Di tengah ramainya kendaraan baik itu roda dua dan empat, berdiri monumen megah yang mengubungkan lima wilayah sekaligus, tidak heran mengapa monumen ini sering kali menjadi daya tarik tersendiri.
Di setiap bagian dinding terdapat penggambaran cerita Sejarah kehidupan masyarakat kediri dalam bentuk ukiran relief dan menjadi simbol keterkaitan dengan monumennya yang bergaya klasik.
Monumen yang dimaksud kali ini sangatlah menarik karena ketika di sana serasa di negeri Paris-Prancis. Monumen lokal ini terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Berada di pertemuan lima jalan utama, sehingga termasuk tempat yang strategis karena mengapit dan diapit wilayah Plosoklaten, Pagu, Wates. Monumen ini memiliki sebutan yaitu SLG (Simpang Lima Gumul) yang menjadi ikon Kabupaten Kediri.
Hal ini dikarenakan pembuatan SLG (Simpang Lima Gumul) ternyata terinspirasi dari Monumen Arch de Triomphe. Alasan mengapa bisa terinspirasi adalah pertama karena pusat pertemuan jalan yang menghubungkan banyak jalan utama.
Kedua, monumen memang di sengaja dibuat besar dan megah karena agar menjadi daya tarik tersendiri. Arch de Triomphe bermakna gerbang kemenangan yang dibangun untuk merayakan sebuah keberhasilan maupun kemenangan. Menariknya lagi selain monumennya yang bergaya klasik, bentuk monumennya juga bernuansa kebarat-baratan. Karena sudah seperti Gerbang Kemenangan nya Paris, tetapi versi Kediri.
Monumen ini juga menawarkan pemandangan yang indah disetiap waktunya, saat matahari terbit, ataupun saat sore hari di saat matahari terbenam. Tetapi di saat senja itu paling bagus karena memiliki kesan tersendiri bagi masing-masing orang.
Jarang ada yang tahu bahwa Simpang Lima Gumul itu dibangun pada tahun 2000-an, Yaitu tepatnya tahun 2003 dan berdasarkan atas ide Bupati Kediri waktu itu yaitu H. Sutrisno yang ingin membuat satu simbol pusat perekonomian yang berkesan dan dapat dijadikan satu objek wisata karena Kediri wilayahnya masih terpisah-pisah pada waktu itu dan membutuhkan sebuah hal yang bisa menyatukan semua wilayah.
Dari situlah muncul ide untuk membangun monumen megah yang pada akhirnya selesai sekitar tahun 2008 dan sampai Sekarang monumen megah itu bukan hanya sekadar menjadi kebanggaan warga Kediri, tetapi juga menjadi tempat wisata yang selalu ramai didatangi oleh banyak orang dari kalangan anak-anak, remaja, orang dewasa, ataupun orang tua.
Gemerlap Cahaya setiap kendaraan yang berlalu Lalang mengelilingi bundaran SLG di saat malam hari menambahkan kesan kehidupan malam hari di Kediri begitu menakjubkan. Biaya parkir juga tergolong terjangkau bila kamu ingin berkunjung ke sana, terkhusus kendaraan bermotor hanya memakan biaya sebesar Rp2.000 di hari senin - sabtu dan Rp3.000 di hari minggu.
Di sana juga tersedia spot foto yang menarik, salah satunya adalah jembatan bawah tanah yang mengubungkan ke tempat kubah Simpang Lima Gumul dengan tempat parkir, jika berfoto di sini kesannya terasa seperti di museum-museum.
Selanjutnya ada area depan kubah monumen, gemerlap cahaya dari lampu monumen, penerangan jalan, dan dari pengendara, memberikan penerangan yang nyaman serta berkilau.
Jika berfoto di kubah monumen sering kali cocok dengan waktunya meski di pagi, siang, sore, dan malam hari, apalagi tempatnya yang berasa seperti di bangunan Gerbang Kemenangan Paris-Prancis.
Disediakan pula fasilitas seperti toilet, jalan akses bawah tanah yang menuju kubah SLG seperti T1, T2, T3, T4. Toilet umumnya juga tersedia baik toilet umum perempuan maupun laki laki, tetapi tidak tersebar di semua tempat akses bawah tanah. Hanya ada di bagian ruang T1 (timur) yang menghubungkan monumen dengan area parkir utama, dan di T2 (selatan) yang menghubungkan monumen dengan area taman.
Tetapi bila ruangan yang tersisa seperti T3 (barat laut), area ini tidak memiliki toilet, dan menghubungkan area monumen dengan area UMKM dan kuliner, tetapi bila di ruang T4 (barat daya) sama hal nya dengan T3 (barat laut) tempat ini juga tidak memiliki toilet, tetapi menghubungkan jalur kubah dengan area plaza dan panggung luar.
Simpang Lima Gumul bukan hanya menjadi tempat khas yang ada di Kediri saja, tetapi selain itu monumen ini juga menjadi simbol persatuan kebanggaan daerah berdasarkan sudut pandang masyarakat sekitar.
Tempat ini juga pusat dari berbagai aktivitas seperti olahraga, nongkrong, makan, dari kalangan anak-anak hingga lansia, maka tidak heran banyak pengunjung yang mengunjungi monumen ini.
Bukan hanya menjadi tempat sosial, tetapi menjadi tempat berputarnya roda ekonomi karena banyak yang berdagang disana, serta pembeli yang ingin membeli beberapa barang atau makanan di sana.
Monumen ini juga nyaman untuk dibuat beraktivitas jadi kebanyakan yang berlibur dan berkunjung ke SLG semakin banyak, karena anak sekolah yang juga libur di hari minggu, menjadikan tempat ini semakin ramai dan sering dikunjungi. (RHISMA NOVIANTI)
Editor : Andhika Attar Anindita