Bagi sebagian perempuan, menjadi ibu sering kali dianggap sebagai akhir dari perjalanan mengejar mimpi. Namun, anggapan itu tidak berlaku bagi Ellyna Purwika.
Di tengah kesibukannya mengurus dua anak, dia membuktikan bahwa seorang ibu tetap bisa terus berkembang. Tanpa meninggalkan perannya di keluarga.
Perempuan kelahiran Kediri, 23 Mei 1989 tersebut mengawali perjalanan di dunia hairdo pada akhir 2023. Saat itu, ketertarikannya sebenarnya bukan pada tata rambut. Namun justru di dunia make-up artist (MUA).
Tetapi setelah mencoba mengikuti kelas make-up dan hairdo secara bersamaan, dia justru menemukan bahwa passion-nya berada di bidang hairstyling. “Aku awalnya pengen jadi MUA. Tapi setelah ikut kelas, ternyata lebih jatuh cinta sama hairdo. Rasanya lebih cocok di situ,” ujar Ellyna.
Dia kemudian mengikuti kursus hairdo di bawah bimbingan salah seorang hairstylist senior di Kediri. Baru tiga kali mengikuti pertemuan, Ellyna sudah diajak menangani klien wisuda. Kesempatan itu datang karena mentornya tengah hamil dan membutuhkan rekan untuk berbagi pekerjaan.
Meski mendapat kesempatan lebih cepat, Ellyna mengaku belum sepenuhnya percaya diri. Ia tidak langsung berani menerima klien begitu saja.
Sepulang kursus, ia menyewa model untuk berlatih di rumah. Mengulang berbagai teknik yang dipelajari di kelas, sekaligus memperkaya kemampuan melalui berbagai tutorial.
“Latihan terus di rumah. Sewa model, lihat referensi, belajar lagi. Jadi enggak langsung berani pegang klien,” katanya.
Rasa gugup pun selalu menghampiri ketika mulai menangani pelanggan pertama. Kekhawatiran hasil pekerjaannya tidak sesuai harapan klien terus menghantui pikirannya.
Namun perlahan rasa percaya diri tumbuh setelah banyak pelanggan kembali menggunakan jasanya.
“Awalnya pasti deg-degan. Takut klien enggak cocok sama hasilnya. Tapi setelah beberapa kali mereka repeat order, akhirnya saya lebih percaya diri,” ungkapnya.
Perjalanan baru itu dijalani saat usianya menginjak 35 tahun. Padahal dia sudah memiliki pekerjaan tetap di sebuah hotel di Kota Kediri yang telah digelutinya selama hampir satu dekade.
Bagi Ellyna, menjadi hairstylist bukan semata mengejar tambahan penghasilan. Ia mengaku memang tidak bisa berdiam diri di rumah. Berkarya menjadi cara untuk menyalurkan energi sekaligus mengembangkan diri.
“Aku memang enggak bisa diam. Lebih senang bikin sesuatu, berkarya, daripada cuma di rumah,” tuturnya.
Kesibukan Ellyna nyaris tak mengenal jeda. Seusai bekerja hingga larut malam di hotel, ia harus berangkat dini hari untuk menangani klien wedding atau wisuda. Setelah itu, ia pulang tepat saat kedua anaknya selesai sekolah.
Waktu itulah yang dimanfaatkannya untuk mendampingi belajar, makan siang bersama, hingga memastikan seluruh kebutuhan anak terpenuhi sebelum kembali bekerja.
Rutinitas tersebut terus berulang setiap hari. Meski waktu istirahatnya sangat terbatas, Ellyna tidak pernah menganggap kesibukan sebagai beban. Menurutnya, kunci utama adalah menikmati setiap proses dan mengatur waktu sebaik mungkin.
“Orang mungkin mikir kok bisa ya bagi waktunya. Tapi kalau dijalani ternyata bisa. Yang penting dinikmati,” kata Ellyna.
Dalam satu pekan, terutama saat musim pernikahan, Ellyna bisa menangani lebih dari sepuluh klien. Meski demikian, ia tetap membatasi maksimal dua pengantin dalam sehari agar dapat memberikan pelayanan terbaik. Jika jadwal bertabrakan dengan pekerjaannya di hotel, ia tidak segan merekomendasikan klien kepada rekan sesama hairstylist.
Menurutnya, sesama pelaku hairdo di Kediri justru saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. “Kami saling bantu. Kalau saya enggak bisa, saya lempar ke teman. Jadi sama-sama berkembang,” ujarnya.
Di balik kesibukannya, Ellyna tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia mengaku beruntung memiliki suami yang juga berperan aktif mengasuh anak.
Sang suami yang berprofesi sebagai guru membantu mengantar anak sekolah maupun mengikuti berbagai aktivitas. Sementara Ellyna memastikan kebutuhan makan, belajar, dan perhatian untuk anak-anak tetap terpenuhi.
Baginya, menjadi ibu bukan berarti harus mengorbankan seluruh impian pribadi. Justru seorang ibu bisa menjadi contoh nyata bagi anak-anak tentang arti kerja keras.
Ia sengaja memperlihatkan kepada kedua buah hatinya bahwa semua kenyamanan yang mereka rasakan berasal dari usaha, bukan datang begitu saja.
“Saya ingin anak-anak tahu kalau hidup itu enggak selalu mudah. Apa yang mereka nikmati sekarang didapat dari kerja keras ayah dan bundanya,” kata Ellyna.
Baca Juga: Sosok Fathimah Azzahra, Wakil Ketua BEM UI yang Lantang Kritik Program MBG
Nilai itu juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ellyna tidak membiasakan anak meminta sesuatu lalu langsung dipenuhi. Sebaliknya, ia memberikan tugas-tugas sederhana di rumah dengan imbalan layaknya upah agar anak belajar bahwa setiap hasil membutuhkan usaha.
“Kalau mau beli jajan, ya kerjakan dulu tugas di rumah. Nyapu misalnya, nanti saya kasih uang. Jadi mereka belajar kalau ingin mendapatkan sesuatu harus bekerja dulu,” jelasnya.
Semangat bekerja keras sebenarnya telah tertanam sejak remaja. Saat masih duduk di bangku SMA, Ellyna sudah mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Bersama kedua adiknya, ia berjualan pecel di pasar setiap akhir pekan. Hasilnya digunakan untuk uang saku hingga membayar berbagai keperluan sekolah.
Kini, di usia 37 tahun, Ellyna terus menjalani tiga peran sekaligus. Yakni sebagai ibu bagi dua anak, karyawan hotel, dan hairstylist profesional. Di tengah padatnya aktivitas, ia ingin mematahkan anggapan bahwa perempuan yang telah berkeluarga harus berhenti berkembang.
“Menurut saya, seorang ibu bukan cuma mengurus rumah. Ibu juga bisa berpengetahuan, berkarya, menghasilkan sesuatu, dan yang paling penting menjadi inspirasi bagi anak-anaknya,” pungkasnya. (muhamad asad muhamiyus sidqi/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita