Bagi pecinta sepak bola Kediri, nama Ferry Rahmad Kurniawan sudah tak asing. Pemuda asli Waung, Kelurahan Sukorame ini salah seorang pemain kunci bagi Persik.
ADI NUGROHO
Posturnya kecil. Tinggi badannya 165 sentimeter dan berat 60 kilogram. Dia terlihat seperti kurcaci di antara bek-bek lawan yang bertubuh tinggi besar. Namun jangan salah. Saat pertandingan, banyak bek lawan yang gentar berhadapan dengannya. Bukan hanya karena wajahnya yang garang, mirip orang marah saat di lapangan, tapi permainan pemain kelahiran 27 Februari 1992 ini sangatlah agresif.
Tak melulu menyerang dari pinggir lapangan, dengan gocekan khasnya ia kerap melewati lawan dan menusuk ke kotak penalti. Penetrasinya membuat bek lawan jatuh bangun saat mengawalnya. Bodyball dan keseimbangannya bagus. Dia hebat dengan kaki kiri, juga kaki kanannya.
Apalagi skill itu ditambah dengan kemampuan larinya yang kencang. Lawan bisa terpental saat mengawalnya sendirian. Dua lawan satu atau tiga lawan satu? Ferry tetap menerjang. Gaya super ngotot yang mengingatkan pada permainan legenda Timnas, Aji Santoso.
Tak heran, Bejo Sugiantoro, pelatih Persik saat ini yang merupakan rekan seangkatan Aji kepincut dengan Ferry. Dari delapan pertandingan Persik di Liga 2 Indonesia musim ini, hanya dua kali ia tak menghuni starter. Selebihnya, pemain ini selalu dipercaya bermain sejak menit pertama.
“Saya selalu pede (percaya diri, Red) saja kalau diberi kesempatan. Tunjukkan yang terbaik. Yakin,” ungkap pemain bernama lengkap Ferry Rahmad Kurniawan ini.
Ferry bisa dikatakan lahir dari rahim Macan Putih. Sejak remaja sebenarnya ia sudah memperkuat Persik U-17. Beberapa kali ia ikut kejuaraan junior. Termasuk memperkuat tim sepak bola Porprov Kota Kediri.
Namun di level senior, ia justru sempat memperkuat klub tetangga, Persedikab, selama dua tahun (2014 – 2015). Sebelum pada 2016 lalu berlabuh di Laga FC. “Sekarang seperti balik ke rumah sendiri,” ungkapnya.
Dunia sepak bola sudah diakrabi Ferry sejak kecil. Bahkan, dengan dorongan Bambang, sang kakak, Ferry akhirnya masuk ke SSB Bina Tama yang berada tak jauh dari rumahnya.
Hanya saja, saat itu ia mengaku belum punya sepatu bola. Alhasil, sepatu yang biasa ia gunakan untuk sekolah, ia pakai juga untuk berlatih.
“Sepatunya sepatu (merek) Eagle hitam itu. Yang biasanya dipakai untuk baris. Itu sepatu pertama saya main bola,” paparnya.
Baru setelah setahun kemudian, putra pasangan Sugianto dan Supi ini mendapat hadiah istimewa. Sebuah sepatu bola dibelikan oleh orangtuanya. Hadiah yang sangat berarti, mengingat ekonomi keluarganya pada waktu itu. “Rp 15 ribu harganya. Belinya di (toko sepatu) Promeg. Pull-nya banyak sekali. Berat kalau dibuat main. Tapi saya senang sekali dapat sepatu itu,” kenangnya.
Saat ini, jangankan untuk membeli sepatu, sepak bola bisa menjadi penyokong ekonomi keluarga. Selain sudah menikah, Ferry pun juga kerap membantu orangtuanya yang hidup dari berjualan susu kedelai di pasar. “Makanya, saya selalu ingin menunjukkan yang terbaik saat bermain bola. Biar panjang karirnya,” tandasnya.
Sebenarnya, di musim ini Ferry hampir saja bermain untuk tim di Ngawi. Namun ajakan datang dari Wahyudi, pelatih kiper Persik Kediri untuk ikut seleksi.Mendapat tawaran itu, lulusan SMKN 1 Kediri ini langsung mengiyakan. “Sebelumnya saya nggak tahu kalau di Persik dibuka seleksi. Begitu diajak Mas Wahyudi, saya langsung mau. Apalagi kan dekat rumah,” ujar sambil menyunggingkan senyuman.
Beruntung, coach Dwi Priyo Utomo yang saat itu melatih Persik, melihat potensinya. Ia pun direkrut. Beroperasi di lini serang, pemain bernomor punggung 21 ini pun dipercaya menempati posisi sayap.
Posisi yang sangat ketat persaingannya. Ada nama-nama seperti Arif Yanggi, Aziiz Al Ghany, dan Beni Oktovianto. Mereka sama-sama punya kecepatan. Hingga pemain seperti Septian Satria Bagaskara dan Alfian Agung yang juga bagus saat dimainkan sedikit melebar di lini serang.
Namun Ferry memang mencuri perhatian. Bukan hanya cepat, dia punya keistimewaan dalam hal agresivitas. Hal itu tampaknya cocok dengan pola permainan coach Bejo yang dikenal lugas. Duetnya di sektor sayap dengan Arif Yanggi yang dikenal dengan ‘Duo Fergie’, jadi pilihan utama pelatih. “Persaingan hal biasa dalam tim. Justru itu membuat saya termotivasi,” ujarnya menanggapi persaingan menjadi starter Macan Putih.
Editor : adi nugroho