Suasana duka masih terasa di kediaman Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar kemarin. Sebab ibundanya, Maryam binti Abdul Rachman Bafagih, baru saja tutup usia. Seperti apa sosok ibu dua anak tersebut di mata keluarga dan rekan-rekannya?
DINA ROSYIDHA
Rumah Wali Kota Abdullah Abu Bakar di Jl Dr Soetomo, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota Kediri terus dibanjiri warga sejak Jumat malam (8/9). Tepatnya setelah terdengar kabar meninggalnya ibunda orang nomor satu di Kota Kediri tersebut, Maryam binti Abdul Rachman Bafagih.
Ratusan orang datang dan pergi silih berganti untuk menyampaikan rasa bela sungkawa. Sebagian besar adalah warga sekitar kediaman Mas Abu –sapaan karib wali kota –juga sanak saudara keluarga besar Abdul Rachman Bafagih. Tidak hanya itu, sebagian pejabat pemkot dan pengurus yayasan Rahmat pun datang secara bergantian.
Halaman rumah Abu yang tidak seberapa luas tidak cukup menampung ratusan warga yang datang. Makanya Jalan Dr Soetomo akhirnya harus ditutup sementara demi menampung membeludaknya para petakziah.
Meski tidak terdengar sedu-sedan, suasana kehilangan sangat terasa dalam griya itu. Kesedihan tergambar dari raut wajah-wajah para pelayat yang lebih banyak diam daripada berbincang.
Termasuk Abu sendiri yang terus berusaha menyebarkan senyum saat menerima para tamu yang datang meski rasa kehilangan begitu dalam tersirat dari sorot matanya yang meredup. Suaranya pun lemah dan rendah ketika sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan para pelayat.
Tidak banyak yang mengira jika Maryam mengembuskan napas terakhirnya di usia 67 tahun. Pasalnya, kondisi kesehatan ibu dua anak tersebut cukup baik. Pun sebelumnya tidak ada keluhan apapun terkait kesehatan. Meski diketahui Maryam mengidap sakit lambung sejak dua tahun terakhir.
“Beliau sangat energik dan selalu terlihat bugar,” terang Lasmirah, teman dekat Maryam, kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Lasmirah sendiri mengenal Maryam sejak keduanya sama-sama aktif di organisasi Aisyiyah. Keduanya semakin dekat ketika sedang mengembangkan lembaga pendidikan, tepatnya ketika membangun Yayasan Rahmat. Makanya Lasmirah sangat terinspirasi dari semangat sahabatnya tersebut.
“Saya lupa tahun berapa kenal beliau. Yang jelas sudah lama sekali,” tandas perempuan yang menjadi ketua bidang pendidikan Yayasan Rahmat tersebut.
Hal yang paling diingat Lasmirah adalah ketelatenan Maryam dalam membina adik-adik junior dalam Organisasi Aisyiyah maupun para pegawai baru di Yayasan Rahmat. Perempuan kelahiran Lumajang tersebut tidak segan menanyai satu per satu para junior tentang kondisi mereka.
“Apakah mereka senang berada di sini, apakah sedang ada masalah atau sedang kekurangan,” urai Lasmirah.
Maryam juga selalu mengingatkan bahwa bekerja harus ikhlas dan niatnya tidak hanya untuk mencari materi saja. “Harus diniati ibadah agar hasil yang didapatkan juga barokah,” ujarnya menirukan pesan Maryam.
Ketangguhan dan ketelatenan Maryam dalam membina generasi di bawahnya juga sangat dirasakan Firdaus, adik bungsu Maryam. Anak pertama dari tujuh bersaudara itu sangat mengayomi adik-adiknya. Bahkan keponakan-keponakannya pun ikut merasakan bimbingannya.
“Meski saat itu orang tua kami masih ada, beliau (Maryam, Red) sebagai anak sulung sangat mengayomi. Bahkan kita memanggilnya Mamah ketika ibu telah tiada,” tandas perempuan yang akrab disapa Mbak Edo tersebut.
Maryam juga tidak banyak berkata-kata dalam membina anak maupun adik-adiknya. Yang ditunjukkan adalah keteladanan. Apalagi ketika Maryam harus menjadi single parent karena suaminya meninggal sedangkan dua anaknya masih berumur 8 dan 10 tahun.
“Dengan melihat saja bisa belajar dari beliau. Membesarkan dua anak sendirian tanpa keluh kesah,” urai perempuan berkerudung tersebut.
Termasuk kondisi kesehatan Maryam. Meski Firdaus tahu kakaknya sudah mengidap sakit lambung selama dua tahun terakhir, Maryam tidak pernah mengeluh. Kondisinya kesehatannya memang cukup baik selama ini. “Tiba-tiba saja Rabu lalu (30/8) beliau mengeluh perutnya mual,” ungkapnya.
Makanya ketika masuk RSUD Gambiran, anak pertama dari tujuh bersaudara tersebut ditempatkan di graha karena kondisinya tidak terlalu kritis. Meski sudah mendapatkan perawatan intensif, ternyata kondisi Maryam tetap drop hingga akhirnya dilarikan ke ruang Intensive Care Unit (ICU).
“Dua hari di sana dan akhirnya mengembuskan napas terakhir Jumat kemarin sekitar pukul 20.00 WIB,” beber perempuan berkerudung tersebut.
Memang sebelum meninggal, kondisi Maryam sangat lemah. Kerabat sudah tidak bisa mengajaknya berkomunikasi. Hanya zikir yang terus diucapkan menuntun Maryam yang terus melemah. Firdaus pun tidak merasakan firasat apa-apa. “Saya tidak dapat firasat apa-apa, tetapi melihat kondisi beliau yang semakin melemah kami kerabat dekat terus menuntun melafalkan zikir,” tuturnya.
Termasuk wasiat, perempuan yang akrab disapa Edo ini tidak mendapatkan pesan-pesan khusus dari mendiang kakaknya. Meski demikian, ia sangat terinspirasi dari pribadi Maryam yang dikenal pantang menyerah. “Meski tidak mendapatkan pesan khusus menjelang kematian, ada banyak keteladanan yang akan terus saya terapkan,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho