan suporter Persedikab dengan membuat kaus dan syal. Bukan sekadar seragam. Namun, aksesoris digunakan setiap kali Persedikab tanding.


Prinsipnya, FAC ingin menambahkan pemasukan tim kecil di Kabupaten Kediri. Dengan semangat dan loyalitas, Denta tidak ingin mencari hidup dari manajemen Persedikab. Malah kebalikannya. Uang dari hasil laba penjualan kaus dan syal dijadikan salah satu pemasukan tim. “Berapa pun yang terjual kami kumpulkan. Yang terpenting semua anggota tahu berapa jumlahnya,” katanya. Keterbukaan baginya menjadi penting dalam membangun tim yang berjuang di Liga 3 musim lalu.


Dari beberapa hal, ia mengajak warga tiap kecamatan untuk menumbuhkan rasa bangganya terhadap Persedikab. Tak sia-sia upayanya masuk ke kalangan muda di Kabupaten Kediri. Sampai saat ini yang tercatat menjadi FAC sudah mencapai 1.500 anggota.


Dari sekian banyak anggota FAC Persedikab ini, sudah sekitar 500 orang yang mempunyai kaus dengan logo semut hitam ini. Realisasi penggunaan uang tersebut digunakan untuk para pemain Persedikab ketika melakukan laga away.


Sebagai tim kecil, Denta mengakui, untuk memutar dana operasional harus sangat jeli. Dan lagi-lagi, para perwakilan FAC tiap kecamatan pun mengetahui bagaimana penggunaan uang tersebut. “Kami ingin membentuk sistem baru, bahwa tim itu bagian dari perjuangan suporter,” ungkap bapak satu anak ini.


Dengan demikian, suporter akan mengetahui bagaimana skuad Bledug Kelud berjuang dalam kompetisi yang ada. Tak hanya itu, pemasukan yang didapatkan dari tiap laga kandang di Stadion Canda Bhirawa pun tidak ditutupinya. Dalam tiap pertandingan kandang, rata-rata ada sekitar 300 – 500 FAC yang memenuhi tribun barat stadion tersebut. Dengan harga Rp 10 ribu, jumlah pemasukan yang didapatkan manajemen sekitar Rp 5 juta. Setidaknya uang tersebut digunakan untuk kepentingan menyelenggarakan laga di Stadion Canda Bhirawa. Mulai biaya pengamanan, konsumsi, dll.


Menurut pria yang menjadi marketing officer Persedikab, pemasukan ini dicatat dan diketahui oleh perwakilan FAC yang turut dilibatkan menjadi panitia pelaksana (panpel) pertandingan. “Tiket saja mereka tahu Mas, saya nggak ada yang ditutupi. Jadi kan bisa jelas berapa harga tiket dikalikan yang nonton,” tutur warga Desa Pelem, Kecamatan Pare ini.  


 


 


 


 

Editor : adi nugroho
#desa jambu #persedikab