Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenang Diky Putra Yani, Siswa SMK yang Tenggelam di Embung Guworejo

adi nugroho • Senin, 14 Agustus 2017 | 13:56 WIB
mengenang-diky-putra-yani-siswa-smk-yang-tenggelam-di-embung-guworejo
mengenang-diky-putra-yani-siswa-smk-yang-tenggelam-di-embung-guworejo


Sabtu lalu (12/8), Diky Putra Yani diketahui bermain di Embung Guworejo, Desa/Kecamatan Tarokan. Namun sejak itu, pelajar SMK ini tidak pulang lagi. Kabarnya ia tenggelam dan belum ditemukan hingga Minggu sore (13/8).


 


RIZAL ARI ANDANI


 


Sekitar pukul 15.00, Minggu sore (13/8), Jawa Pos Radar Kediri tiba di kediaman Nur Yani, 40, di Desa/Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Suasananya masih ramai. Tampak teman-teman dan kerabat datang silih berganti.


Dengan nada kalem, mereka terus menyemangati Nur Yani. Maklum hingga kemarin malam, Diky Putra Yani, 16, anak pertamanya, belum ditemukan. Remaja kelas 1 SMK tersebut diketahui hilang di Embung Guworejo, Desa/Kecamatan Tarokan, Sabtu (12/8). Diduga pelajar ini tenggelam.


Kejadian itu tentu sangat mengejutkan Yani. Ia tidak habis pikir karena  sebelumnya Diky tak pernah sekalipun bermain-main di sekitar Embung Guworejo. "Kok tiba-tiba ia berniat berenang di sana,” ujarnya. Padahal, Diky sendiri tidak pandai berenang.


Apalagi sebelum kejadian tersebut, sang putra sama sekali tidak meninggalkan firasat padanya. "Saya benar-benar tidak menyangka hal seperti ini akan menimpa anak saya," tuturnya.


Sebelum kejadian itu, Diky sempat menunjukkan sikap yang berbeda. Pagi sebelum berangkat kerja, Yani biasa mencium kening anak keduanya tersebut. Namun, saat itu tiba-tiba Diky meminta hal serupa "Padahal anak saya ini tidak pernah meminta hal semacam itu," ujar karyawan salah satu diler sepeda motor di Kota Kediri tersebut.


Tanpa curiga, Yani pun memenuhi permintaan anak kesayangannya. "Tapi siapa sangka hal itu untuk terakhir kalinya," urainya berlinang air mata.


Yani masih ingat betul bagaimana sosok Diky semasa masih hidup. Diky memang sangat dekat dengannya. "Bagaimana Mas. Waktu dia lahir. Saya malah yang ngidam. Sampai saya tidak doyan makan nasi," ungkap Yani.


Bahkan ada satu kenangan tentang Diky yang tidak akan pernah Yani lupakan. "Saya kan cerai sama ibu kandungnya Diky. Waktu sidang, hak asuh jatuh ke istri. Tapi anak saya justru memilih ikut saya," ucapnya.


Yani tidak pernah menyangka Diky akan berpikir untuk ikut dengannya. Padahal saat itu usia Diky masih sekitar 8 tahun. "Seharusnya anak seusia itu masih dekat-dekatnya dengan ibunya," imbuhnya. Diky lah yang kemudian membuatnya kuat. Dia tak pernah rewel meski sering terpaksa ikut Yani memasarkan motor.


Apapun yang terjadi, kenyataannya sampai sekarang Diky memang selalu ingin dekat dengan sang ayah. Kemana pun Yani pergi, Diky selalu minta diajak. Seperti beberapa hari sebelum peristiwa itu, Diky ikut sepak bola futsal bareng Yani. Semasa hidupnya, Diky memang hobi futsal.


Maklum, Yani selalu memosisikan anak hasil pernikahan dengan isteri pertamanya itu seperti sahabat. "Permasalahan yang sekiranya mampu ia pikirkan. Misalkan seperti masalah utang. Selalu saya bicarakan dengan anak saya," katanya.


Karena itu, di matanya Diky tampak lebih dewasa dari anak sebayanya. Bahkan saat sedang bertengkar dengan istri, Diky lah yang biasa menengahi. "Sudah lah, Yah. Jangan bertengkar," ujar Yani menirukan ucapan Diky. 


Selain itu, semasa hidupnya Diky juga penurut dan tidak neko-neko. Dia tidak pernah membantah perintah maupun keputusannya. "Saat minta motor baru, tidak pernah minta sepesifikasi tertentu. Mungkin dia tahu kalau penghasilan saya pas-pasan. Karena itu dia merasa tidak ingin merepotkan," ujarnya.


Termasuk juga saat memilih sekolah, Yani berkeinginan Diky masuk ke sekolah kejuruan. "Dia juga menurut," urainya. Karena itu, Diky mendaftar di jurusan otomotif  SMK PGRI 4  Kediri.


Diky dikenal pandai bergaul dan supel. Itu terlihat dari banyaknya kawan yang turut datang ke rumahnya. Siang itu bahkan sejumlah teman semasa Diky di SMPN 2 Tarokan turut mengawal proses pencarian oleh tim SAR. "Saya harap mereka membantu doa agar tubuh Diky lekas ditemukan," ujar Yani.


Tak hanya itu, Diky pun berbakti pada neneknya, Saniyem, 75. Jika sakit, tak jarang dia yang dimintai membelikan obat. "Tidak pernah mengeluh anaknya" ujar Saniyem. Sesaat sebelum kejadian, Saniyem sempat meminta Diky membelikan obat sakit kepala. Karena itu, Diky menjadi cucu kesayangannya.


Bahkan saat kali pertama mendengar kabar soal tenggelamnya Diky, tanpa pikir panjang Saniyem langsung berlari dari rumah menuju Embung. Padahal jarak rumahnya dengan lokasi sekitar 1,5 kilometer. Apalagi, kondisinya saat itu masih setengah telanjang. Tepatnya hanya berbalut sehelai kain jarit.


Maklum saja, saat tetangganya memberitahunya soal peristiwa yang dialami Diky, ia sedang mandi. "Saya ingin melihat langsung saat cucu saya ditemukan dan diangkat dari Embung," papar Saniyem.  Namun harapannya masih belum terwujud. Pasalnya hingga kemarin malam, upaya pencarian terhadap jasad Diky belum membuahkan hasil.


 


 

Editor : adi nugroho
#siswa tenggelam