Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gen Z Tidak Hanya Melek Digital tapi Perlu Berpikir Kritis

Redaksi Radar Kediri • Rabu, 22 Oktober 2025 | 13:00 WIB
Ilustrasi wawancara.
Ilustrasi wawancara.

“Ini ya, banyak dari Gen Z itu lebih mudah untuk buka situs, web, atau media yang sifatnya menghibur, daripada mencari informasi atau berita yang valid,’’ ucap Bu Rima, guru sosiologi saya sekaligus Gen Z yang saat ini berusia 27 tahun.

Bu Rima bercerita, saat kuliah dulu, banyak dari teman-temannya yang saat itu aktif dalam menggunakan media sosial karena mereka tidak ingin tertinggal dari tren yang ada. Untungnya, saat itu Bu Rima tidak terlalu tertarik menggunakan media sosial, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan bersama temannya atau membaca buku.

Seluruh Gen Z di dunia tumbuh sebagai digital natives, walaupun mereka lahir dan tumbuh bersama teknologi, bukan berarti tidak mungkin bagi mereka kesulitan dalam mengahadapi era digital seperti saat ini. Pada era digital ini banyak dari Gen Z menggunakan teknologi sebagai alat bantu mereka.

Kebanyakan dari mereka menginginkan segala sesuatu serba cepat, dan instan. Hal ini menyebabkan banyak dari mereka hanya tahu soal bagaimana teknologi itu digunakan dan dioperasikan. Mereka juga masih kurang mampu menggunakan teknologi secara baik dan bijak, serta belum sepenuhnya paham bagaimana menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.

“Waktu SMP, aku dan temanku pernah menerima berita hoaks, dan berita itu membuat banyak orang panik, padahal berita itu belum dicek faktanya” Aika bercerita, banyak dari temannya percaya informasi karena viral atau turut menyebarkan informasi tanpa tahu dampaknya. Ternyata, literasi digital masih menjadi tantangan bagi Gen Z.

Saat ini 28% populasi di Indonesia adalah Gen Z. Mereka tumbuh di era digital yang membutuhkan literasi lebih mendalam “era seperti ini lo, yang menuntut mereka untuk bisa berpikir kritis, tidak hanya soal mengonsumsi informasi tapi juga soal bisa memahami dan mengevaluasi informasi secara mendalam,” katanya. Aika seorang siswa kelas X sekaligus Gen Z kelahiran 2009, mengatakan “Inilah alasan literasi digital harus ditingkatkan dan membangun pola pikir kritis pada Gen Z saat ini.”

Dari wawancara, Aika menjelaskan bahwa “dari literasi kamu akan tahu gimana cara dunia itu bekerja, dengan literasi juga akan membuka pikiranmu untuk jadi pribadi yang lebih maju dan jadi punya pemahaman yang luas dari apa yang kamu baca. “Bu Rima memperjelas, “meningkatkan literasi akan bantu kita untuk tahu bagaimana cara berpikir kritis dalam dunia digital.”

Disinalah pentingnya berpikir kritis dalam literasi digital, tanpa memiliki pola pikir kritis akan menyebabkan para Gen Z hanya sebagai pengguna teknologi pasif mereka akan mudah terpengaruh, tidak mandiri, dan tidak memiliki tanggung jawab yang besar dalam penggunaan teknologi.

Aika menutup wawancara dengan kalimat “Kalau kamu pengen jadi orang yang up to date kamu juga perlu literasi, terserah mau literasi digital, literasi baca tulis, literasi sains, yang jelas dengan literasi kamu akan melihat dunia dan melatih otak untuk berpikir kritis.” Bu Rima memperjelas, “Berpikir kritis itu penting, biar kita nggak asal dalam menerima informasi secara mentah-mentah.”

Bu Rima dan Aika merupakan sebagian Gen Z yang gemar literasi. Sebelum pembelajaran dimulai Bu Rima akan memberikan waktu pada peserta didiknya untuk membaca dengan durasi waktu 5-10 menit, ternyata hal ini membantu mereka untuk memahami pembelajaran dengan baik. Dan Aika sering kali meluangkan waktunya untuk membaca. Aika kenal jejak digital, dan Aika membangun opini berdasarkan data, bukan asumsi.

Meningkatkan literasi digital bukan cuma soal tahu cara pakai gadget, tapi juga tahu bagaimana kita bisa berpikir kritis, beretika, dan bertanggung jawab. Meningkatkan literasi digital akan meningkatkan pola pikir, mengolah informasi, dan meminimalisir penyalahgunaan teknologi digital, yang menciptakan generasi cerdas, beretika, kaya informasi, kritis serta bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. (Olivia Wahyu Abdillah)

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kritis #Gen Z #digital