Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kreativitas Memukau! SMAN 7 Kota Kediri Juara Umum Mading 3D, MAN 1 Kota Kediri Raih Best Creative

Ayu Ismawati • Kamis, 30 Oktober 2025 | 22:10 WIB
Siswa dari MAN 1 Kota Kediri, SMAK St Augustinus, SMAN 7 Kediri, dan SMAN 1 Kauman Tulungagung yang meraih juara beberapa kategori lomba mading dalam School Contest GenZverse 2025
Siswa dari MAN 1 Kota Kediri, SMAK St Augustinus, SMAN 7 Kediri, dan SMAN 1 Kauman Tulungagung yang meraih juara beberapa kategori lomba mading dalam School Contest GenZverse 2025

Persaingan di ajang lomba mading 3D tingkat SMA berlangsung sangat ketat, dengan berbagai inovasi dan kreativitas yang ditampilkan peserta. SMAN 7 Kota Kediri berhasil meraih gelar Best Overall berkat penampilan komprehensif di semua aspek. MAN 1 Kota Kediri menyabet Best Creative 3D dengan ikon Dewa Ganesha yang unik dan layout menyerupai meja belajar. Ponpes Matlabus Salik Nganjuk menonjol lewat liputan langsung industri batik hingga meraih Best Content. Adapun SMAK St. Augustinus memenangkan Best Performance dengan mading interaktif bertajuk “Lentera Aksara”. Kategori Best Mascot dimenangkan oleh SMAN 1 Kauman Tulungagung, yang datang dari luar kota dengan semangat tinggi meski menghadapi padatnya jadwal lomba. Ajang ini tak hanya memamerkan kreativitas visual, tapi juga semangat literasi, kolaborasi, dan inovasi pelajar   ***

Persaingan ketat mading 3D sangat terlihat di kelompok SMA. Semua peserta ingin menunjukkan karya terbaiknya. Praktis, membuat para penilai harus jeli mencermati.

Di setiap level, ada empat kategori yang diperebutkan. Mulai dari best creative 3D, best content, best performance, hingga best overall yang diperoleh SMAN 7 Kota Kediri.  

Untuk Best Creative 3D SMA direbut MAN 1 Kota Kediri. Mading dengan ikon Dewa Ganesha itu dengan mudah menarik perhatian pengunjung. Tim mading dari madrasah aliyah ini mampu menerjemahkan tema ‘Literasi’ dengan kreatif. Alih-alih menggunakan simbol pengetahuan yang umum seperti buku atau bola dunia, mereka memilih dewa simbol pengetahuan itu sebagai ikon mading mereka.

“Awalnya tim mading memilih tema yang terlalu cari aman. Yaitu pohon dan bola dunia. Tetapi dari pembina mading menyarankan agar diganti menjadi Dewa Ganesha. Lalu setelah tim mading dan pembina menyetujui, kami langsung eksekusi,” ujar anggota tim mading MAN 1 Kota Kediri Muhammad Ibrahim Al-Hafid.

Menurut pelajar kelas 12 itu, ide yang diangkat terlalu berani. Itu justru menurutnya menjadi keunggulan dari mading mereka. Termasuk dengan adanya ornament buku pop-up yang bisa bergerak sendiri. Semuanya dikemas dengan layout seolah seperti meja belajar.

“Selama pengerjaan mading, jadwalnya sempat bertabrakan dengan kegiatan lain seperti SKAL dan TKA. Sehingga membuat tim mading sempat kurang maksimal dalam mengerjakan,” ungkapnya.

Selain MAN 1 Kota Kediri, tim mading dari Ponpes Matlabus Salik Nganjuk juga berhasil membawa pulang gelar, yaitu Best Content. Rubrikasi yang diisi dengan hasil liputan mereka di tempat produksi batik berhasil mengantarkan mereka pada gelar juara di kategori tersebut.

“Untuk konsep penulisan konten memang kami utamakan liputan langsung. Dan kami mengangkat industri batik yang kebetulan juga berada di dekat pondok pesantren kami,” ujar Dewi Syari’ah Al-Fathimiyah, anggota tim mading dari Ponpes Matlab.

Dari liputan langsung itu, mereka bisa mendapat banyak pengetahuan baru seputar batik. Mulai dari sejarah, filosofi, inovasi, macam motif batik, hingga sosok inspiratif di balik pembuatan batik. Itu yang akhirnya dituangkan dalam karya-karya tulisan di setiap sudut mading 3D mereka. Liputan langsung yang dilengkapi dengan karya-karya foto orisinil itu agaknya menjadi pertimbangan tim juri memilih mereka sebagai juara di kategori ini.

“Dari pengerjaan mading ini kami jadi tahu bahwa batik itu bisa dibuat dengan pewarnaan alami yang ramah lingkungan. Mulai dari getah daun pisang sampai daun jambu. Selain itu, prosesnya juga bisa dilakukan dengan memanfaatkan limbah kertas seperti di batik cap,” ungkapnya,.

Di kategori Best Performance, ada SMAK St. Augustinus yang terpilih sebagai juara. Mading 3D dengan judul ‘Lentera Aksara’ itu berhasil menarik perhatian tim juri. Mereka mengemas literasi dalam konsep yang kreatif. Salah satunya dari buku pop-up yang interaktif.

Seperti di salah satu halamannya, ada beberapa pertanyaan yang bisa dijawab oleh pengunjung mading. Pertanyaan itu bisa dibaca jika pengunjung menarik lembar kertas yang direkatkan di sana. Adapun konsep interaktif itu dapat ditemui di hampir seluruh komponen mading. Tak hanya di bagian depan, namun juga di kiri dan kanannya yang bisa dimainkan pengunjung untuk membuka lebih banyak kejutan-kejutan yang tersembunyi.

“Kami ingin memberikan pengalaman visual yang hidup. Termasuk saat kami membuat mata di objek manusia pada mading dapat berkedip dan buku penuh dengan pop-up yang bisa dibuka halamannya untuk menambah unsur interaktif ke pembaca,” ujar Nadine Valentine Robin, anggota tim mading SMAN St Augustinus.

Sehingga, mading yang mereka hadirkan tak hanya indah dilihat. Melainkan juga komunikatif dan kaya makna. Mading yang mereka selesaikan dalam waktu dua bulan itu juga melalui banyak tantangan dalam prosesnya. Khususnya menyamakan persepsi antaranggota. Hingga lembur untuk menyelesaikan mading.

“Prosesnya ini cukup panjang dan melelahkan. Tetapi orang-orang di dalamnya membuat proses menjadi sangat menyenangkan. Saya bersyukur bisa berada dalam satu tim dengan anggota tim lainnya,” tandasnya.

Selain itu, ada pula kategori Best Mascot yang dimenangkan oleh SMAN 1 Kauman Tulungagung. Yulya Dwi Mawarny, ketua tim mading SMAN 1 Kauman bersyukur dengan capaian itu. Prestasi itu merupakan hasil kerja keras tim yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk berpartisipasi di kompetisi ini. Apalagi, mereka jauh-jauh datang dari Tulungagung untuk ikut berkompetisi di Convention Hall Simpang Lima Gumul.

“Karena ada beberapa lomba yang bebarengan, kami sempat bingung bagi waktunya. Akhirnya kami bagi-bagi dalam beberapa tim biar bisa fokus di masing-masing lomba. Termasuk di School Contest ini,” ujar Yulya.(*)

Editor : Jauhar Yohanis
#school contest radar kediri #mading