Di masa ketika layar lebih sering disentuh daripada halaman buku. Gen Z berdiri di simpang nyata dan maya. Di tengah derasnya arus digital, masih ada kami yang menelusuri makna lewat huruf dan kata.
Aku aktif di klub kepenulisan sekolah dan sering ikut serta dalam workshop literasi yang diselenggarakan dinas pendidikan setempat. Aku belajar teknik menulis serta berbagi metode agar teman sebaya lebih tertarik membaca. Hasilnya terasa nyata. Kini tiap pertemuan klub, selalu ada siswa yang berbagi tulisan dan menginisiasi sesi baca.
Literasi tidak selalu dari buku tebal. Ia bisa lahir dari pertemuan kecil yang menghidupkan rasa ingin tahu. Ketertarikanku pada dunia literasi tumbuh seiring waktu, bukan karena tugas sekolah, melainkan karena kebutuhan untuk memahami diri sendiri. Dari sekadar gemar membaca dan menulis, aku mulai membuat karya tulis yang membawaku menorehkan penghargaan.
Tapi, yang paling berarti justru kesadaran kalau literasi bisa membuat perubahan kecil yang terasa. Sebagai Student Ambassador Kemenpora RI & Komib Fair 2024, diriku belajar bahwa literasi bukan hanya soal akademik, tapi juga sosial dan emosional. Literasi mengajarkan empati, kemampuan memahami orang lain, dan keberanian menyampaikan gagasan dengan hati-hati. Dalam berbagai forum nasional, aku sering melihat semangat teman-teman sebaya yang tinggi, namun terhambat karena terbatasnya ruang ekspresi.
Aku mulai beraksi bukan lewat teori, tapi lewat langkah nyata. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Kutipannya mengingatkanku bahwa menulis bukan hanya menyalin kata, tapi menyalakan makna.
Aku mengobrol dengan Arista yang gemar membuat puisi. “Menurutku, literasi itu bukan cuma soal baca buku,” katanya. “Tapi soal memahami hidup. Awalnya aku menulis hanya untuk tugas, tapi setelah sering berbagi cerita denganmu, aku merasa tulisan itu rumah untuk kembali,” ujarnya.
Ucapannya terdengar sederhana, tapi meninggalkan jejak dalam pikiran. Bagi dirinya, literasi adalah langkah pulang menuju jati diri. Sedangkan bagi sebagian lain, membaca dan menulis ialah jendela mengenal dunia yang lebih luas. Tak lama setelah itu, aku bertemu Sabrina, teman sebaya yang aktif di ranah digital. Ia tersenyum kecil kala aku menanyakan soal kebiasaan membaca. “Aku jarang baca buku cetak,” ujarnya.
“Tapi, aku suka dengerin podcast dan baca thread reflektif di media sosial. Literasi zaman sekarang itu fleksibel yang penting pesannya nyampe dan bikin kita mikir.” katanya. Kedua pandangan itu menyadarkanku bahwa literasi di kalangan Gen Z tak bisa diseragamkan. Literasi digital hari ini tidak lagi sekadar membaca teks, tetapi juga kemampuan menyaring informasi dan memahami makna.
Hidup di era digital dan di sanalah literasi menemukan bentuk barunya. Dari kertas ke layar, dari pena ke konten, dari paragraf ke video dengan nilai yang disampaikan, di situlah literasi hidup. Minat baca pelajar Indonesia naik 7,4% karena meningkatnya akses literasi digital, berdasarkan data Perpustakaan Nasional 2024. Literasi tidak meredup, melainkan bertransformasi dari teks panjang menjadi ragam ekspresi baru.
Di balik kemajuannya, tantangan tetap nyata. Gaya hidup instan membuat banyak pelajar lebih sering menyapu layar ketimbang membuka lembaran buku. Diriku pernah di fase tersebut hingga suatu saat tersadar jika kehilangan minat baca berarti kehilangan daya pikir. Sejak itu, komitmen pribadi terbuat satu hari, satu bacaan dan satu minggu, satu tulisan.
Rutinitas sederhana yang menumbuhkan hal besar, Kini, setiap kali menulis, aku tahu yang kutulis bukan sekadar kata, tapi pesan untuk menghidupkan lagi kesadaran jika literasi adalah fondasi peradaban. Melalui perjalanan ini, aku ingin turut menjadi generasi yang menyalakan literasi, bukan sekadar memperbincangkannya. Karena sejatinya literasi bukan tentang siapa yang paling mahir menulis, melainkan siapa yang paling ikhlas mengerti arti kehidupan.
Setiap huruf bisa menjadi cahaya jika ditulis jujur dan di antara ribuan cerita yang lahir dari tangan Gen Z, akan ada satu kalimat yang mampu mengubah dunia. Kami bukan hanya penerus peradaban, tetapi juga penciptanya. Serta, melalui literasi, kami sedang menulis ulang arti menjadi muda di zaman yang serba cepat ini.
Generasiku bukan generasi yang kehilangan arah. Kami hanyalah generasi yang tengah menjemput makna baru di balik layar dan literasi menjadi cahaya yang menuntun kami berpikir kritis. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditulis oleh tinta di atas kertas, tapi oleh kesadaran generasi muda yang memilih untuk berpikir dan berbagi makna. (Ervina Putri Mulia)
Editor : Andhika Attar Anindita