Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kampung Lukis Ruslan: Dari Kuas Batu ke Wisata 3 Dimensi

Redaksi Radar Kediri • Senin, 20 Oktober 2025 | 19:39 WIB
Ruslan sedang melukis penggembala domba di rumahnya, Selasa (14/10). Semanagatnya menorehkan cat menjadi bukti keyakinan yang teguh.
Ruslan sedang melukis penggembala domba di rumahnya, Selasa (14/10). Semanagatnya menorehkan cat menjadi bukti keyakinan yang teguh.

Suara burung di pagi hari berpadu dengan aroma cat dari tembok-tembok yang penuh warna. Di sudut Desa Dawung, Kecamatan Ringinrejo, seorang pria paruh baya tampak sibuk membersihkan kuasnya.

Tangannya cekatan, matanya tajam menatap setiap detail warna. Dialah Ruslan, sosok di balik lahirnya Kampung Lukis Ruslan, destinasi wisata 3D yang kini menjadi kebanggaan Kabupaten Kediri.

Namun, sebelum menjadi seniman yang dikenal luas, Ruslan adalah seorang tukang batu. Profesi keras itu ia jalani di usia muda demi bertahan hidup “Tapi setiap kali lihat tembok kosong, saya ingin menggambar. Seolah-olah tembok itu memanggil saya.”

Semangat itu tak pernah padam. Di sela-sela pekerjaan fisiknya, Ruslan tetap melukis dengan alat seadanya. Hingga akhirnya, ia memutuskan meninggalkan sekop dan batu untuk mengejar panggilan hatinya: menjadi pelukis sejati.

Baca Juga: Menulis di Tengah Gempuran Layar: Kisah Jurnalis Muda MTsN 5 Kediri Menjadikan Literasi sebagai Gaya Hidup

Ia merantau ke Surabaya, ngawulo pada pak Sochieb, pelukis senior yang kini telah tiada. Ia menyiapkan alat lukis, memasang kayu pigura sekaligus memperdalam teknik seni naturalis—gaya yang kelak menjadi ciri khas karyanya.

Setelah 4 tahun, Ia pulang ke Kediri. Ia membuka rumahnya sebagai tempat berkumpul para seniman dari Kediri, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, hingga Jombang. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Kampung Lukis Ruslan.

Awalnya hanya menjadi basecamp sederhana untuk berdiskusi dan berbagi ide seni. Namun, satu usulan kecil dari teman-teman seniman mengubah segalanya: “Bagaimana kalau tempat ini sekalian dijadikan sanggar lukis?”

Dari ide itu, lahirlah kelas melukis bagi anak-anak PAUD hingga  terbuka untuk umum. Tiba-tiba pandemi Covid-19 melanda dan sempat memaksa sanggar lukis berhenti, tetapi Ruslan tak menyerah. Justru di tengah situasi itu, muncul gagasan baru: menjadikan sanggarnya sebagai wisata lukis tiga dimensi.

Baca Juga: Sumber Mata Air Sugihwaras, Aliran Air yang Menyembuhkan Luka Sunyi dan Mendalam

“Awalnya cuma iseng,” ujar Ruslan sambil tersenyum. “Tapi lama-lama, banyak yang datang untuk berfoto dan belajar melukis. Dari situ saya sadar, seni bisa menjadi daya tarik wisata.”

Mendirikan wisata berbasis seni bukan hal mudah. Tantangan pertama datang dari kreativitas. Lukisan 3D membutuhkan ide-ide segar dan perhitungan perspektif yang rumit. Tantangan kedua adalah biaya produksi. Cat, bahan dinding, dan alat lukis bukanlah hal murah.

“Kalau orang lain melihat tembok, saya melihat kanvas besar,” ujarnya mantap. “Saya percaya, kalau ide itu muncul, insyaAlloh bisa dijadikan lukisan.”

Perjuangan itu mulai membuahkan hasil. “Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri memberikan dukungan. Mereka sering ke sini dan melihat potensi Kampung Lukis Ruslan sebagai destinasi wisata lukis.  Dan Mas Dito meresmikan Kampung Lukis Ruslan ini pada tanggal 22 September 2023“ kata Ruslan. 

Lukisan sawah, hewan peliharaan, potret petani dan tokoh masyarakat menghiasi kanvas di rumah Ruslan. Setiap sudut menjadi ruang bersatunya antara alam, seni, dan kehidupan sehari-hari. Inilah yang menjadi keunikan Kampung Lukis Ruslan, Tema naturalis yang dekat dengan kehidupan masyarakat menjadi ciri khasnya. 

“Melukis itu mengajari anak-anak mengenal dan membedakan warna ,” kata Ruslan. Karena itu, ia terus membuka kelas lukis bagi anak-anak desa sekitar. Banyak di antara mereka kini sudah berani ikut lomba melukis di sekolah hingg tingkat kabupaten.

Berkat lukisannya, Ruslan dikenal tokoh masyarakat. Beberapa anggota dewan memesan lukisan, tokoh publik seperti Gus Kautsar datang secara personal. Dari situ, komunikasi berkembang menjadi kerja sama formal, yang akhirnya membuka peluang besar bagi sanggar.

Kampung Lukis Ruslan kini sering diundang untuk mengikuti pameran di acara-acara besar, seperti Hari Jadi Kediri di Simpang Lima Gumul dalam event Kuno Kini. Bahkan, Ruslan pernah membawa nama Kampung Lukis dalam kegiatan melukis bersama di Pacitan.

Baca Juga: Wayang Timplong Bercerita: Dari Panji ke Semangat Anak Negeri

Kerja sama itu menunjukkan bahwa seni bisa menjadi jembatan sosial dan ekonomi. Dari desa kecil di Kediri, kini nama Kampung Lukis Ruslan dikenal di berbagai daerah.

Kini, Kampung Lukis Ruslan bukan hanya galeri seni, melainkan ruang inspirasi. Tempat ini mengajarkan bahwa perjuangan berasal dari keyakinan kecil yang terus menyala. Setiap kanvas di sana adalah saksi perjalanan seorang tukang batu yang menukar batu dengan kuas, keringat dengan warna, dan kelelahan dengan keindahan.

“Dulu tangan saya kapalen karena batu, sekarang tangan ini belepotan cat. Saya tetap semangat.” ucap Ruslan rendah hati.

Kampung Lukis Ruslan telah membuktikan: Dari desa, inspirasi itu mengalir—ke Kediri, ke Jawa Timur, dan mungkin, suatu hari nanti, ke seluruh Indonesia. (ELOK WAHYU FARIDA)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kampung #wisata #kuas #3 dimensi #lukis #batu